Think & Write

Thursday, August 28, 2008

Kindness in March

MENOLAK KEBAIKAN
Sabtu, 1 Maret 2008
Markus 10:17-27
” ... Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. ”

Seorang murid telah menamatkan pelajarannya dan sudah saatnya sang guru melepaskannya menuju kehidupan nyata untuk menerapkan pelajaran-pelajaran yang telah diterimanya. Sang guru menasehatinya, "Aku rasa pelajaran yang telah kau terima dariku sudah cukup untuk kau terapkan, anakku. Satu hal yang harus kau ingat bahwa kebaikan hati ada pada setiap makluk. Tanamkan itu di hatimu."
Maka berangkatlah pemuda itu meninggalkan gurunya dengan sebuah keyakinan diri berbekal nasehat sang guru. Setelah berjalan beberapa lama, sang pemuda sampai pada sebuah desa yang ternyata dalam keadaan porak-poranda karena seekor gajah sedang mengamuk. Penduduk desa itu berusaha keras mengusir gajah yang sedang mengamuk itu namun segala usaha yang dilakukan ternyata sia-sia.
Melihat kejadian tersebut, si pemuda turun tangan. Dia melangkah dengan tenang menghampiri gajah yang sedang mengamuk itu. Melihat pemandangan yang ganjil itu beramai-ramai penduduk desa berteriak, "Hai pemuda, pergilah dari sana kalau kau tidak mau celaka!" "Tenanglah, aku yakin kebaikan hati masih ada pada diri gajah ini." Dia menjawab teriakan itu dan orang-orang yang berteriak itu menggelengkan kepalanya dengan heran.
Beberapa saat kemudian gajah itu menghampiri si pemuda karena merasa tertantang dengan keberanian sang pemuda. Pemuda itu berdiri dengan tenang di hadapan gajah. Pemandangan ajaib terjadi. Gajah yang tadinya mengamuk tiba-tiba tenang. Namun ketika pemuda itu ingin memegang belalai gajah itu, sang gajah mengamuk lagi. Pemuda itu terlempar jatuh jauh dari tempat itu dan tidak mampu berdiri. Rupanya salah satu tulang kaki dan punggungnya patah. Melihat kejadian tersebut, penduduk desa beramai-ramai menolong pemuda itu, sedangkan sang gajah menghilang entah ke mana. Ketika telah sembuh dari patah tulangnya, pemuda malang itu kembali ke-kediaman sang guru dan menjelaskan bahwa ia celaka karena keyakinannya bahwa kebaikan hati ada pada setiap makhluk. Sang guru tersenyum dan berkata, ” anakku, mengapa kau tidak melihat kebaikan hati penduduk desa yang telah memperingati bahwa gajah itu berbahaya. ?"
Kita sering mengabaikan begitu saja kebaikan hati orang lain yang ingin menolong kita hanya karena ego, kita merasa yakin bahwa kita tidak butuh pertolongan dari orang lain. Pemuda di atas adalah gambaran dari saya dan sebagian besar dari kita, seorang yang telah mendapatkan pengetahuan luas namun tetap saja dia tidak bisa meninggalkan egonya sebagai manusia dan menganggap diri mampu melakukan segala sesuatu sehingga tidak membutuhkan uluran tangan kebaikan orang lain. Kisah ini mengingatkan saya akan kisah di dalam Markus 10:17-27 tentang seorang pemuda yang kaya raya tetapi kemudian ketika Tuhan Yesus menawarkan kebaikan hati-Nya ternyata pemuda ini menolak, karena ia menganggap dirinya seorang yang kaya dan tidak membutuhkan pertolongan Tuhan. Heemmm.... sungguh menyedihkan. ( zoe )
Refleksi : Setiap orang butuh pertolongan dari orang lain, menerima kebaikan hati orang lain tidak menjadikan kita orang yang kalah.

























8 KEBOHONGAN SEORANG IBU
Minggu, 2 Maret 2008
Efesus 6:2-3
” Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting... ”

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke piringku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" ----------KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN. Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu atas kebaikan hatimu sampai sekarang kepada anak-anakmu. ”
( unknown )

HARI KELIMA DAN KEENAM
Senin, 3 Maret 2008
Bible Background

TUHAN memandang betapa keindahan itu masih harus diperlengkapi dengan berbagai bentuk mahluk hidup yang bergerak. Ingat tanaman hanya terpancang diam di tempatnya. Maka Allahpun membuat berbagai macam keindahan melalui burung-burung yang beterbangan di udara. Juga segala ikan dan penghuni laut yang berkeriapan dan meramaikan laut ciptaanNya, perpaduan yang sungguh indah dan menakjubkan.
Satu hal yang hari ini disadari adalah:
1. Burung selalu yang jantan yang memiliki bulu paling indah, contoh: merak, cendrawasih, dll.
2. Serangga selalu yang betina yang memiliki ukuran tubuh lebih besar daripada yang jantan & bentuknya lebih indah, begitu pula dengan binatang melata/amphibi.
3. Ikan dan segala keragaman mahluk laut memiliki keunikan-keunikan yang menakjubkan, misal: kuda laut jantan yang mengandung anak, kissing fish jantan yang menyimpan telur hingga menetas dalam mulutnya, dsb.
Perhatikan bahwa Alkitab tidak mempunyai kesan adanya dinosaurus, bahkan yang menguasai bumi sekalipun. Ini adalah rekayasa orang-orang ateis atau penyembah setan yang mencoba menghadirkan monster untuk dikaguni dan disenagi daripada ciptaan Allah yang jelas-jelas lebih indah. Allah memberikan kuasa kepada mereka semua untuk berkembang biak dan memenuhi bumi. Ingat pada waktu itu semua mahluk makan dari hasil tanaman, masih belum berlaku karnivor. (bnd. Kej.1:30-31)
Lalu Allah menambahi lagi dengan hewan-hewan lainnya pada hari berikutnya untuk memperlengkapi keindahan ciptaanNya. Berbagai macam bentuk, warna kulit dan bulu yang menakjubkan yang membuat pemandangan dunia menjadi sangat memikat hati. Allah mendandani semua itu dengan penuh antusias.
Sebagai puncak dari segala pekerjaanNya maka Allah merancang mahakaryaNya yang paling hebat, manusia. Perhatikan bahwa untuk yang satu ini DIA memperlakukan secara khusus:
1. Allah memakai bahan dasar yaitu debu tanah.
2. Allah menggunakan tanganNya untuk mengerjakan bukan memakai firmanNya.
3. Allah mengubah debu tanah menjadi tubuh manusia yang luar biasa dengan kuasaNya.
4. Allah meniupkan nafas kehidupan dari mulutNya.
Semua itu mempertunjukkan bahwa DIA sangat mengasihi dan menyayangi manusia sebagai ciptaanNya yang khusus. Bahkan menu makanan manusia juga ditetapkannya yaitu segala buah dan biji-bijian dari tanaman ciptaanNya.

Penekanan Pengajaran
Mengajar para siswa menyadari betapa kasih Tuhan terhadap manusia sungguh besar dan luarbiasa. Maka sepatutnya kita bersyukur dan belajar hidup untuk memuliakan DIA.



























YANG PENTING ISI BUKAN KULIT
Selasa, 4 Maret 2008
I Samuel 16:1-13
Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata,
tetapi TUHAN melihat hati

Tangela Brown menangis berulangkali sambil tak henti berdoa agar anak yang sedang dikandungnya lahir tidak hitam seperti dirinya. Ketika Nadjee lahir dan hitam, tak henti-henti Tangela menyesali. Lha, bagaimana mungkin Nadjee bisa berkulit lain jika ibu dan ayahnya berkulit hitam? Tapi jika Tangela sampai berdoa semacam itu, tentu kesakitan akibat perlakuan yang diterimanya sepanjang dia berkulit hitam benar-benar menusuk jantung. Tangela hanya satu dari beberapa tamu Mbak Oprah Winfrey yang datang untuk membahas betapa sengsaranya berkulit hitam. Acara ini dipicu oleh munculnya film video berjudul ”A Girl Like Me ”yang dibuat seorang remaja bernama Kiri Davis yang baru berusia 18 tahun, yang berisi rekaman sejumlah anak hitam di AS. Acara ini tayang di Metro tv suatu hari, jam 10 pagi.
Anak-anak itu direkam satu persatu dalam posisi duduk di depan sebuah meja yang diatasnya bergelimpangan beberapa boneka dengan berbagai warna kulit. Anak -anak itu menyodorkan boneka berkulit putih berambut pirang ketika ditanya boneka mana yang paling cantik? Seorang anak perempuan dengan ragu menyorongkan boneka berkulit hitam berambut keriting ketika Kiri bertanya boneka mana yang mirip dirinya? Kentara sekali si anak sangat malu mengakui bahwa dirinya mirip dengan boneka hitam yang keriting itu. Film video ini cukup menggegerkan Amerika karena ternyata setelah 50 tahun yang lalu dilakukan tes boneka yang mirip, persepsi tentang warna kulit yang baik' di mata masyarakat tidak berubah. Seorang artis pemenang Screen Movie Guide, Chandra Wilson, bercerita bahwa sewaktu berusia 6 tahun pernah mengikuti sebuah lomba kecantikan. Seorang peserta yang juga berusia sama (baca: 6 tahun!) berkata pada Wilson “ kamu tidak akan menang karena kamu hitam ”. Ketika Wilson memang akhirnya kalah, dengan menangis dia mengadu pada ibunya bahwa dia kalah karena hitam. Tapi ibunya yang hebat justru berkata, “cara memutarmu di panggung tak sama dengan cara yang diinginkan juri, makanya kamu kalah, bukan karena kamu hitam”.
Robin, psikolog langganan Oprah Winfrey Show, berkata bahwa keyakinan banyak wanita bahwa kulit hitam itu buruk dan kulit putih itu baik, seringkali diperoleh secara tak sengaja dari keluarga terdekat. Misalnya seorang nenek hitam wajahnya mendadak berseri jika yang datang seorang berkulit putih dan wajah sang nenek jadi biasa saja jika yang muncul cucunya yang hitam. Atau kata-kata tak sengaja yang terucap dari orangtua.
Sepertinya kita harus mulai memandang tiap tampilan yang ada di depan mata kita sambil bergumam “ yang penting isinya, bukan kulitnya. “ Saya kira sudah terlalu lama kita berkutat di seputar warna kulit tanpa bersedia menyelami isinya. Dalam I Samuel 16:1-13 juga dikisahkan bahwa apa yang dilihat manusia belum tentu berkenan kepada Allah tetapi yang dilihat oleh Allah adalah isi hatinya. Sebagai orang-orang percaya patutlah kita bersyukur bahwa Tuhan melihat isi hati, Ia melihat segala kebaikan hati yang dengan tulus kita lakukan untuk menolong dan membantu orang lain. Allah kita lebih mementingkan isi dari pada kulit. ( zoe )
Refleksi : Maka, mestinya kita bisa mulai menghormati orang yang memang pantas untuk dihormati tanpa peduli apapun warna kulitnya. Dan menghargai mereka !






















