April mop
TALENTA DAN KESETIAAN
Selasa, 1 April 2008
Matius 25:14-30
Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia! Engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu
Kenji Nagai. Nama ini tiba-tiba menyentak saya. Di sebuah koran terdapat ulasan tentangmu begitu menyayat. Lebih-lebih, ketika melihat sebuah foto terpampang, bagaimana kau terkapar di jalan, tertembus peluru junta militer dengan kamera masih ditangan. Saya memang bukan seorang wartawan, tapi menyaksikan nasibmu yang begitu tragis disaat bertugas menjalankan sebuah profesi, sungguh, sebuah kesan haru sulit untuk terlupakan begitu saja. Ya, Nagai (50) adalah seorang wartawan asal Jepang yang tewas tertembak peluru militer Myanmar pada huru-hara politik beberapa waktu lalu. Di kampung halamannya sana, Imabari, Jepang, tangis kesedihan juga tak terbendung. Ibunya yang dilansir media mengatakan “Saya tidak dapat tidur semalaman memikirkan banyak hal tentang anak saya”. Begitu kata perempuan renta berusia 75 tahun itu.
Lantas, apa maknanya bagi kita. ..? Bagi saya yang bukan seorang wartawan saya salut dengan dedikasi yang tinggi dari Kenji Nagai. Saya belajar dari kisah hidup wartawan perang ini. Satu hal yang membekas adalah kesetiaannya pada pekerjaannya. Umur 50 tahun, masih begitu aktif turun kelapangan, meliput, mencari berita dan mengabarkannya kepada publik. Saya tak tahu alasan apa sebenarnya dia masih mau bekerja “lapangan” pada umur yang saya rasa cukup tua itu. Mencintai pekerjaan, setia kepada profesi itu perlu. Umur manusia jaman sekarang pendek saja. Rata-rata, tak akan lebih dari seratus tahun. Dalam jangka waktu yang pendek itu, sejarah memang harus bisa tertoreh. Dalam arti, apa yang akan kita berikan untuk kehidupan ini. Setidaknya, paling lambat umur 25 tahun sudah jelas tentang apa yang mesti kita kerjakan. Profesi kita di umur itu apa, kemudian, apa yang mesti kita perbuat untuk 10 atau 20, 30 tahun mendatang.
Inilah pertanyaan penting, tapi tak perlu dijawab. Cukup direnungkan saja. Pada akhirnya, kita memang mesti sadar umur. Saya sendiri agak terlambat menyadari hal ini. Tapi, setidaknya masih ada sedikit asa. Saya akan setia menjalankan profesi sebagai seorang pengajar dan penulis sampai akhir hayat nanti. Tentu, godaan pastilah ada. Tepatnya, tuntutan atas penghidupan yang layak. Klasik memang, saya sampai bosan dan malas menuliskan alasan ini. Tapi rupanya memang tak baik untuk dikesampingkan. Mungkin, saya nanti akan bekerja apapun (asalkan halal), tapi saya tetaplah melayani Tuhan, mengajar dan menulis. Sejarah saya adalah kata-kata. Belajar untuk setia dan hati yang terbeban itulah yang bisa saya sumbangkan untuk kehidupan ini. Kemarin saya mengingat kisah mengenai talenta yang dicerita oleh Matius, saya sadar bahwa talenta yang ada di saku celana saya sedikit sekali mungkin hanya ada satu. Seringkali terpikir bahwa apa yang saya miliki tidak berarti sama sekali. Untuk apa, Cuma satu talenta ? coba jika saya punya lima atau sepuluh bukankah itu lebih baik.
Tiba-tiba saya ingat sebaris kata yang seringkali diucapkan oleh mama, ” Sebelum mengharapkan besar, alami yang kecil dulu. ” Ha ... ha...ha... maaf jika saya tertawa, kata-kata itu membuatku sadar dan menjadi malu. Satu talenta, dua talenta, atau lebih yang kita terima akan menjadi berlipat ganda jika kita dengan setia dan tekun mengerjakan serta mengembangkannya. Tulisan ini bukan untuk menghakimi atau dihakimi, yang membaca juga tidak akan dipenjara atau ditangkap karena sama sekali tidak berisikan ajaran-ajaran sosialis ataupun menjelek-jelekan paham orang lain. Hanya penulis mau kita mengambil waktu sejenak, duduk sambil minum kopi, mengambil kertas dan pena serta menuliskan : ” Apakah saya sudah setia terhadap talenta yang dipercayakan Tuhan selama ini ? ” Kalau pertanyaan begini, saya angkat tangan, Only God Knows Bro ... ? ( Julius caesar )
Refleksi : Kuatkah hati kami untuk setia melayani dan memberikan yang terbaik dari apa yang telah Engkau percayakan kepada kami ya .. Allah.
WAKTU DEMI WAKTU
Rabu, 2 April 2008
Ulangan 5:32
Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri.
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?"
Ayahnya menjawab sambil tersenyum, "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" ,tanyanya lagi.
Ayahnya berkata: "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?"
Lagi-lagi ayahnya berkata, "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" gadis kecil itu bertanya lagi. Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab, "Mmm.. mungkin bisa, nak."
"Lalu.... bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, yah? Bisakah?"
Ayahnya tertawa dan berkata, "Nah, kalau itu pasti bisa, nak."
Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata, " Kalau begitu ayah, aku mau dengan setia untuk memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, momen demi momen, supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya?"
Kisah gadis kecil ini mengingatkan kepada kita bahwa sebagai anak-anak Tuhan kita semua diharapkan oleh-Nya untuk setia memperhatikan setiap langkah hidup kita agar sejalan dengan apa yang Tuhan inginkan. Haleluyah ! ( zoe )
Refleksi : Mari memperhatikan setiap langkah, setiap jam hidup kita agar dengan setia kita melakukan dan menjaga kehidupan tidak bercela dihadapan Kristus Yesus.
LIHAT DIRIMU SENDIRI!
Father’s Heart
Kamis, 3 April 2008
1Korintus 11:17-32
Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita
Kantor tenaga kerja di Tucson, Arizona, mengumumkan sesuatu yang menarik yang dipasang dengan menyolok di kaca kantornya. Menunjuk kepada para pencari kerja, pengumuman tersebut bertuliskan, "Bersediakah Anda menggaji orang ini?" Pada kaca kantor yang lain, terdapat tulisan yang menjawab pertanyaan ini, "Apakah Anda benar-benar siap untuk bekerja?" Evaluasi diri, itulah yang ingin disampaikan oleh Rasul Paulus dalam 1Korintus 11:1-34. Ia mengatakan bahwa orang-orang yang percaya kepada Kristus perlu menguji diri mereka sendiri, untuk menghindarkan hukuman Tuhan karena ketidaklayakan mereka mengambil bagian dalam pelayananNya. "Masalah yang nampak" dalam gereja Korintus ini merupakan masalah yang cukup serius. Orang-orang Kristen di sana "terlihat" mengerikan. Mereka sering mabuk-mabukan dan bertengkar antar mereka sendiri ketika diusulkan suatu perayaan Perjamuan Terakhir Tuhan Yesus bersama dengan murid-muridNya. Karena itu Paulus hendak berkata dengan tegas bahwa, "Lihat dirimu sendiri. Apakah yang salah! Jika kamu tidak hidup lurus, Tuhan akan mengajar kamu". Rasul Paulus menambahkan fakta yang sederhana bahwa Allah telah mulai "membersihkan" gereja. Ini merupakan suatu kebenaran yang bernada keras, namun saat ini setiap gereja perlu mendengarnya.
Peringatan ini juga mengandung suatu pengharapan. Jika kita menguji diri kita sendiri dan menyesali dosa-dosa kita, kita tidak akan dihakimi oleh Allah ( MRD )
Refleksi : Mengevaluasi diri adalah ujian bagi setiap orang Kristen tanpa terkecuali !
THE BEST FRIEND
Friday, April 4, 2008
John 15:9-15
Greater love has no one than this, than to lay down one’s life for his friends
It’s an honor I cherish, and one I seek to live up to—but I don’t always do it. It’s the privilege of hearing my wife say, “You’re my best friend,” which she does often. As much as I love her, though, I occasionally do something that is not so “best friend-ish.”