GADIS YATIM PIATU YANG DIASUH OLEH SEORANG SAUDAGAR
Rabu, 5 Maret 2008
Galatia 6:1-10
Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

Seorang gadis yang bernama Seada ini, datang ke rumah sakit itu menemani ibunya yang sedang dirawat. Kehidupan anak dan ibu yang ini sangat miskin, barang-barang yang berharga telah habis terjual, dan uang yang terkumpul juga hanya cukup untuk membayar biaya semalam rumah sakit. Jika tidak ada uang maka besok akan diusir dari rumah sakit. Malam itu, Seada yang tak berdaya berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit, dengan polos ia memohon berkah dan perlindungan Tuhan, bisa bertemu dengan seorang yang baik hati menolong ibunya. Tiba-tiba, sebuah tas kulit seorang wanita yang baru turun dari loteng terjatuh di atas lantai ketika melewati koridor itu, mungkin karena tergesa-gesa, sehingga ia tidak menyadari sedikitpun kalau tas kulitnya terjatuh. Ketika itu di koridor hanya ada Seada seorang. Ia mengambil tas kulit itu, lalu bergegas mengejar wanita itu, tapi wanita itu sudah naik ke sebuah mobil dan pergi dengan angkuh.
Seada kembali ke kamar ibunya dirawat, dan ketika dia membuka tas kulit itu, ibu dan anak itu terkejut melihat segepok uang di dalamnya. Dan seketika itu, mereka pun sadar, bahwa dengan uang sebanyak itu bisa digunakan untuk mengobati penyakit ibunya. Namun ibunya menyuruh Seada mengembalikan tas kulit itu ke koridor, menunggu orang yang kehilangan tas kulit itu kembali mengambilnya. Yang harus dilakukan dalam sepanjang hidup manusia adalah membantu orang lain, membantu orang lain yang lagi kesulitan, yang tidak layak dilakukan adalah serakah dengan harta yang tidak halal, mengabaikan kebenaran begitu melihat uang orang lain. Tas dikembalikan ke pemiliknya. Kemudian pedagang itu berusaha sekuat tenaga untuk menolong ibu Seada, namun ibunya tetap menghembuskan nafas terakhir meninggalkan gadis yang sebatang kara itu. Kedua ibu dan anak itu bukan saja telah membantu mengembalikan kerugian 100.000 dolar AS itu kepada sang pedagang, yang lebih penting adalah informasi market yang didapatkan kembali dari kehilangan itu, membuat usaha pedagang itu maju, dan tidak lama kemudian menjadi hartawan besar.
Seada yang diadopsi sang pedagang, dimana setelah menyelesaikan kuliahnya kemudian membantu sang hartawan mengelola perdagangannya. Meski sang hartawan selama itu tidak mengangkatnya memangku jabatan apapun yang sesungguhnya. Namun selama dalam tempaan yang panjang, kecerdasan dan pengalaman sang hartawan memberi pengaruh halus dan tak terasa mempengaruhinya, sehingga membuatnya menjadi seorang pebisnis yang matang. Ketika memasuki usia senja, banyak sekali visi sang hartawan mesti meminta pendapat Seada. Ketika sang hartawan dalam masa kritis, ia meninggalkan sebuah surat wasiat yang mengejutkan: "Sebelum saya kenal dengan Seada dan ibunya saya sudah sangat kaya. Namun, ketika saya berdiri di hadapan anak dan ibu yang dirundungi kemiskinan dan penyakit tapi tidak berniat memiliki uang saya yang hilang itu, saya melihat merekalah yang paling kaya, sebab mereka mentati norma kehidupan yang mulia, dan justru inilah yang tidak ada pada diriku sebagai pedagang. Uang yang saya dapatkan adalah dari hasil tipu menipu, adalah mereka yang membuat saya menyadari bahwa modal terbesar dalam perjalanan hidup manusia adalah kepribadian. Saya mengadopsi Seada bukan karena balas budi, juga bukan simpati, melainkan mengundang teladan seseorang sebagai manusia. Dengan adanya dia di sisiku, dalam perdagangan, akan selalu kuukir dalam hati, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Ini adalah sebab hakiki makmurnya usaha saya di kemudian hari, hingga saya menjadi hartawan yang kaya raya. Setelah saya meninggal, harta kekayaan semuanya saya wariskan kepada Seada. Ini bukan menghadiahkan, melainkan agar supaya usaha saya bisa lebih cemerlang. Saya yakin, putera saya yang cerdas dapat memahami curahan perhatian ayahnya".
Ketika putera sang hartawan yang berada di luar negeri kembali, ia membaca dengan seksama isi surat wasiat ayahnya, kemudian tanpa ragu sedikitpun membubuhkan tanda tangan di atas surat warisan tersebut: "Saya setuju Seada meneruskan semua harta kekayaan ayah. Saya hanya berharap Seada bisa menjadi istri saya." Setelah melihat tanda tangan putera sang hartawan, Seada sedikit agak ragu, lalu mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya: "Saya terima semua harta kekayaan yang ditinggalkannya termasuk puteranya." Kisah ini merefleksikan kepada kita bahwa kebaikan hati yang telah ditanam sejak kecil akan berbuah kebaikan pula. Apa yang kita tabur setiap hari itulah yang akan kita tuai nantinya. ( zoe )
Refleksi : Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya Karena itu marilah kita menabur kebaikan kepada semua, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai,









KETERBUKAAN HATI
Father’s Heart
Kamis, 6 Maret 2008
Mazmur 32:5
Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.

Hubungan yang baik terlihat dari komunikasi yang terjalin. Banyak orang gagal memiliki relasi yang sehat karena komunikasinya terhambat. Hal yang sama dapat terjadi dalam hubungan antara orang percaya dengan Allah. Allah rindu kita membangun komunikasi dengan Dia, mempersiapkan Dia menunjukkan kesalahan kita, mengundang Dia untuk masuk dan mengubahkan hati kita seturut kehendakNya.
Allah adalah pribadi yang paling mengenal kita. Ia tahu ketika kita duduk atau berdiri, bahkan Ia mengerti pikiran kita dari jauh ( Maz 139:2 ). Ia tahu setiap hal namun Ia menghormati kita, menunggu kita bercerita mengungkapkan semua kepadaNya. Ia seperti seorang ayah yang meskipun tahu kesalahan anaknya, menunggu sang anak datang kepadanya. Ia seperti seorang suami yang sangat mengasihi istrinya sehingga ketika isterinya menyajikan masakan yang tidak enak sekalipun ia akan tetap memujinya.
Kita ini adalah ciptaan Allah yang seharusnya melakukan apa yang menjadi perintahNya. Ketika kita tidak terbuka di hadapan Dia, kita sedang berdosa dan tidak takut kepada Dia yang berkuasa. Mari menjalin komunikasi dengan Allah. Mengakui semua di hadapanNya. Semua pelanggaran semua perasaan dalam hati, apapun yang terjadi di dalam hidup kita, mari ungkapkan kepada Tuhan. Biarkan Ia menjangkau kita dengan kasihNya. Keterbukaan di hadapan Allah akan menghasilkan keintiman dengan Dia dan semakin membuat kita bertumbuh subur dalam pengenalan akan Dia. ( school of healing )

Refleksi : Apakah anda bisa benar-benar terbuka di hadapan Tuhan ?






































MINISTER MENTOR
English Day
Friday, March 7, 2008
Exodus 18:13-24
Moses heeded the voice of his father-in-law and did all that he had said.

In 1959, when Lee Kuan Yew assumed the position of Prime Minister of Singapore, his leadership began a long process of national transformation. Initially, disagreements between ethnic groups and a weak economic base made the future of this tiny nation uncertain. By 1990, when Lee stepped down from his position, Singapore had become a model country for ethnic harmony and a thriving economy. After serving as Senior Minister, Lee became Minister Mentor in 2004. Since then he has been an invaluable resource to Singapore’s cabinet and to other leaders around the world.
Insights from the older generation can greatly benefit the younger generation. Although Moses had been used by God to perform miracles and deliver Israel out of bondage in Egypt, he still listened to the advice of his father-in-law Jethro (Ex. 18:24). Jethro had watched his son-in-law care for the concerns of the people and observed: “Both you and these people who are with you will surely wear yourselves out. For this thing is too much for you” (v.18). Moses followed Jethro’s advice to select, train, and delegate others to share the workload (vv.22-24). Whom has God placed in your life to advise you as a “minister mentor”? Following Through What are your weakest character traits? Do you know a fellow believer who is strong in these areas? Could that person become your spiritual mentor? ( Dennis Fisher )












































KISAH SANG CENDEKIAWAN
Sabtu, 8 Maret 2008
Lukas 6:27
Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu

Dahulu kala, ada sebuah desa yang bernama “Desa bodoh”, kenapa desa ini dinamakan desa bodoh? Karena penduduk yang tinggal di desa ini sangat bodoh, karena terlalu bodoh untuk menghitung 1 + 1 = 2 saja mereka tidak bisa. Mereka selalu menjadi bahan tertawaan penduduk desa lain, sehingga penduduk desa bodoh menjadi minder tidak berani keluar dari desa mereka untuk bertemu dengan orang lain. Tetapi di desa bodoh ini terdapat seorang yang sangat pintar bernama cendekiawan, dia bisa menjawab semua pertanyaan penduduk desa bodoh ini. Penduduk desa sangat menghargai cendekiawan, setiap ada masalah yang berhubungan dengan dunia luar penduduk desa selalu meminta pendapatnya. Tetapi dia sangat sombong dan sangat malas. Dia selalu memerintah penduduk desa bodoh mengerjakan pekerjaannya, makanan dan minumannya juga disediakan oleh penduduk desa bodoh ini. Tetapi penduduk desa bodoh ini sangat baik, mereka tidak menganggap cendekiawan memperalat mereka, mereka selalu berpikir “sungguh bahagia! Dapat membantu orang lain!” Semua orang yang berada di desa tersebut memiliki hati yang baik.
Suatu hari salah satu penduduk desa tersebut menemukan sebuah buku yang dapat membuat orang yang membacanya menjadi pintar. Pemuda yang menemukan buku tersebut sama sekali tidak pernah berlajar membaca tetapi ketika ia melihat buku tersebut ia langsung dapat membaca setiap huruf di buku ini. Setiap huruf dari buku tersebut langsung masuk kedalam otaknya, ia merasa sangat bahagia. Dia terus menerus membuka setiap lembar buku, tiba-tiba dia merasa dia menjadi sangat pintar dan mengerti semua makna yang terdapat dibuku ajaib ini. Dia merasa buku ini sangat bagus dan berpikir, “saya harus memberitahukan seluruh penduduk desa.” Begitu dia selesai membaca buku ini hari telah terang, dia lari pulang kedesa dan memberitahukan kepada seluruh penduduk desa untuk membaca buku tersebut.
Si Cendikiawan menjadi iri karena pemuda tersebut telah membuat setiap penduduk di desa belajar kepadanya. Alhasil si Cendikiawan tersebut mengambil keputusan untuk mencuri buku si pemuda. Malamnya ia mengendap-endap ke rumah pemuda tersebut, setelah ia merasa aman kemudian ia mencuri buku tersebut dan membawanya lari. Tanpa ia sadari ketika ia berlari buku tersebut terjatuh di sebuah sungai. Ketika ia sadar, sudah terlambat untuk menyelamatkan isi buku tersebut. Bahkan ternyata buku itu sudah rusak. Cendekiawan dengan lesu memeluk buku tersebut dalam hati berkata, “buku ini sudah tidak berguna lagi bagi saya, sebaiknya saya kembalikan kepada penduduk desa bodoh!” Pada dasarnya cendekiawan mempunyai sebuah hati yang baik, tetapi karena kemalasannya sehingga merubah sifat dasarnya menjadi jelek. Sekarang dia rindu kepada penduduk desa bodoh yang baik hati, apakah mereka akan memaafkannya?
Begitu dia sampai di desa bodoh, penduduk desa dengan gembira menyambutnya, rupanya mereka sibuk mencari dia. Lalu cendekiawan memberitahukan kepada mereka dia telah mencuri buku si pemuda, tetapi penduduk desa memaafkannya, mereka berkata cendekiawan dapat dengan selamat kembali ke desa, mereka sudah merasa gembira. Melihat kebaikan penduduk desa bodoh cendekiawan sampai terharu menetes air mata, dalam hati berjanji akan berbuat lebih banyak kebaikan untuk penduduk desa ini. Mulai dari hari itu ia benar-benar membaktikan dirinya menjadi guru bagi semua penduduk desa yang bodoh itu. Lama kelamaan seluruh penduduk desa menjadi pintar semua sehingga nama desa bodoh tidak ada lagi dan muncul sebuah desa baru yang bernama “desa cerdas.” Kebaikan hati hendaklah kita wujudkan dengan mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Jika penduduk desa ini bisa mengampuni si Cendekiawan yang jahat, maka adalah kewajiban kita juga sebagai orang percaya untuk balajar mengampuni dan mengasihi orang yang bersalah kepada kita. ( zoe )
Refleksi : Marilah kita menjadi orang yang belajar dari para penduduk desa yang meskipun mereka bodoh tetapi mengerti bahwa kebaikan hati itu perlu diwujudkan kepada orang lain.
















SIAPAKAH SESAMAKU
Minggu, 9 Maret 2008
Lukas 10:25-37
Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu ?

Suatu kali ketika terjadi rasis antara orang Chinese dan Melayu asli di Malaysia, banyak orang –orang Chinese yang tidak mendapatkan kesempatan untuk kuliah di beberapa top Universitas di Malaysia. Akhirnya, orang-orang Chinese menyekolahkan anak-anak mereka ke England. Dan setelah selesai kuliah di sana, mereka memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Malaysia, melainkan menetap di England. Suatu kali, Michael Griffiths (Overseas Missionary Fellowship) di undang untuk berbicara di antara para sarjana Chinese- Malay. Dia mencoba untuk menjelaskan kepada mereka perumpamaan Yesus dalam Lukas 10 ini.
Suatu hari seorang Chinese businessman yang kaya –raya, dengan Mercedes-nya sedang dalam perjalanan dengan sopirnya menuju ke Subang Airport di Genting Highlands untuk bermain judi, seperti yang dilakukannya sebagai rutinitas. Di tengah perjalanan tiba-tiba sekelompok Chinese gangs memberhentikan mobil mereka, lalu sopirnya ditembak, dan Chinese businessman ini ditarik keluar dari Mercedesnya, di pukulin sambil ditelanjangi. Gangs ini mengambil seluruh apa yang ada didalam mobil termasuk uang, jam tangan Rolex emas dan credit-cards dari Konglomerat tersebut. Gangs ini kemudian, mengempeskan ke -empat ban Mercedes, dan memecahkan seluruh kaca mobil lalu meninggalkan Konglomerat ini dalam keadaan telanjang dan luka parah.
Tidak lama kemudian, lewat sebuah mobil Mercedes yang kebetulan didalamnya seorang Chinese businessman bersama dengan sopirnya. Ketika Chinese businessman ini melihat kejadian tersebut, ia menyuruh sopirnya untuk berjalan pelan-pelan. Setiba ditempat kejadian tersebut, Chinese businessman ini melihat orang yang penuh darah dimukanya, memohon pertolongan. Lalu Chinese businessman ini memerintahkan sopirnya untuk segera pergi dari situ, takut kalau itu merupakan suatu jebakan.
Tidak lama kemudian, serombongan tourist dari Singapore melewati tempat kejadian tersebut. Ketika mereka melihat kejadian tersebut, mereka berpikir untuk melaporkan ke polisi setempat. Tetapi beberapa diantara mereka ada yang mengatakan supaya tidak mencampuri kejadian ini. Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka ke Awana Country Club untuk bermain golf. Menjelang hari gelap, seorang tukang sate yang sedang dalam perjalanan kembali kerumahnya dengan sepedanya, melewati tepat kejadian tersebut. Lalu si tukang sate ini berhenti dan mendudukkan Komlomerat yang setengah mati tersebut di sepedanya, dan mendorong sepedanya dari samping, kemudian membawa kerumah temannya yang kebetulan tidak jauh dari tempat kejadian tersebut. Setelah sampai di rumah temannya, mereka berusaha membersihkan luka-luka dan membalutnya serta memberikan makanan dan minuman. Malam itu, Konglomerat tersebut menginap dirumah teman dari tukang sate ini. Sekarang pertanyaan kita dalam kejadian dengan Chinese Komlomerat ini, ‘who was a neighbor to the Chinese businessman?’ Apakah Chinese businessman yang kedua? Tidak! Apakah serombongan tourists dari Singapore? Tidak! Apakah si tukang sate? Ya!. Bye the way, tukang sate ini seorang Malay. ( zoe )
Refleksi : Jangan mencari sesama yang baik atau yang tepat untuk dikasihi, melainkan, menjadi sesama bagi semua orang yang membutuhkan (It is not looking for the right neighbor to love, but being the right neighbor to anyone in need).



















MANUSIA ( dalam hubungan dengan Allah )
Senin, 10 Maret 2008
Bible Background

Tak dapat disangkali bahwa manusia sebagai ciptaan memiliki ikatan yang khusus dengan Allah. Sebab di antara semua ciptaan, hanya manusia yang diperlakukan secara khusus, karena manusia adalah primadona dari semua ciptaan yanga ada.
Keistimewaan itu dinyatakan dalam 3 hal:
1. Allah harus turun tangan untuk membuatnya dan memakai bahan. Untuk ciptaan lain Allah cukup berfirman saja tapi ketika Dia membentuk manusia, Dia memakai tanganNya untuk mengukir dan membentuknya sedemikian rupa dan sedemikian rumit sehingga manusia menjadi ciptaan yang menakjubkan. Bahkan Allah menggunakan patron khusus yaitu segambar dan serupa dengan diriNya.
2. Allah meniupkan nafas kehidupan yang membuat manusia memikili ikatan batin khusus dengan Dia. Untuk hewan, Allah tak meniupkan nafas kehidupanNya kepada mereka.
3. Allah memberikan perintah yang lengkap kepada manusia untuk menjadi ciptaan yang bertanggung jawab, yaitu:
a. Menguasai/menundukkan seluruh alam semesta
b. Memelihara seluruh ciptaan yang ada
c. Berkembang dengan keturunan untuk memenuhi bumi.
Hubungan vertikal ini bukan semata-mata seperi “Tuan-Hamba” tapi lebih kepada hubungan “Raja Agung-Raja Kecil”. Allah sangat menghargai manusia karena Allah memberikan kemampuan dan kelengkapan yang sangat luar biasa dalam menunaikan tugas yang diberikanNya yaitu:
1. Akal /rasio
Allah sebagai sumber sagala hikmat memberikan sebuah “alat” bagi manusia sehingga bisa berfungsi dengan akal pikiran yang membuatnya tahu bersiasat dan berkreasi.
2. Perasaan/Emosi
Manusia diberi kelengkapan emosi yang terbaik dan kemampuan untuk menyatakannya sehingga melalui emosi, manusia sanggup menyatakan kwalitas relasinya dengan Allah.
3. Kehendak/Will
Sebagai ciptaan tertinggi, manusia dikendalikan bukan oleh nasib atau oleh insting tapi oleh kehendak hati yang jelas dan bertanggung-jawab. Semua tindakan manusia dihasilkan dari pergumulan hati/jiwa yang disadari.
4. Kemampuan berkomunikasi
Hal ini ditunjukkan baik lewat bahasa tubuh maupun dengan bahasa verbal sehingga ke 3 kemampuan lainnya dapat beroperasi dengan baik. Semua kelengkapan itu untuk membuat manusia juga dapat berkomunikasi dengan Allah dan minkmati relasi yang indah denganNya.

Penekanan Pengajaran
Mengajar para siswa untuk bersyukur bahwa Allah telah menciptakan setiap diri manusia dengan unik dan hebat. Kita harus bersyukur dan berupaya untuk membina hubungan dengan Allah secara bersungguh-sungguh.






















MELIHAT KRISTUS DALAM KEBUTUHAN ORANG LAIN
Selasa, 11 Maret 2008
Matius 25: 40
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Suatu kali hiduplah seseorang yang mempunyai suatu kerinduan yang sangat untuk bertemu dengan Tuhan Yesus. Suatu malam, Tuhan Yesus datang di dalam mimpinya, dan dalam mimpi tersebut Tuhan Yesus berkata, “Aku akan datang kerumahmu besok hari.” Ketika orang ini bangun pagi- pagi, maka dengan penuh semangat, ia membersihkan rumahnya dan setelah itu ia mandi, lalu ia mengenakan pakaian yang rapi, dan duduk di kursi ruang tamu sambil menunggu kedatangan Tuhan Yesus. Tiba-tiba pintu diketok, dan dengan hati yang berdebar-debar ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Setelah ia membuka pintu tersebut, ia menjadi kaget karena seorang peminta-minta yang berdiri di depan pintu sambil memohon sedekah kepadanya. Lalu ia mengusir peminta-minta tersebut sambil berkata kepadanya, “Aku sedang menantikan kedatangan orang yang terpenting saat ini.”
Ketika menjelang siang hari, tiba-tiba ia mendengar pintu diketok, dan dengan hati yang berdebar- debar serta dengan senyum yang lebar, ia membuka pintu. Kali ini di depan pintu berdiri seorang wanita yang penuh dengan luka-luka di mukanya. Wanita ini memohon pertolongannya, karena ia barusan berkelahi dengan suaminya, dimana suaminya memukulnya. Lalu ia mengusir wanita tersebut sambil berkata kepadanya, “Aku sedang menantikan kedatangan orang yang terpenting saat ini.”
Menjelang sore hari, ketika orang ini mulai tertidur dikursinya, tiba-tiba ia kaget dan terbangun ketika mendengar pintu diketok. Lalu ia berkata dalam hatinya, Kali ini pasti Tuhan Yesus. Dengan hati yang penuh keyakinan dan senyum yang lebar, ia membuka pintu. Kali ini di depan pintu berdiri seorang anak kecil yang sedang membawa kue dan menawarkan untuk membeli kue buatan orang tuanya. “Oom tolong beli kue buatan ibu saya karena kami sedang membutuhkan uang untuk membayar sewa rumah.” Lalu ia mengusir anak kecil tersebut sambil berkata kepadanya, “Aku sedang menantikan kedatangan orang yang terpenting saat ini.” Akhirnya, orang ini menjadi jengkel karena tamu yang terpenting yang telah ditunggu-tunggunya tidak datang berkunjung kerumahnya. Malam itu, Tuhan Yesus datang kembali ke dalam mimpinya. Lalu orang ini bertanya kepada Tuhan Yesus, “Kenapa Engkau tidak menetapi janjiMu untuk datang berkunjung ke rumahku?” Lalu Tuhan Yesus menjawab, “Aku telah datang tiga kali, tetapi engkau telah menolaknya.” ( zoe )
Refleksi : Kadangkala kita terlalu rohani, sehingga tidak memperhatikan kebutuhan yang lain disekitar kita. Dalam tulisan Jim Wallis, ‘Faith that works’, ia mengatakan, “Pertumbuhan rohani dan iman seseorang itu selalu disertai dalam tindakan menolong mereka yang membutuhkan pertolongan kita.” Kebaikan hati perlu diwujudkan dalam kehidupan iman kita.



























KISAH SANG NURI
Rabu, 12 Maret 2008
Amsal 17:17
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Ada seekor burung Nuri, meninggalkan rumah pergi melihat dunia yang lebih luas. Beberapa hari setelah terbang, dengan rasa lelah dan lapar iapun tiba di sebuah hutan, dan bermaksud untuk menetap sementara disitu. Seekor Tupai yang melihat kedatangan Nuri itu, berloncatan gembira, lalu segera mengabarkan berita ini kepada seluruh binatang: “Hei, cepat lihat, ada tamu, ada tamu!” Para binatang mengadakan upacara penyambutan selamat datang yang meriah pada Nuri, burung-burung menyanyikan lagu yang merdu, rusa-rusa menari riang, dan para monyet memetik buah buni yang segar dan lezat untuk Nuri. Burung Nuri sangat terharu menghadapi semua penyambutan yang hangat ini.
Selanjutnya, selama beberapa bulan di hutan itu, semua margasatwa memperlakukan dengan sangat baik terhadap Nuri, semua makhluk disana sangat menyukainya. Meskipun hidup dalam sukacita, tapi seiring dengan bergulirnya waktu, tak urung burung Nuripun menjadi rindu dengan kampung halamannya. Lalu ia mohon pamit pada semua binatang dengan mengatakan: “Selama beberapa hari ini, saya sangat berterimakasih sekali atas perhatian kalian semua terhadap saya, namun saya harus segera pulang, jaga diri kalian baik-baik.” Dengan perasaan berat, para binatang mengantar kepergian Nuri dalam perjalanan demi perjalanan, namun, meski dengan perasaan berat terpaksa mereka harus berpisah sampai disitu.
Beberapa hari kemudian, peristiwa yang malangpun terjadi. Hutan itu tiba-tiba terbakar, kobaran api itu begitu besar menyala-nyala, membuat segenap hutan merah membara hingga tampak di kejauhan ratusan mil. Binatang-binatang dalam hutan tidak dapat menyelamatkan diri mereka, hingga banyak yang terluka maupun tewas, pemandangan demikian membuat kita tidak tega melihatnya. Dari kejauhan burung Nuri melihat kobaran api di ujung sana, dalam benaknya ia berpikir suatu “musibah” telah terjadi, siang malam dan tanpa mengenal lelah ia bergegas ke hutan yang terbakar itu. Ia terbang bolak balik ke sungai di sekitar hutan, dan membasahkan sayapnya ke air, kemudian menyemburkan air di sayapnya itu ke hutan. Tidak tahu berapa kali sudah ia terbang bolak balik seperti itu, hingga membuatnya kelelahan, beberapa kali nyaris terpanggang oleh gelombang panas, sayap di badannya juga sudah terbakar, namun, kobaran api sedikit pun tidak melemah, malah semakin berkobar. Sang Nuri sedikitpun tidak patah semangat, ia terus menyemburkan air.
Pada saat genting tersebut tiba-tiba turunlah hujan dengan deras sehingga kebakaran dihutan tersebut bisa padam. Tetapi karena terlalu lelah si Nuri jatuh dan meninggal. Semua penduduk hutan menangisi kematian sang Nuri yang baik hati dan rela berkorban. Tindakan Nuri ini sungguh layak kita tiru. Penuh dengan kebaikan, perhatian, menekankan kesetiaan, kerelaan berkorban, ketika sahabat menemui kesulitan, sudah semestinya kita berusaha menjulurkan tangan memberikan bantuan. Meskipun bantuan kita tidak seberapa tetapi ketulusan dan keikhlasan adalah lebih penting dari besarnya bantuan itu sendiri. ( zoe )
Refleksi : Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Seorang sahabat yang baik akan segera menolong, membantu, mendukung dan memperhatikan sahabatnya yang sedang kesukaran !