In reality, no matter how hard we try, we cannot live up to the high standard of being a friend who never lets others down. We all fail from time to time—forgetting to do what we should or simply allowing selfishness to build a barrier between us.
As believers, we take comfort in knowing that we are called a friend of God, and He is a true friend who will never falter. Michael Gungor’s joyous song “Friend of God” captures the wonder of this relationship when it asks, “Who am I that You are mindful of me?”
Abraham was called “the friend of God,” and that friendship was related to his faith (2 Chron. 20:7; James 2:23). Jesus explained how we can receive that designation as well. He said to His disciples, “You are My friends if you do whatever I command you” (John 15:14). There is no better friend, for we know that He will never leave us nor forsake us (Heb. 13:5).
Looking for the best friend ever? You can’t do better than the Lord Himself. (Dave Branon)
I’ve found a Friend, O such a Friend!
He loved me ere I knew Him;
He drew me with the cords of love,
And thus He bound me to Him. —Small
SAHABAT
Sabtu, 5 April 2008
Amsal 17:17
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan
menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
Pabila si dia berasing diri,
Masih sentiasa bersama meskipun hanya di hati,
Sebab dia begitu tulus,
Selalu ingin bertanya khabar dalam kudus,
Si dia yang setia itu memahami,
Persahabatan tidak mungkin boleh dirancang,
Hanya mampu bersedia,
Dia mengajarmu persahabatan itu terjadi,
Hanya bilamana dua insan saling memberi,
Hadiah yang melindungimu setiap hari.
Bersahabat itu dia kata,
Terbit bila segala rasa bersama,
Walau senyuman cuma,
Ia merentas masa dan batas ruang, bilangnya.
Dunia ini sekitarnya berubah,
Tiada yang kekal gagah,
Namun setia kawan tetap tak tergugah,
Diuji masa tiada kalah,
Sambil merawat hilang segala luka dan resah.
Ya Tuhan,
Berkatilah hati ini, demikian aku berdoa!
Moga ia selamat, baik fajar siang mahupun malam gulita.
Aku mahu kau berjanji sahabat,
Kau akan kuat,
Takkan dibiar gelap pada nyanyian dan semangat,
Janji padaku lagi hai teman,
Setia itu tidak pernah mati,
Kita tetap sahabat setia walau hanya iman di hati! (zoe)
Refleksi : Apa maksud dari puisi ini, cobalah untuk membaca
dengan menyelami isi dan maksud dari puisi ini ?
YESUS, SAHABAT SETIA ( 1 )
Minggu, 6 April 2008
Yohanes 15: 9-17
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Seorang profesor mempunyai seorang anjing yang bernama Scooby, Anjing itu sangat baik dan setia. Suatu hari Bapak Profesor itu akan bepergian jauh. Bapak profesor itu berpesan kepada anjingnya agar menjaga rumahnya baik–baik. Scooby seolah–olah tahu apa yang harus dilakukan untuk tuannya. Anjing itu mengangguk sedih karena akan ditinggal tuannya.
Bapak profesor pergi dengan naik kereta api. Ketika melewati suatu jembatan, kereta yang ditumpangi Bapak profesor itu masuk ke sungai. Banyak penumpangnya tewas, termasuk pak profesor itu.
Berhari–hari Scooby menunggu tuannya. Hari demi hari ia menunggu. Bulan demi bulan ia menanti tuannya. Ia tidak mau makan. Ia sedih karena tuannya belum juga datang. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan tuannya. Sambil melolong ia berjalan kian kemari. Sudah lama ia tidak makan, karena tuannya tidak datang–datang juga. Pada suatu hari seorang tetangga mendapati Scooby mati tergeletak di halaman rumah bapak profesor. Orang itu tahu bahwa anjing itu si Scooby, anjing pak profesor. Mereka tahu bagaimana kesetiaan anjing itu kepada tuannya. Kemudian mereka membuat patung anjing untuk mengenang kesetiaan Scooby.