PERTOBATAN
Father’s Heart
Kamis, 13 Maret 2008
Yehezkiel 18:21
Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.

Seringkali kita melihat dan mendengar di televisi mengenai kejahatan-kejahatan yang berhasil diungkapkan oleh pihak kepolisian. Berbagai asumsi bermunculan dalam berbagai kasus dimana banyak kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang pernah tertangkap karena kasus yang sama.
Allah dengan jelas menyatakan bahwa kematianNya memberikan kehidupan bagi kita. KerinduanNya adalah agar kita mau mengubahkan hidup seturut Dia. Banyak orang menyukai kelimpahan Kristus, namun menghindari keserupaan dengan Dia. Banyak orang menginginkan kehidupan Kristus, namun tidak mau mematikan masa lalunya yang menyedihkan Kristus. Banyak orang mendengar tentang sukacita keselamatan, namun lupa dengan sukacita pertobatan. Banyak orang ingin menang, namun tak mau berjuang.
Pertobatan merupakan suatu gaya hidup yang berkemenangan. Tak ada kemenangan tanpa pertobatan. Semakin bertobat dan mematikan hidup lama, semakin kemenangan itu nyata. Ulangan 30:2-3 menyatakan bahwa ketika kita berbalik kepada Allah, Ia akan memulihkan kita. Mengembalikan kita kepada kasihNya. Memberikan tempat dalam hatiNya. Semakin kita meninggalkan kejahatan kita, semakin dekat kita dengan Dia.
Mari kita mengambil komitmen untuk benar-benar bertobat dari masa lalu. Itulah yang menjadi hati Allah. Melihat hidup kita mengalami kemenangan yang Ia janjikan. Berpalinglah dari hidup lama kita dan menatap pada kehidupan yang baru dengan kemantapan dan semangat yang menyala. Percayalah dalam pertobatan itulah kita akan menemukan pemulihan yang sejati. ( school of healing )

Refleksi : Sudahkah anda benar-benar mengalami pertobatan ? adakah hal-hal yang masih menghalangi kita untuk bertobat ?




































KINGDOM LIVING
English Day
Friday, March 14, 2008
Colossians 1:3-14
He has delivered us from the power of darkness and conveyed us into
the kingdom of the Son of His love.

I have a lot of friends who work in bad neighborhoods. One of these city warriors transplanted his family to the inner city. One day as he was walking down the hallway in his apartment building, he noticed two guys smoking crack cocaine. Not wanting his kids to see what they were doing, he asked the two to stop. The next thing he knew, one of their fists had found its way to his jaw. With a bleeding nose and mouth, he responded, “If Jesus shed His blood for me, I can shed my blood for you.”
Shocked by the man’s response, the two men fled. A few days later one of them returned, knocked on my friend’s door, and said, “I have not forgotten your words. If your God is that real to you, then I want to know Him.” That day, he was “delivered . . . from the power of darkness,” and brought “into the kingdom of the Son of His love” (Col. 1:13).
Those of us who have been rescued from the domain of darkness can bring a little bit of heaven to earth when we are willing to demonstrate the power of God’s unique approach to life. Even in our moments of weakness and vulnerability, we are given opportunities to demonstrate the power and strength of God’s forgiveness by showing His love for our enemies.
Help us, Lord, to be a lifeline To a dying world today, Bringing hope to hopeless people, Telling them that Christ’s the way. ( Joe Stowell )











































SALING MENGHANGATKAN
Sabtu, 15 Maret 2008
Lukas 10:25-37
Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu ?

Seorang laki-laki berjalan di atas sebuah gunung yang diselimuti oleh salju, karena dingin disertai badai salju yang menusuk tulang, sepasang mata hampir tidak bisa dibuka. Laki-laki itu sudah lama berjalan, namun tetap tidak kelihatan ada jejak manusia. Disaat itu, dari kejauhan tampak seorang petualang datang menghampirinya, dan secara otomatis dua orang itu akhirnya menjadi teman seperjalanan. Rasanya menjadi lebih tenang dengan adanya teman dalam perjalanan. Namun, untuk menghemat energi panas, hanya bisa diam seribu bahasa dan terus berjalan.
Di tengah perjalanan mereka melihat seorang laki-laki tua jatuh dalam gumpalan salju, kalau dibiarkan, orang tua itu pasti akan terkubur salju, dan mati kedinginan. “Kita bawa saja dia dan jalan bersama, tuan, tolong dibantu,” ujar pemuda itu. Mendengar usulan itu, dengan gusar rekannya berkata, “Cuaca yang buruk begini, untuk mengurus diri sendiri saja repot, mana bisa mengurus orang lain!” Petualang itu pun lalu pergi seorang diri.
Sang pemuda terpaksa seorang diri menggendong si kakek itu dan meneruskan berjalannya. Ia tidak tahu sudah berapa lama berjalan, tubuh dibasahi oleh keringat, dan di luar dugaan energi panas ini melumerkan tubuh kakek yang kaku kedinginan, dan secara berangsur-angsur kesadaran orang tua itu akhirnya pulih kembali. Suhu kedua orang itu menjadi penghangat yang saling memberi kehangatan, sehingga dengan demikian lupa akan cuaca yang dingin.
“Syukurlah kek, akhirnya kita sampai juga.” Ketika melihat perkampungan di kejauhan, dengan ceria laki-laki itu memberitahukan pada kakek yang digendongnya. Namun, setibanya mereka di persimpangan desa, terlihat kerumunan massa sedang membicarakan sesuatu. Sebenarnya apa yang telah terjadi?
Laki-laki itu berdesakan masuk di antara kerumunan massa dan begitu dilihat, ternyata seorang laki-laki tergeletak di atas gumpalan salju sudah meninggal dunia. Ketika dengan cermat mengamati jenazah laki-laki itu itu, ia benar-benar sangat terkejut, laki-laki yang meninggal kedinginan di atas salju yang tidak begitu jauh jaraknya dari desa itu ternyata adalah rekannya yang demi keselamatan diri sendiri lalu pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka waktu itu.
Kebaikan hati yang diberikan oleh pemuda ini mengingatkan kita akan kisah perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Ketika membaca cerita ini di dalam Lukas 10:25-37, sebagai anak Tuhan haruslah kita menampilkan kebaikan hati kita kepada sesama. Memang seringkali sulit untuk kita mempraktekkan tetapi percayalah ketika ada sebuah kesempatan dimana kita bisa menunjukkan kasih kepada sesama maka ambillah kesempatan tersebut. ( zoe )
Refleksi : Tunjukkan kebaikan hatimu kepada orang lain. Khususnya kepada teman-teman seiman kita dulu !




























ELISABETH VON Thüringen
Minggu, 16 Maret 2008
Matius 25: 40
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Pada tgl 7 Juli 1207 terlahir di Hongaria seorang anak perempuan yang konon telah mempengaruhi kaum Kristiani di Eropa hingga beberapa abad secara terus menerus dengan semangat kasih dan pengorbanan: Elisabeth von Thüringen. Seorang wanita yang sangat dipenuhi dengan jiwa welas asih bergelora kepada manusia di sekitarnya.
Sebagai seorang putri raja Hongaria dia termasuk bangsawan papan atas Eropa. Keputusannya untuk melepaskan dirinya dari situ, membuatnya menjadi panutan paling disukai diantara wanita bangsawan pada kalangan istana terpenting di Eropa. Juga 800 tahun sesudah kelahirannya popularitasnya tidak terpatahkan. Banyak gereja, sekolah, rumah-sakit, yayasan, ordo dan taman kanak-kanak dinamakan menggunakan namanya.
Apa yang membuat kehidupan wanita ini pada masa kehidupannya sudah begitu unik? Wanita ini berkeyakinan harus mematahkan secara radikal statusnya sebagai bangsawan agar bisa mengikuti jiwa dan hati-nuraninya. Dia mendekatkan dirinya dengan yang termiskin dan ternista, walau dia sendiri berasal dari keluarga bangsawan. Dari ketaatannya yang mendalam dia mencari Tuhannya dan melihat Kristus tuannya pada setiap orang miskin dan orang yang menderita. Keputusan untuk kehidupan yang mencintai sesama dengan penuh pengorbanan dipraktekkan olehnya secara konsekuen dalam tindakan. Dia memberikan harta miliknya kepada kaum papa dan menyumbangkan hatinya kepada mereka yang datang kepadanya. Dia memberi makan kepada yang sedang kelaparan dan mendirikan sebuah rumah sakit untuk penderita sakit dan kaum lemah di wilayah sekitarnya. Hal tersebut untuk kala itu adalah suatu langkah yang radikal dan spektakuler.
Konrad von Marburg, pastur pengakuan dosanya menulis tentang Elisabeth: “Bagaimana dia dalam sepanjang hidupnya sebagai penghibur bagi kaum miskin, demikianlah dia memulai sekarang (selama wabah kelaparan pada tahun 1226) sungguh-sungguh adalah seorang penyuap bagi orang yang kelaparan, dimana dia mendirikan sebuah rumah sakit di dekat puri, di dalam RS tersebut dia telah menampung banyak sekali penderita sakit dan orang yang lemah.“ Kemudian dia harus meninggalkan tempat tersebut setelah kematian sang suami dan akhirnya tiba di Marburg dimana dia menetap hingga akhir hayatnya.
Disinipun lagi-lagi telah ia dirikan sebuah RS besar ( pada tahun 1228 ) dimana dia sendiri tidak canggung untuk membantu para pasien dengan sekuat tenaganya. Pastur pengakuan dosanya memberitakan tentang dirinya: “Orang yang paling menderita dan ternista diajak duduk di mejanya, dan ketika saya oleh karena itu mencelanya, dia menjawab kepada saya, dia menerima dari mereka pengampunan dan kepasrahan yang istimewa.“ Pengorbanan ini tidak dapat tinggal lebih lama lagi di dunia. Dalam waktu beberapa tahun kecintaannya kepada Tuhan dan kepada manusia telah menguras tenaga Elisabeth dan dia meninggal pada tgl 17 November 1231 sesudah menderita penyakit yang singkat. Apa yang telah Elisabeth lakukan menunjukkan kepada kita sebagai orang Kristen kita harus membayar harga yang mahal untuk mengikuti Kristus. Apa yang kita lakukan haruslah dengan sepenuh hati bahkan kepada orang-orang yang menderita dan membutuhkan kasih Allah. ( zoe )
Refleksi : Beranikah kita mengambil keputusan untuk melayani Tuhan seperti ELISABETH VON Thüringen





















MANUSIA ( dalam hubungan dengan sesama )
Senin, 17 Maret 2008
Bible Background

Sebagai kelengkapan yang sempurna maka Allah juga menghendaki agar manusia dapat menjalin relasi dengan sesamanya. Ketika Adam telah menikmati kehidupannya, Allah mengajak Adam untuk merasakan betapa dia tak menemukan seorang teman yang sepadan dengan dirinya sendiri. Adam menyadari bahwa semua hewan yang ada tidak dapat memberikan kebahagian hati menyeluruh karena mereka bukan jenisnya.
Maka Allah yang sangat mengasihi manusia segera membuatnya tidur. Inilah konsep operasi pertama bahwa untuk mengambil/membenahi langsung organ tubuh manusia yang menimbulkan rasa sakit/penderitaan maka manusia bersangkutan harus dibuat tertidur (anestesi). Adam bukan kelinci percobaan tapi justru pasien pertama dari maha dokter segala maha tabib.
Allah mengambil satu tulang rusuk atau tulang tertentu yang kita tak mengetahuinya karena sekarang bila dihitung, semua tulang pria dan wanita tetap sama jumlahnya. Allah kembali memakai bahan yang ada dan membentuk seorang wanita. Mengapa Allah melakukan hal demikian?
1. Allah ingin mengingatkan bahwa antara pria dan wanita ada ikatan yang kuat. Wanita berasal dari pria dan pria memiliki bagian dirinya dalam wanita.
2. Tidak ada keunggulan dari pria maupun wanita semuanya hasil karya Allah yang menakjubkan. Bukan yang dari debu tanah lebih hebat atau yang dari tulang lebih terhormat. Tapi keduanya dirancang dengan kecermatan yang mengagumkan.
Allah menginginkan agar dengan kebersamaan manusia dengan sejenisnya maka kemuliaan Allah akan maikin dipancarkan. Lewat hubungan antara keduanya maka tugas yang diembankan kepada manusia akan dapat diwujudkan lebih baik lagi sebab manusia memiliki penolong yang baik dalam hidupnya. Sekaligus pada waktu itu Allah meresmikan lembaga pertama di atas bumi yaitu PERNIKAHAN. Allah yang menghendakinya sebagai bagian dari kesucianNya. Allah memberikan karunia kenikmatan dan kebahagiaan yang terbaik bagi manusia. Di dalam lembaga ini Allah menetapkan 2 hal yaitu :
1. Kemandirian (tidak bergantung lagi pada orangtua, harus meninggalkan mereka)
2. Keterkaitan (mereka bukan menyatu tapi saling terkait untuk mengarungi samudra kehidupan)
Allah sangat senang dengan apa yang terjadi pada diri manusia dan istrinya. Allah memberkati mereka dan keduanyapun menikmati kehidupan yang menyenangkan. Saling mengasihi, saling menolong dan saling mengerti menjadi pola hidup mereka sejak itu.

Penekanan Pengajaran
Mengajar para siswa untuk menyadari betapa berartinya seorang teman dalam kehidupan kita. Allah menciptakan sesama untuk kita dapat menikmati kehidupan “saling” yang sangat disukai oleh Allah.



























MEMBALAS KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN
Selasa, 18 Maret 2008
Roma 12:9-21
Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Jika seseorang memiliki hati dengki atau iri yang sangat kuat, juga egoisnya sangat luar biasa, dia akan sangat mudah menjadikan banyak temannya berubah menjadi musuh. Namun ketika mereka merasakan dirinya telah menimbulkan banyak musuh, banyak orang tidak mengerti harus bagaimana berbuat agar dapat mengubah semua musuhnya itu menjadi teman. Sebenarnya Tuhan menciptakan menusia dengan kebaikan. Dari ketulusan dan niat baik yang berpadu akan terbentuk menjadi suatu kebaikan hati yang murni, ini sudah lebih dari cukup untuk menguraikan segala dendam yang ada di dunia ini, juga bisa dengan mudah mengubah musuh menjadi teman.
Pada tahun 1754, ketika itu George Washington sudah berpangkat kolonel. Dia sedang memimpin pasukannya dalam tugas di kota Alexander. Hari itu bertepatan dengan hari pemilihan anggota kongres di parlemen negara bagian Virginia. Ada seseorang yang bernama William Bent sedang menentang seorang kandidat yang didukung oleh Washington. Suatu hari, Washington mengadakan jajak pendapat dengan Bent mengenai masalah pemilihan umum ini dan dalam acara itu telah terjadi perdebatan yang sangat seru, dan Washington mengeluarkan kata – kata yang sangat menusuk telinga. Mendengar perkataan itu, Bent sangat gusar, dengan penuh emosi dia mengayunkan tinjunya memukul Washington hingga jatuh ke lantai. Ketika berita ini terdengar oleh prajuritnya, mereka berdatangan dan ingin membela pemimpin mereka atas pukulan itu, ketika itu Washington mencegah mereka dan meyakinkan mereka agar dengan tenang mundur kembali ke barak.
Keesokan paginya Washington mempercayakan seseorang untuk membawakan secarik kertas catatan pada Bent, yang bertuliskan : “Mohon anda datang ke sebuah bar setempat untuk bertemu.” Dengan ekspresi muka yang sangat tegang Bent datang ke bar itu, dia mengira pasti terjadi suatu perkelahian sengit. Tapi di luar dugaannya, yang menyambutnya bukan sebuah pistol melainkan segelas bir persahabatan. Washington berdiri dengan wajah tersenyum, menjulurkan tangan atas kemauannya sendiri menyambut kedatangannya, juga dengan tulus hati berkata kepadanya, “Tuan Bent, siapa orang yang tak pernah berbuat kesalahan, mengetahui kesalahan dan bisa segera diubah adalah orang yang berbakat luar biasa. Masalah kemarin, sesungguhnya adalah kesalahan saya. Anda telah melakukan tindakan yang telah menyelamatkan muka anda, jika anda merasakan tindakan itu sudah cukup, silahkan anda sambut tangan saya ini untuk berjabat tangan, marilah kita menjadi teman.”
Setelah pergolakan ini reda dalam suasana persahabatan, sejak saat itu pula Bent telah menjadi pengagum sejati Washington. Di dalam pergolakan ini Washington telah memperlihatkan tingkat mentalitas yang luar biasa sebagai pencerminan bagi manusia awam. Orang yang berpandangan picik hanya bisa menggunakan cara yang ekstrim yaitu ‘melakukan pembalasan yang setimpal’, yang akhirnya hanya akan memperbesar sakit hati, musuh akan semakin banyak. ( zoe )
Refleksi : Orang yang berlapang dada mengerti akan memaafkan, sabar dan mengalah, dengan hati kebaikan yang murni memancarkan cahaya kehidupan, adalah alat pengurai dendam atau sakit hati yang paling efektif.
























TIGA PERTANYAAN
Rabu, 19 Maret 2008
Galatia 6:1-10
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik ... Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang ...

Leo Tolstoy menceritakan sebuah kisah indah tentang seorang raja yang ingin mengetahui jawaban atas 3 pertanyaan: Kapan waktu yang tepat untuk melakukan segala hal? Siapa yang terpenting? Dan apa hal terpenting yang harus dilakukan? Raja menjanjikan hadiah besar bagi mereka yang berhasil menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan tepat.
Untuk pertanyaan pertama, ada yang menasehatkan raja untuk membuat jadwal kerja dan berkonsentrasi. Yang lain menganjurkan supaya raja tidak membuang-buang waktu. Ada yang menganjurkan raja untuk mengangkat penasehat-penasihat yang bijak. Yang berikutnya menganjurkan supaya raja memakai juru ramal saja karena lebih cepat daripada mencari dan merekrut orang bijaksana. Pertanyaan kedua, seseorang berkata bahwa raja perlu mempercayai pegawai-pegawainya, pendeta, dan ahli-ahli perang. Pertanyaan ketiga, ada yang mengatakan ilmu pengetahuan, ada yang mengatakan agama atau ilmu kemiliteran.
Raja tidak puas dengan semua jawaban yang ada. Akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi seorang pertapa bijaksana yang hidup di puncak gunung. Raja kemudian menyamar menjadi seorang rakyat jelata dan pergi mengunjungi orang tersebut. Sampai di puncak gunung, ia mendapati sang pertapa sedang menggali beberapa lubang di kebunnya. Ketika raja menanyakan ketiga pertanyaannya, si pertapa hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak sang raja dan meneruskan pekerjaannya. Raja berkata, "Anda kelihatannya lelah mari saya bantu menggali." Pertapa itu mengucapkan terima kasih, dan memberikan sekopnya kepada raja. Ia duduk di bawah pohon untuk beristirahat.
Ketika raja telah menyelesaikan 2 lubang, kembali ia menanyakan 3 pertanyaannya kepada si pertapa. Pertapa itu tidak menjawabnya, malahan ia mengatakan hal lainnya, "Kenapa Anda tidak beristirahat dulu? Biarkan saya meneruskan pekerjaan itu lagi." Tetapi raja meneruskan pekerjaannya. Satu,dua jam pun berlalu. Akhirnya Matahari terbenam. Raja meletakkan sekop dan duduk di samping Si Pertapa. Raja menanyakan kembali pertanyaannya.
Tiba-tiba seorang laki-laki lari mendekati mereka dari dalam hutan. Ia meletakkan tangannya di perutnya yang terluka. Laki-laki itu pingsan di tanah. Seluruh tubuhnya berlumuran darah. Tak tahan melihatnya, raja membuka pakaian laki-laki itu dan membersihkan lukanya. Saat siuman, raja memberi ia minum. Berdua bersama Si Pertapa, ia menggendong laki-laki itu ke pondok karena hari mulai gelap. Raja merasa kelelahan, dan jatuh tertidur. Keesokan paginya, ketika raja membuka mata, laki-laki itu telah siuman. Ketika melihat raja, laki-laki itu berbisik, "Maafkan saya." "Mengapa saya harus memaafkanmu?" tanya raja. “Saya adalah musuh Anda, saya datang untuk membunuh Anda. Tetapi saya bertemu pengawal-pengawal istana, Mereka melukai saya. Untung saya bisa melarikan diri. Kalau saja Anda tidak menolong saya, pasti saat ini saya sudah mati. Anda telah menyelamatkan saya! Saya merasa malu dan saya ingin berterima kasih atas kebaikan Anda. Saya bersumpah, saya, anak dan cucu saya akan mengabdi kepada Anda.? Maafkan saya."
Raja merasa sangat bersukacita karena begitu mudah ia didamaikan dengan musuhnya. Sebelum pulang, raja menemui Pertapa untuk berpamitan. Pertapa itu berkata, "Pertanyaan-pertanyaan Anda telah terjawab." Ketika Pertapa melihat raja kebingungan, ia segera melanjutkan pernyataannya. "Kemarin seandainya Anda tidak merasa kasihan kepada saya dan menolong saya di kebun, maka Anda sudah terbunuh di hutan. Maka Anda pasti akan menyesal mengapa tidak tinggal saja di sini. Jadi waktu yang tepat adalah saat Anda menggali lubang, orang yang terpenting adalah saya dan pekerjaan yang terpenting adalah menolong saya. Kemudian saat laki-laki itu datang, waktu yang terpenting adalah saat Anda mengobati lukanya, karena bila tidak Anda lakukan ia akan mati dan Anda akan kehilangan kesempatan berdamai dengannya. Demikian juga, ia adalah orang yang terpenting. Sedangkan hal yang terpenting adalah mengobati lukanya." ( zoe )
Refleksi :Perbuatan Raja tersebut menunjukkan sikap mengasihi sesama berarti memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkannya pada waktu itu. Gampang untuk mengasihi orang yang baik, dan orang yang satu marga, atau orang dalam satu suku. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak sebangsa atau rasis terhadap kita ? Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang.








KEDISIPLINAN Menuju Pemulihan Sejati
Father’s Heart
Kamis, 20 Maret 2008
Amsal 29:15
Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.

Kedisiplinan bagi banyak orang diartikan sebagai satu hal yang menakutkan. Sebenarnya mengapa kita perlu disiplin ? sama halnya dengan seorang atlet renang ketika ingin memenangkan kejuaraan yang memerlukan kedisiplinan untuk berlatih. Tanpa kedisiplinan tentunya semua yang ingin ia wujudkan tidak akan dapat terlaksana. Serupa juga dengan pertumbuhan rohani orang percaya. Setiap orang percaya memerlukan disiplin agar bertumbuh dan mengalami pemulihan sejati.
Ketika menerima Kristus, kita ini ibarat bayi-bayi rohani yang tidak berdaya. Kita belum bisa mengurus diri sendiri. Kita perlu disuap, digendong, dan ditimang. Namun semakin beranjak dewasa, mulailah kita belajar berjalan di atas kaki kita. Allah mulai mendisiplin kita untuk terus belajar secara rutin. Lambat laun kita akan semakin lancar, kedisiplinan meningkat seiring tanggung jawab kita sebagai orang yang dewasa rohani.
Kedisiplinan rohani bersumber dari Allah sesama orang percaya dan keberadaan batasan-batasan tertentu. Tidak ada seorangpun dapat berdisiplin seorang diri. Lewat teguran dan nasehat orang lain, kita dituntun agar tidak keluar dari rel kedisiplinan Allah. Ia ingin agar kita terus maju berjalan setapak demi setapak, menuju akhir perjalanan kita, dan tetap berada dalam jalur yang Allah telah sediakan. ( school of healing )

Refleksi : Selama ini apakah anda sudah hidup secara disiplin menurut keinginan Allah ?










































THE CROSS SPEAKS
English Day
Friday, 21 March, 2008
1 Corinthians 15:3-4
Christ died for our sins according to the Scriptures, and . . . rose again the third day.