Kita semua adalah orang berdosa. Kita semua, bagaikan sedang naik perahu menuju kepada maut yaitu kematian, karena dosa–dosa kita. Namun kita mempunyai seorang sahabat yang baik dan setia yang bernama: Yesus. Dia menjadi jembatan bagi kita sehingga kita dapat menuju kepada hidup kekal di dalam Allah."
Saya jadi ingin meminjam pikiran relasional Martin Buber (tentang pola hubungan I-Thou dan I-It) yang saya coba pahami dalam konteks berbeda: Bila Allah adalah pencipta dan manusia adalah ciptaan bisa saja pola relasi yang terbentuk adalah “I-It”. Tuhan bisa saja memanggil “It” kepada manusia dan tak ada yang akan menggugat-Nya. Tokh manusia cuma gambar-Nya dan bukan Allah, manusia adalah ciptaan dan tidak lebih.
Namun ternyata Allah sang Elohim dalam hubungan-Nya dengan manusia memakai relasi I-Thou (Aku-Kamu). Manusia disejajarkan dalam hubungan dan dalam komunikasi yang sejajar. Sehingga dalam konteks Yohanes 15 terlihat dengan jelas bahwa pola komunikasi dan hubungan yang sejajar (equal) adalah kerinduan Allah sendiri terhadap manusia yang sebenarnya telah mengkhianati-Nya berulang kali. Dan yang lebih mengharukan adalah Ia tidak saja menjadikan kita sahabat-Nya tetapi Ia bahkan telah menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk sahabat-sahabat-Nya (15:13), wow terima kasih Tuhan! Dengan kata lain bahwa Ia rela berkorban nyawa demi relasi yang Ia ciptakan dengan manusia yang dipandang sebagai sahabat-Nya. ( to be continued, zoe )
Refleksi : Tak ada kerinduan yang terbesar dari Allah yang membuat Ia turun tangan sendiri untuk membereskan semua penghalang demi orang-orang yang dipandang sebagai sahabat-Nya. Luar biasa!
PEMBANGUN MENARA BABEL YANG BEBAL
Senin, 7 April 2008
Bible Background
Membangun gedung pencakar langit melahirkan prestise tersendiri. Bukan hanya perusahaan pembangunnya, tetapi juga negara tempat gedung itu berdiri. Saat ini kita memiliki Taipei 101 di Taiwan sebagai bangunan tertinggi di dunia. Tetapi bangunan setinggi 512 meter ini akan segera disusul oleh Burj Dubai yang sedang dalam penyelesaian. Burj Dubai dirancang setinggi 705 hingga 950 meter. Bagaimana dengan Indonesia? Bangunan tertinggi di Indonesia adalah Wisma 46 yang terletak di Jakarta, setinggi 250 meter.
Semangat untuk membangun bangunan pencakar langit nampaknya bukanlah sesuatu yang asing di Alkitab. Kejadian pasal 11 menceritakan tentang upaya manusia untuk membangun menara yang puncaknya sampai ke langit. Apakah memungkinkan membangun menara yang puncaknya sampai ke langit? Tentu saja tidak mungkin. Ungkapan "menara yang puncaknya sampai ke langit" tidaklah berarti harafiah. Ungkapan ini menunjukkan bahwa yang mereka bangun adalah sebuah ziggurat. Ziggurat adalah bangunan berbentuk seperti piramida yang dibangun dan dipersembahkan kepada dewa tertentu. Di atas ziggurat ini terdapat sebuah kamar berukuran yang kecil lengkap dengan perabotnya. Kamar ini disediakan bagi dewa yang dalam perjalanan dari alam para dewa ke dunia ini. Dari puncak ziggurat terdapat sebuah tangga melingkar ke bawah, supaya dewa-dewa itu dapat turun dengan mudah. Orang pada waktu itu menyakini bila dewa-dewa yang turun ke bumi diperlakukan dengan baik, maka dewa-dewa itu dengan sukacita akan memberikan berkatnya. Inilah Menara Babel.