Crosses decorate church steeples and designate burial places. Sometimes they mark the spot where people died in highway accidents. And they are often worn as jewelry. Crosses remind people of Jesus Christ. I was made aware of this when a businessman, seeing a small gold cross on the lapel of my jacket, asked me, "Why are you a believer in Christ?" I was glad for the opportunity to share my faith with him.
Jesus died on the cross for us, but we don't worship a dead Savior. Our Lord's body was taken down from the cross and placed in a tomb, and then on the third day He emerged in a glorified body.
The cross speaks to us of the total picture—our Lord's atoning death to pay the price for our sins, as well as His glorious resurrection to deliver us from the power of death. If it were not for what Christ did on the cross, we would all stand guilty before God and hopeless in the face of death. But through faith in Him, we receive the forgiveness of all our sins and the assurance that death cannot hold us.
Have you looked at the cross and placed your trust in the One who died there? It's the only sure and perfect remedy for guilt and fear. The cross upon which Jesus died Is a shelter in which we can hide; And its grace so free is sufficient for me, And deep is its fountain—as wide as the sea. ( Herbert Vander Lugt )











































EISENHOWER
Sabtu, 22 Maret 2008
Matius 10:42
Dan barang siapa memberi air sejuk secangkir sajapun...
ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya

Di dalam kehidupan ada banyak orang yang lugu dan baik hati. Namun pada umumnya seiring dengan standard moralitas umat manusia yang melorot, manusia kadang kala bisa beranggapan bahwa orang yang baik hati itu sangat tolol dan bodoh. Sesungguhnya baik hati adalah salah satu karakter yang sekarang jarang sekali terlihat dalam kehidupan umat manusia. Tuhan melindungi orang yang memiliki kebaikan hati yang dengan tulus memperhatikan dan mau menolong orang lain. Semua orang yang berkhianat dan licik di dalam masyarakat, seperti Hitler, Qin Hui dan sebangsanya, walau merasa diri sendiri pandai, toh akhirnya tak mampu mengandalkan pengkianatan dan kelicikannya untuk merubah nasib mereka yang berkesudahan dengan memalukan.
Suatu hari dalam perang dunia ke II, panglima tertinggi pasukan sekutu di Eropa, Eisenhower di suatu tempat di Perancis berkendaraan pulang menuju pusat komando untuk mengikuti rapat dadakan kemiliteran. Pada hari tersebut turun hujan salju dengan deras, udara terasa sangat dingin, mobil melaju seperti barisan tamu sepanjang jalan. Tiba-tiba ia melihat sepasang suami isteri Perancis duduk di pinggir jalan dan menggigil kedinginan. Ia segera memerintahkan penterjemah disebelahnya untuk turun menanyakan keadaan mereka. Seorang penasehat dengan sigap mengingatkannya: “Kita harus tiba di rapat pusat komando dengan tepat waktu, persoalan semacam ini sebaiknya diserahkan kepada pihak kepolisian setempat.” Akan tetapi Eisenhower bersikukuh: “Apabila menunggu pihak polisi datang, sepasang suami isteri tua ini barangkali sudah mati kedinginan!” Melalui tanya jawab baru diketahui bahwa sepasang orangtua tersebut sedang dalam perjalanan mengungsi ke Paris ke rumah anaknya, tetapi mobilnya malah mogok di tengah jalan. Di tempat itu selain jauh dari desa juga tak nampak adanya pertokoan, maka tak tahu bagaimana baiknya. Sesudah mendengar penuturan mereka Eisenhower segera meminta mereka menaiki kendaraan, malahan dengan khusus mengantar si pasangan tua tersebut ke Paris. Setelah itu barulah mereka menuju ke pusat komando.
Tidak pernah terpikir di benak Eisenhower melakukan hal tersebut dengan pamrih. Akan tetapi, apa yang ia perbuat membawa sebuah kisah yang luar biasa dalam hidup Eisenhower selanjutnya. Ternyata pada hari itu juga tentara penyergap Nazi-Jerman sudah sejak pagi mendekam di dekat jalan yang harus dilalui oleh mereka, tinggal menunggu momentum dimana mobilnya melintas maka dengan segera akan dilakukan pembunuhan rahasia. Andaikata bukan demi membantu si pasangan sepuh lalu merubah perjalanan berkendara mereka, ia kemungkinan besar akan sangat sulit terhindar dari malapetaka tersebut. Jikalau Eisenhower mengalami penyergapan dan gugur, maka sejarah perang dunia ke II sangat mungkin akan ditulis ulang.
Apakah yang paling berharga di dalam kehidupan manusia? Yu Guo menjawab dengan bagus: Baik hati. “Baik hati adalah mutiara langka di dalam sejarah, orang yang baik hati hampir boleh dikatakan lebih unggul daripada tokoh besar.” Penulis Amerika Mark Twain menyebutkan baik hati adalah semacam bahasa lintas global, ia bisa membuat orang buta “melek” dan orang tuli “mendengar”. Orang percaya mewujudkan kebaikan hati mereka karena mereka sebenarnya telah mengalami kebaikan hati Tuhan dan kemurahanNya. Hasil dari kemurahan hati justru adalah pengalaman bergantung pada Tuhan dalam proses interaksi serta dalam memenuhi kebutuhan kita. Ini adalah berkat tersendiri. ( zoe )
Refleksi : Jadi, bagaimana kita belajar menampilkan ciri khas kita sebagai orang percaya ? Mulailah melakukan hal-hal yang sederhana, yaitu memperhatikan orang lain dengan sadar: kebutuhannya, keinginannya, beban-bebannya, atau luka-luka batinnya. Di mana mereka ada? Mungkin di keluarga Anda. Kemudian, perhatikan orang-orang sewilayah di mana Anda berada…. Mungkin juga di tempat kerja. Sementara melaksanakan hal itu, coba lihat bagaimana Tuhan memberkati Anda.














FAKTA, BUKAN DONGENG
Minggu, 23 Maret 2008
1Korintus 15:1-19
Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu

Kebangkitan Kristus adalah batu penjuru bagi iman orang-orangKristen. Tanpa kebangkitan kita tidak memiliki pengharapan, baik untuk hidup masa kini maupun hidup yang akan datang. Itulah sebabnya mengapa sangat penting untuk memahami bahwa kepercayaan kita akan kebangkitan Kristus tidak didasarkan pada perasaan keagamaan tertentu maupun pada kabar burung yang tidak memiliki dasar kebenaran sama sekali, tetapi pada bukti yang kuat untuk mendukung hal itu.
Pada sekitar awal abad ini, sekelompok pengacara bertemu di Inggris untuk mendiskusikan penjelasan alkitabiah mengenai kebangkitan Yesus. Mereka mencari apakah ada cukup informasi yang tersedia untuk dipakai sebagai acuan untuk mengangkatnya sebagai suatu kasus di pengadilan hukum. Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa kebangkitan Kristus adalah suatu peristiwa dengan fakta-fakta yang paling kuat dalam sejarah!
Dalam bukunya yang berjudul _Countdown_ (Penghitungan Detik-detik Terakhir), G.B. Hardy mengajukan dua pertanyaan yang membuat orang berpikir: "Hanya ada dua persyaratan yang esensial: (1) Adakah orang yang mengalahkan kematian dan membuktikannya? (2) Apakah hal itu berarti bagi saya? Dan inilah faktanya: Kubur orang-orang terkenal di dunia berisi! Kubur Yesus kosong! Jangan salah meletakkan iman. Renungkanlah sekali lagi: Kepada siapa Anda menaruh kepercayaan Anda?"
Bukti sejarah dan kehidupan orang yang tak terhitung jumlahnya yang telah diubahkan membuktikan bahwa kebangkitan Yesus adalah fakta, bukan dongeng! Sudahkah Anda menaruh pengharapan pada Kristus yang bangkit? ( DCE )
Refleksi : Kebangkitan Kristus merupakan faktor dalam keselamatan karena hal itu merupakan fakta sejarah.






































KAIN DAN HABEL
Senin, 24 Maret 2008
Bible Background

Hawa mengalami sesuatu yang sebetulnya bersifat natural / alamiah ( menikah, lalu mengandung dan mendapat anak ). Tetapi ia toh menganggap bahwa ia mendapatkan anak itu dari Tuhan! Pekerjaan Kain adalah petani, Habel menjadi gembala. Manusia baru boleh makan daging pada Kej 9:3. Jadi Habel mungkin hanya menggunakan ternaknya untuk korban bagi Tuhan dan untuk diambil susunya. Setelah beberapa waktu mereka memberikan persembahan kepada Tuhan :
a) Pada waktu mereka memberikan persembahan kepada Tuhan, Kain memberikan hasil buminya, sedangkan Habel memberikan ternaknya. Persembahan Kain ditolak, persembahan Habel diterima.
b) Dari mana mereka tahu kalau persembahan mereka diterima / ditolak?
- Ada yang mengatakan bahwa asap persembahan Habel naik ke atas sedangkan asap persembahan Kain buyar ditiup angin.
- Sebagian orang Yahudi menganggap bahwa ada api dari langit membakar persembahan Habel.
- Calvin mengatakan bahwa hidup Habel selanjutnya lebih diberkati dari hidup Kain.
Ingat bahwa semua teori ini hanya perkiraan saja dan semua ini tidak ada dasar Kitab Sucinya! Kita tidak tahu dengan pasti bagaimana caranya mereka mengetahui apakah persembahannya diterima atau ditolak oleh Tuhan.
c) Mengapa persembahan Habel diterima sedangkan persembahan Kain ditolak? Dari Kej 4:3,4, Ibr 11:4 & 1Yoh 3:12 maka jelas bahwa alasannya adalah:
- Habel beriman, Kain tidak (Bdk. Ibr 11:6).
- Habel hidup baik, Kain hidup jahat.
- Habel memberikan yang terbaik, Kain asal memberi.
Ada orang yang memberikan alasan lain, yaitu: Habel memberikan korban yang berdarah, sedang Kain tidak (Bdk. Ibr 9:22). Tetapi banyak juga orang yang menolak alasan ini, karena pada saat itu mereka belum mengerti hal itu. Mari kita lihat tentang penerimaan / penolakan persembahan itu dalam ay 4b, 5a. Jelas sekali bahwa Habel (pribadinya) diterima dulu, lalu persembahannya juga diterima. Kain ditolak orangnya, lalu persembahannya juga ditolak (Bdk. Yes 1:15 Amsal 21:27). Persembahan saudara hanya bisa diterima oleh Allah kalau Allah telah lebih dulu berkenan kepada saudara. Kalau Allah tidak berkenan kepada saudara, berapapun besarnya persembahan saudara, Ia tidak akan menerima persembahan itu. Allah tidak bisa disogok!
Ketika persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan, maka saat itulah dosa mulai mengintip di depan pintu hatinya :
1) Marah (ay 5b).
2) Mengabaikan teguran Tuhan.
3) Membunuh Habel (ay 8).
4) Kain berdusta / melawan Tuhan (ay 9).



























UPAH KEBAIKAN HATI SEORANG ANAK KECIL
Selasa, 25 Maret 2008
Matius 5:13-16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Di masa Dinasti Yuan, pada abad ketujuh belas, seorang anak pergi ke pasar untuk belanja sayur, buat lauk keluarganya. Pagi-pagi buta, hari masih gelap. Di tengah jalan, ia menemukan bundelan. Celingak-celinguk ke kanan-kiri, tak dilihatnya seorang pun. Diambilnya bundelan itu, dan ia mendapati uang perak sebanyak 150 keping. Tergetar oleh ketakjuban terhadap jumlah uang yang belum pernah ia lihat dan pegang itu, buru-buru ia tutup bundelannya, dan bergegas ke pasar. Hari ini benar-benar istimewa, dan karena itu sepantasnyalah bila ia ingin merayakannya. Diambilnya satu keping perak, dan dengan itu tidak hanya sayur yang ia beli, tetapi juga beras, daging, dan bahan makanan lain sebagai persediaan. “Ibu, Ibu, lihat!” katanya sesampai di rumah, hampir berbisik, sambil meletakkan barang belanjaannya. “Aku dapat uang di jalan, Bu. Seratus lima puluh keping perak!”
“Apa?!” Ibunya membelalak kaget campur gembira. Uang sebanyak itu baginya seperti sihir yang bisa membalikkan kemurungan menjadi suka cita. Tapi tak lama. Segera ia ingat kebijaksanaan tradisional yang diyakini oleh orang-orang sederhana di desa. “Kamu jangan macam-macam, nak! Bisa saja orang kehilangan uang … satu dua kepeng uang recehan jatuh di jalan, tapi tak mungkin satu bundel uang perak begini! Awas kalau kamu mencuri! Anak itu terdiam. Tak disangka, ibunya justru curiga. Karena diamnya itu, ibunya justru semakin percaya bahwa anaknya telah mendapatkan uang itu dengan cara-cara yang tidak jujur. “Ayo kembalikan, atau kamu kulaporkan kepada prajurit punggawa kerajaan!” “Ibu, aku benar-benar menemukannya di jalan. Aku tidak mencuri, Bu, bagaimana aku bisa mengembalikan kepada pemiliknya?”
“Kalaupun kamu menemukannya, itu pun bukan hak kita. Tak sepantasnya kita hidup senang di atas kesusahan orang lain yang kehilangan miliknya yang berharga. Pergi kembali ke sana, dan tunggu saja di dekat tempat kamu menemukannya. Kalau ada yang mencari-cari, kamu akan tahu kepada siapa kamu harus mengembalikannya! Anak itu pergi ke tempat bundelan itu ditemukan. Ketika ada orang yang mencari-cari sesuatu, ia mendekatinya. Anak itu memang amat lugu. Ketika tahu bahwa orang itu mencari uangnya yang hilang, tanpa tanya berapa jumlahnya, ia segera menyerahkan bundelannya. Seorang yang kebetulan lewat dan menyaksikan adegan itu, menyarankan kepada si empunya bundelan untuk menghadiahi anak itu.
“Hadiah? Hadiah apa?! Saya kehilangan 300 keping perak, dan katanya dia hanya menemukan 150. Itu pun kurang satu keping karena telah dia belanjakan! Di mana 150 keping yang lain?! Kalau saya harus memberi hadiah, kekurangan 151 keping itu sudah jauh lebih dari sekadar hadiah!” katanya sengit. Ucapan itu tentu saja menimbulkan pertengkaran mulut antara anak yang menemukan bundelan dengan orang yang tak tahu diuntung itu, karena anak itu merasa ia hanya menemukan 150 keping perak bukan 300 keping. Pertengkaran itu menjadi berkepanjangan, dan untuk memecahkan masalahnya, mereka menghadap Tetua Desa. Sementara Tetua Desa menanyai kedua orang itu, dia juga mengutus orang untuk mencari tahu perkaranya dari ibu anak itu. Ketika diketahui bahwa cerita anak tersebut sesuai dengan cerita ibunya, Sang Tetua mendekati orang yang mengaku kehilangan 300 keping perak.
Sang Tetua berhenti sejenak agar para hadirin memiliki kesempatan untuk menimbang betapa anak itu punya niat baik untuk mengembalikan temuannya. “Karena itu, saudara sekalian, saya simpulkan bahwa uang 150 keping perak yang ditemukan oleh anak ini adalah anugerah Tuhan untuknya. Inilah upah untuk anak yang lurus hati dan tidak serakah ini… Kita semua mendengar tadi, bahwa anak ini telah menyerahkan bundelan uang itu, kepada orang yang dikira si empunya. Sekali lagi, dikira si empunya! Tetapi, ternyata ia keliru sangka, sebab saudara kita, saudagar kaya dari kota ini, tidak kehilangan 150, tetapi 300. Karena itu, dengan kuasa penuh yang selama ini saya miliki untuk memutuskan perkara, uang ini saya serahkan kepada anak ini, karena dialah yang memang berhak atasnya. Sedangkan saudara kita, saudagar kaya dari kota, saya persilakan untuk mencari uangnya yang hilang di tempat lain. Kita semua ikut berharap, semoga dia masih bisa menemukannya di suatu tempat di sepanjang jalan yang tadinya dia lalui!” Tok! Tok! Tok! Ketukan palu telah menutup sidang perkara itu. Hadirin merasa bahwa putusan itu benar-benar masuk akal dan adil. Banyak di antaranya yang mengulum senyum dan bertepuk gembira karena mengetahui ironinya. ( zoe )
Refleksi : seringkali ketika kita mau melakukan kebaikan di dalam kehidupan sehari-hari, kita mendapatkan banyak tantangan dan kesulitan dari orang-orang yang mengira kita sedang bermain sandiwara ataupun mereka menganggap kita berusaha menonjolkan diri sendiri. Tetapi percayalah kebaikan dan ketulusan yang berasal dari hati akan menjadi berkat bagi orang lain. Bahkan dalam kotbah di bukit Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa sebagai orang percaya kita haruslah menjadi garam dan terang yaitu menampilkan buah roh yaitu kebaikan sehingga semua orang melihat bahwa ada Kristus dalam hati kita dan memuliakan nama Bapa di sorga.

dr. AIAI ( DESY )
Rabu, 26 Maret 2008
Lukas 10:25-37
Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"

Seorang dokter muda yang lebih akrab dipanggil Ai-ai mengungkapkan, “Pada akhirnya saya menyadari bahwa menjadi dokter memang menjadi profesi sekaligus panggilan saya. Saat ini saya dengan suka cita menjalaninya karena dengan menjadi dokter bisa melayani sesama, khususnya orang yang sedang sakit. Dalam permenungan saya sebagai seorang kristen akhirnya saya harus berani mengatakan bahwa inilah jalan masuk saya untuk dapat melayani dengan penuh kasih seperti halnya yang dilakukan oleh Yesus sendiri. Saya sangat bahagia, karena dengan inilah saya merasakan bahwa Tuhan menggunakan saya sebagai perpanjangan tangannya, dan saya sadar bahwa sebagai dokter saya hanyalah perantara, karena saya yakin bahwa kesembuhan datang dari Tuhan.
Jika seseorang sudah mengenal Yesus, dia harus berusaha menjadi pelaku firman. Oleh karenanya saya juga berusaha untuk mendekatkan diri padaNya melalui profesi dan pelayanan saya sebagai dokter saat ini.” Lalu bagaimana kalau ada pasien yang miskin ? Dokter yang dulunya bercita-cita menjadi arsitek ini menyatakan siap melayani secara gratis. “Bahkan kalau memang perlu saya rela jika harus dibayarkan dari gaji saya. Karena apa, karena setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, tanpa harus dipandang kaya atau miskin!” Sedangkan sebagai dokter, jika tidak menemukan suatu penyakit pada pasien, ia berani jujur pada kemampuannya yang mungkin masih terbatas. “Jika terjadi hal semacam itu pertama saya anjurkan pasien untuk memeriksakan diri pada dokter yang lebih mampu dari saya. Tetapi jika memang pasien itu sebenarnya tidak sakit, yah saya harus jujur juga katakan mungkin pasien tersebut sakit secara psikis, misalnya stress atau apa, maka perlu diajak bicara (konseling dan sebagainya) sebagai teman.” Meski bukan menjadi cita-citanya, tetapi saat ini Desy harus menjalankan hidupnya sebagai seorang dokter. Hari-harinya disibukkan dengan profesi dan panggilannya tersebut yang mungkin juga tidak pernah lepas dari berbagai persoalan dan tantangan. Oleh karenanya mau tak mau ia juga harus berusaha menghidupi semangat pelayanan sebagai dokter.
“Bagi saya dokter merupakan salah satu rencana Tuhan dalam kehidupan pribadi saya. Oleh karenanya saya juga harus berusaha berpikir positif dan memahami satu sama lain, terutama pada teman-teman kerja dan pasien apabila sedang mengalami suatu masalah. Dalam menjalankan tugas misalnya sedang memeriksa pasien dan menuliskan resep, saya juga berdoa supaya tidak salah dan semoga pasien bisa tertolong. Kalau boleh saya juga menyampaikan pesan bagi teman-teman seprofesi: Sebagai dokter, kita harus bisa melayani dengan penuh kasih, jangan hanya berpikir pada materi/ uang yang akan didapat. Jika ada pasien yang datang, bahkan pada malam hari sekalipun dan harus membangunkan kita, jangan pernah menolaknya. Justru dengan demikian berarti mereka sungguh memerlukan bantuan kita sebagai dokter. Oleh karenanya harus dilayani dengan semestinya.” Ungkapnya mengakhiri wawancaranya. ( Kesaksian dr. Aiai )
Refleksi : Kisah kesaksian dari dr. aiai ini membuat setiap orang yang membaca terhenyak, ternyata masih banyak orang yang begitu peduli kepada orang lain. Dalam pekerjaannya sebagai seorang dokter dia tetap meluangkan waktu untuk memperhatikan kebutuhan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Sungguh malu rasanya ... kalau membandingkan diri dengan si dokter ini !















TIDAK ADA ALASAN
Father’s Heart
Kamis, 27 Maret 2008
Roma 1:18-32
Mereka tidak dapat berdalih


Derek adalah seorang yang terlibat dalam penyalahgunaan obat bius yang datang meminta pertolongan pada Bill dan Joanie Yoder. Setelah melewati waktu berjam-jam menjawab berbagai pertanyaannya dari Alkitab, Derek berkata, "Kelihatannya menjadi lebih mudah bagi saya untuk datang kepada Allah setelah apa yang saya lakukan dan berkata kepadaNya, 'Baiklah, Allah, bagaimana dengan pengampunan saya?' Akan berbeda apabila saya bisa berkata bahwa saya belum tahu hal-hal yang lebih baik dari apa yang telah saya lakukan. Namun saya tahu bahwa apa yang telah saya lakukan itu salah, tidak hanya setelah saya melakukannya, tetapi juga pada saat saya sedang melakukannya."
Derek telah menemukan suatu kebenaran yang penting: Kita tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menutupi dosa kita. Allah menjaga kita dengan penuh tanggung jawab, karena melalui suara hati Dia menyatakan hukum-hukumNya kepada semua orang di dunia. Pada saat ciptaanNya menyatakan kuasa dan keagungan Allah ( Roma 1:20 ), suara hati menggemakan hukumNya sehingga tak seorang pun yang dapat berdalih ( Roma 2:15 ).
Bill dan Joanie menjelaskan kepada Derek bahwa satu-satunya harapan kita untuk lepas dari rasa bersalah adalah, tanggung jawab kita dibarengi dengan keyakinan: Allah memberikan pengampunan sebagai pemberian cuma-cuma dalam iman kepada Yesus Kristus, yang mati menggantikan kita di atas kayu salib. Akhirnya Derek menerima pengampunan Allah.
Jika kita tidak mau mengakui dosa, kita tidak akan dapat memiliki pengampunan Allah. Dia tidak mau menerima alasan apapun. JIKA KITA BERDALIH UNTUK TIDAK MAU MENGAKUI DOSA-DOSA KITA TIDAK AKAN DIAMPUNI ( JDJ ).




































ARMED AND EXTREMELY EFFECTIVE
Friday, 28 March, 2008
Ephesians 6:10-18
We do not wrestle against flesh and blood, but against . . . spiritual hosts of wickedness.