Mengapa mereka membangun Menara Babel? Kejadian 11: 4 menjelaskan bahwa tindakan ini dimotivasi oleh dua hal. Pertama, supaya para pembangunnya mendapatkan nama atau kemasyuran. Kedua, supaya manusia tidak terserak ke seluruh bumi. Mengapa Tuhan mengacaukan pembangunan Menara Babel? Apakah kebanggan manusia dalam membangun sesuatu adalah hal yang salah di mata Tuhan? Apakah keinginan manusia untuk bersatu dan tidak terserak di bumi adalah kejahatan? Kesombongan manusia pembangun Menara Babel bisa menjadi penyebab Allah murka. Keinginan mereka untuk bersatu bisa dipandang sebagai perlawanan terhadap kehendak Allah untuk menyebarkan manusia ke seluruh dunia. Tetapi ada alasan yang lebih serius daripada dua hal tersebut.
Pembangunan Menara Babel adalah gambaran tindakan manusia yang merendahkan Allah. Manusia yang telah jatuh di dalam dosa itu memperlakukan Allah seperti memperlakukan manusia. Allah dipandang mempunyai kebutuhan seperti manusia : tangga untuk naik turun dan perabotan rumah tangga. Lebih parah lagi, Allah dilihat sebagai pribadi yang dapat disogok untuk memberkati manusia. Allah mengacaukan pembangunan Menara Babel, karena manusia di dalam kebebalannya menolak untuk mengenal Allah sebagai seharusnya. Pembangunan Menara Babel mencerminkan kecenderungan manusia untuk menciptakan gambaran Allah yang lemah dan dapat diperalat.
Kita tentu tidak sedang membangun sebuah bangunan pencakar langit. Tetapi, apakah sikap dan tindakan kita mencerminkan rasa hormat kepada Allah? Bukankah ketika kita memberi persembahan dan melayani Allah dengan motivasi tunggal supaya berkat-berkat-Nya turun atas kita adalah sebuah tindakan merendahkan-Nya? Motivasi yang sama seperti para pembangun Menara Babel yang bebal. ( zoe )
YESUS SAHABAT SETIA ( 2 )
Selasa, 8 April 2008
Yohanes 15:15
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
Joseph Scriven telah mengalami sejak awal kehidupannya bagaimana ia sangat membutuhkan kehadiran Kristus. Ia lahir di Irlandia dan sedang merenda kebahagiaan dengan gadis pilihannya. Akan tetapi tragedi menimpa di hari pernikahannya; mempelai wanita tenggelam dalam kecelakaan. Untuk melupakan kepedihannya, ia berimigrasi ke Kanada pada usia 25 tahun. Di sana, ia kembali bertunangan dengan seorang gadis tapi kemudian tunangannya meninggal karena sakit parah yang fatal.
Scriven tahu apa artinya kesendirian, kemiskinan, dan mahalnya kesehatan. Oleh karena itu, ia mengabdikan sisa hidupnya dengan membantu orang-orang cacat fisik dan kurang mampu. Sering sekali ia membagikan makanan dan pakaian kepada mereka yang membutuhkan. Semua itu ia lakukan mengingat kebaikan yang telah ditaburkan oleh Allah kepadanya.
Akan tetapi, kebaikan yang sudah ia tabur dan kisah hidupnya tidak pernah dikenal orang kalau ia tidak menuliskan 24 baris kalimat untuk ibunya saat itu sakit keras. Selama 10 tahun sejak ia meninggalkan ibunya, ia tidak bisa lagi mengunjungi sang ibu terlebih di saat-saat ibunya sakit. Ia hanya bisa menuliskan baris-baris puisi lalu mengirimkannya kepada sang ibu disertai doa. Ia hanya ingin mengingatkan sang ibu kalau kita memiliki seorang sahabat sejati, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus.
Seorang pengacara dan komposer, Charles Converse, menuliskan musik untuk puisi Scriven dan membuat lagu ini dikenal di seluruh dunia. Pesan yang ditulis untuk menghibur seorang ibu telah menjadi lagu rohani yang menguatkan banyak orang Kristen di seluruh dunia. Dalam jajak pendapat nasional di sebuah surat kabar pada tahun 1990, lagu ini menempati urutan lima besar lagu rohani favorit. Lagu tersebut bisa kita lihat di dalam PPK no. 160.