Last January, the police officers in Tijuana, Mexico, had their guns confiscated. It was suspected that some of them had been in collusion with drug traffickers. At first, fearing for their safety, the police stopped patrolling. But eventually, some of them returned to work—carrying slingshots. Three weeks passed before their more effective weapons were returned to them.
Although we all remember a shepherd boy who used a sling and a single smooth stone with great success in his encounter with a giant (1 Sam. 17), few of us would have the courage to face violent threats armed with such puny protection. But every day, although we are often ill-prepared, we do face a threat. As believers, we fight against an enemy we cannot see. Our struggle is not “against flesh and blood, but against . . . spiritual hosts of wickedness” (Eph. 6:12). The outcome of this battle is sure, however. Jesus is the Victor. And using the armor and weapons He supplies, we are able “to stand” (v.13). We fight in His power and strength.
Each day we must put on the armor of God—the breastplate of righteousness, the shield of faith, and the sword of the Spirit, God’s Word (vv.13-17). Preparation and protection are the key to winning spiritual battles. Though fierce the hatred of our foe Whose legions seek to work us woe, He can’t destroy the Living Word Nor those who own Him as their Lord. ( Cindy Hess Kasper )










































MENANAM KEBAIKAN
Sabtu, 29 Maret 2008
Galatia 6:1-10
Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya

Alkisah, di suatu kerajaan, sang raja merasa masygul. Ia merasa hatinya gundah. Semenjak ia melanjutkan tugas dan tanggung jawab ayahandanya untuk memerintah dan mengatur agar seluruh rakyat dapat hidup aman, tenteram & sentosa, ia telah berusaha sebaik-baiknya tetapi akhir-akhir ini ia merasa jenuh. Semua bebannya yang ditanggungnya dirasakan demikian berat, dan hidup menjadi rutinitas tiada akhir dan membosankan. Sehingga ia memutuskan untuk berlibur, menikmati hidup bukan sebagai raja melainkan sebagai rakyat jelata, sekaligus untuk melihat-lihat dari dekat hasil jerih payahnya selama ini.
Sepanjang masa liburnya, raja sebenarnya cukup terhibur melihat kemajuan kerajaannya. Ia dapat melihat bahwa rakyatnya hidup berkecukupan, pemerintahan berjalan dengan cukup baik, walaupun ada hal2 yang masih bisa ia sempurnakan. Tetapi, entah mengapa, semakin ia nikmati liburannya, rasanya semakin malas ia untuk kembali ke istana. Sesampainya ia disebuah bukit yang penuh dengan pohon, ia tertegun. Dilihatnya, seorang tua renta sedang bekerja dengan penuh semangat sambil menanam sebuah pohon.
Kagum, raja menghampirinya. Seraya mengucap salam, raja bertanya “Wahai orang tua, engkau demikian bersemangat sekali. Apa yang engkau tanam?” “Saya sedang menanam pohon zaitun” jawab sang kakek. “Sebanyak ini? Untuk apa? Lagipula, bukankah pohon zaitun baru berbuah 6-7 tahun kemudian ? Melihat usia kakek, mungkin kakek tidak bisa lagi mengunyah dan menikmati buahnya, lantas apa untungnya?” Raja semakin heran.
“Tuan, saya memang tidak berniat untuk merasakan manfaat dari pohon yang saya tanam ini. Saat pohon ini berbuah, belum tentu saya masih hidup. Saya menanam pohon-pohon ini, karena buah zaitun yang selama ini saya nikmati juga berasal dari pohon yang ditanam oleh orang sebelum saya. Saya ingin membalas kebaikan mereka dengan menanam kebaikan yang sama. Membayangkan buah zaitun yang berlimpah yang bisa dinikmati banyak keluarga, pohon yang hijau & rindang yang memberikan naungan dari terik dan hujan, minyak zaitun yang memberi manfaat, semua itu membuat saya bersemangat untuk menanam pohon sebanyak yang saya bisa”.
Raja tercenung mendengar jawaban sang kakek. Ia tak hanya melihat ketulusan dan kebaikan hati sang kakek, tetapi ia juga melihat motivasi yang menggerakkan sang kakek ini. Diakuinya, ia juga merasa bosan dengan pekerjaannya. Walau ia berusaha memerintah dengan sebaik-baiknya, itu semua dilakukan untuk menghormati kebesaran ayahnya, raja terdahulu dan agar warisan ayahnya tetap terjaga dengan baik. Itu semua adalah beban yang harus ditanggungnya sebagai penerus tahta. Tapi, kini ia bisa melihat bahwa semuanya terserah dirinya, apakah ia memilih melihatnya sebagai beban, atau fokus pada gambaran indah yang bisa dicapainya. Raja tersenyum dan berkata, “Wahai orang tua, ketahuilah bahwa aku sebenarnya adalah Rajamu. Kebaikanmu telah mengajarkan aku. Sebagai ungkapan rasa terima kasihku, terimalah hadiah dariku” lantas ia memberikan sekantung uang dirham kepada sang kakek. Dengan hormat, kakek itu menerima hadiah tersebut, tersenyum dan berkata “Terima kasih tuanku raja. ” ( zoe )
Refleksi : Adalah keputusanmu, pilihanmu sendiri, apakah hidup untuk menanggung beban, atau mengejar tujuan yang di depan. Janganlah jemu-jemu menanam kebaikan karena cepat atau lambat kamu akan menuai apa yang telah kamu kerjakan. Karena apa yang kita tabur itu juga yang akan kita tuai nantinya.





















MENGHARGAI KEBAIKAN
Minggu, 30 Maret 2008
Efesus 6:1-9
Hormatilah ayahmu dan ibumu - ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Di sebuah keluarga, tinggallah seorang ayah dengan putra tunggalnya yang sebentar lagi lulus dari perguruan tinggi. Sang ibu beberapa tahun yang lalu telah meninggal dunia. Mereka berdua memiliki kesamaan minat yakni mengikuti perkembangan produk otomotif. Suatu hari, saat pameran otomotif berlangsung, mereka berdua pun ke sana. Melihat sambil berandai-andai. Seandainya tabungan si ayah mencukupi, kira-kira mobil apa yang sesuai budget yang akan di beli. Sambil bersenda gurau, sepertinya sungguh-sungguh akan membeli mobil impian mereka.
Menjelang hari wisuda, diam-diam si anak menyimpan harapan dalam hati, "Mudah-mudahan ayah membelikan aku mobil, sebagai hadiah. Setelah lulus, aku pasti akan memasuki dunia kerja. Alangkah hebatnya bila saat mulai bekerja nanti aku bisa berkendara ke kantor dengan mobil baru," harapnya dengan senang. Membayangkan dirinya memakai baju rapi berdasi, mengendarai mobil ke kantor.
Saat hari wisuda tiba, ayahnya memberi hadiah bingkisan yang segera dibukanya dengan harap-harap cemas. Ternyata isinya adalah sebuah Alkitab di bingkai kotak kayu berukir indah. Walaupun mengucap terima kasih tetapi hatinya sungguh kecewa. "Bukannya aku tidak menghargai hadiah dari ayah, tetapi alangkah senangnya bila isi kotak itu adalah kunci mobil," ucapnya dalam hati sambil menaruh Alkitab tersebut kembali ke kotaknya.
Waktu berlalu dengan cepat, si anak diterima kerja di kota besar. Si ayah pun sendiri dalam kesepian. Karena usia tua dan sakit-sakitan, tak lama si ayah meninggal dunia tanpa sempat meninggalkan pesan kepada putranya. Setelah masa berkabung selesai, saat sedang membereskan barang-barang, mata si anak terpaku melihat kotak kayu hadiah wisudanya yang tergeletak berdebu di pojok lemari. Dia teringat itu hadiah ayahnya saat wisuda yang diabaikannya. Perlahan dibersihkannya kotak penutup, dan untuk pertama kalinya kitab suci hadiah pemberian si ayah dibacanya.
Saat membaca, tiba-tiba sehelai kertas terjatuh dari selipan kitab suci. Alangkah terkejutnya dia. Ternyata isinya selembar cek dengan nominal sebesar harga mobil yang diinginkan dan tertera tanggalnya persis pada hari wisudanya. Sambil berlinang airmata, dia pun tersadar. Terjawab sudah, kenapa mobil kesayangan ayahnya dijual. Ternyata untuk menggenapi harga mobil yang hendak dihadiahkan kepadanya di hari wisuda. Segera ia pun bersimpuh dengan memanjatkan doa, "Ayah maafkan anakmu yang tidak menghargai hadiahmu …. Walau terlambat, hadiah Ayah telah kuterima…… Terima kasih Ayah.. amin".
Tidak jarang para orang tua memberi perhatian dengan alasan dan caranya masing-masing. Tetapi dalam kenyataan hidup, karena kemudaan usia anak dan emosi yang belum dewasa, seringkali terjadi kesalahfahaman pada anak dalam menerjemahkan perhatian orang tua. Jangan cepat menghakimi sekiranya harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya tidak menjadikan kita manja hingga selalu menuntut permintaan. ( zoe )
Refleksi :Mari belajar menjadi anak yang pandai menghargai setiap kebaikan dan perhatian serta kasih sayang dari orang tua, selama mereka masih ada. Jika kita tidak melakukan suatu saat kita pasti akan sangat menyesal.






















SILSILAH ADAM
Senin, 31 Maret 2008
Bible Background

I) Silsilah Adam - Nuh.
Silsilah ini berisikan nama-nama dari 10 orang yaitu: Adam, Set, Enos, Kenan, Mahalaleel, Yared, Henokh, Metusaleh, Lamekh, dan Nuh. Kalau kita bandingkan dengan silsilah Adam-Nuh dalam 1Taw 1:1-4 dan Luk 3:36-38, maka kita bisa melihat baik nama-namanya maupun urut-urutannya adalah persis sama. Orang-orang dalam silsilah ini mempunyai persamaan-persamaan yaitu:
a) “Gambar dan rupa Adam” (ay 3).
Ini berlaku untuk Set dan semua keturunan Adam yang lain. Artinya:
- Gambar dan rupa Allah dalam diri manusia, sekalipun memang dirusak oleh dosa, tetapi tidak hilang sama sekali (Bdk. 1Kor 11:7 Yak 3:9).
- Semua manusia berdosa sama seperti Adam (dosa asal).
b) Umur panjang.
Mengapa umur mereka bisa panjang :
- Zaman itu masih belum ada polusi.
- Mereka hidup sehat.
- Allah menghendaki demikian supaya manusia cepat berkembang biak
- Kejadian 1:6-7 menyebutkan “air di atas,” suatu “kanopi/langit-langit” air yang mengelilingi bumi. “Kanopi air” semacam ini dapat menciptakan “efek rumah kaca” atas seluruh bumi dan menghalangi bagian besar dari radiasi yang sekarang ini menerpa bumi. Hal ini akan menghasilkan lingkungan hidup yang ideal di bumi ini. Hal ini lebih kelihatan khususnya kalau kita memperhatikan betapa cepatnya umur manusia menciut setelah air bah. Kejadian 7:11 mungkin saja mengindikasikan, pada saat air bah, “kanopi air” itu dicurahkan ke atas bumi sehingga mengakhiri lingkungan hidup yang ideal. Bandingkan umur sebelum air bah (Kejadian 5:1-32) dengan umur sesudah air bah (Kejadian 11:10-32). Segera setelah air bah, umur manusia merosot secara dramatis.
- Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa dalam beberapa generasi pertama setelah Penciptaan, kode genetik manusia belum menghasilkan banyak cacat. Adam dan Hawa diciptakan dengan sempurna. Pastilah mereka memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit. Keturunan mereka mewarisi kelebihan ini, namun dengan tingkat yang lebih rendah. Setelah jangka waktu tertentu, sebagai akibat dari dosa, kode genetik manusia makin rusak, dan manusia menjadi makin rentan terhadap kematian dan penyakit. Hal ini akan mengurangi umur hidup secara drastis.

2) Mereka masing-masing mempunyai banyak anak, tetapi hanya satu yang dipilih.
Allah pertama kali menyatakan kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi bangsa milik Tuhan. Tetapi jauh sebelum itu, Allah sudah bekerja untuk memilih! Sekalipun manusia tidak mengetahui hal itu, tetapi Allah bekerja untuk melaksanakan rencanaNya. Dalam hidup saudara, Allah juga terus bekerja, sekalipun saudara tidak melihat / merasakan hal itu.

3) Semua mati (kecuali Henokh).
Ini penggenapan dari Kej 3:19 (Bdk. Roma 5:14).
Tetapi di tengah-tengah berita bahwa semua harus mati, ada bagian tentang Henokh yang tidak mengalami kematian! Di sini kita melihat suatu harapan! Ada kemenangan bagi orang yang percaya!

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home