Rupanya Joseph Scriven telah ditentukan untuk mengarungi hidup ini sendirian. Ia hanya mengenal persahabatan dari Tuhan Yesus. la terlewati hidupnya dengan mengalami kesepian, upah yang tidak memadai untuk pekerjaan yang berat, dan penyakit. Lagu ini adalah kesaksiannya bahwa doa tidak menghilangkan kesulitan dari hidup kita. Tetapi di tengah-tengah tragedi, pencobaan, dan kelemahan, Tuhan Yesus adalah sahabat yang setia, yang memberikan damai, yang melindungi kita dan memikul beban kita.
Setelah kematian Joseph Scriven, sebagai suatu penghargaan bagi pelayanannya yang penuh pengorbanan kepada sesamanya, suatu monumen atau tugu didirikan di Port Hope, Ontario. Joseph Scriven adalah seorang imigran Irlandia yang telah menjadi teman bagi banyak orang dan yang menemukan Sahabat yang setia dalam Tuhan Yesus. Tuhan Yesus, adalah sahabat yang setia. la mengenal kita. Bila kita dan Tuhan saling mengasihi, kita adalah sahabat. Dan bila kita saling mengasihi, kata-kata yang tidak terucapkan sekalipun dapat dimengerti. ( to be continued, zoe )
Refleksi : Siapa yang belum memiliki sahabat datanglah kepada Kristus, Ia selalu akan menyambut kita dengan tangan terbuka. Karena Ia sangat senang menjadi sahabat dari semua orang, Tuhan mengasihimu.
YESUS, SAHABAT SETIA ( 3 )
Rabu, 9 April 2008
Yohanes 15:15
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
Di stasiun Shibuya ( di Tokyo ), terdapat sebuah patung anjing, yang melambangkan kesetiaan. Patung ini dibuat oleh seorang pemahat terkenal bernama Ando Takeshi, tahun 1948. Konon, anjing ini sangat setia pada tuannya. Anjing ini setiap hari mengantar dan menunggu tuannya, Mr. Eisaburo Uyeno, di stasiun kereta api. Pada suatu hari, kecelakaan menimpa Mr. Eisaburo; ia meninggal di tempat kerjanya, tanpa sempat pulang ke rumah. Anjingnya yang bernama Hachiko dengan sabar dan setia terus menunggu tuannya di stasiun. Anjing itu menunggu di stasiun kereta api itu selama sepuluh tahun, sampai ia meninggal.
Dengan kondisi zaman seperti ini, kita sulit mendapatkan orang yang setia. Orang yang baik banyak kita jumpai, tetapi orang yang setia, siapakah yang menemukannya ? (Amsal 20:6). Ketika kita sukses, sahabat-sahabat kita turut ambil bagian dalam kegembiraan kita. Tetapi, pada saat kita jatuh, dimanakah keberadaan mereka ? Mazmur 41:10 menulis, bahwa sahabat karib yang dipercaya selama ini telah pergi menjauh. Bukankah peristiwa macam ini pernah dialami oleh hamba Tuhan yang saleh dan benar, Ayub. Ketika ia dalam penderitaan, di mana sahabat-sahabatnya ? Mereka menguatkan atau menjatuhkannya ? Ternyata, mereka mengecewakan Ayub. Istrinya pun tidak menjadi pendamping yang baik baginya.
Di mana kita temukan sahabat yang sejati itu ? Manusia dalam dunia, tidak seorangpun yang menjamin. Mungkin, suatu hari mereka meninggalkan kita dan mengkhianati kita; kita tidak memiliki jaminan apapun. Tapi, sahabat yang sejati hanya dapat ditemukan dalam diri Kristus Yesus. Dia sungguh telah mati bagi manusia berdosa. Dia tak pernah sekalipun mengecewakan kita, walaupun kita telah seringkali membuat-Nya menangis. Bersandarlah kepada Tuhan Yesus dengan segenap hati, Ia rindu menjadi sahabat sejati kita! ( zoe )
Refleksi : Doakan saudara-saudara kita yang sedang memiliki masalah atau kesulitan; kiranya mereka lari pada Tuhan dan menemukan kedamaian dalam Kristus; mereka tidak lari pada illah/allah lain. Tuhanlah satu-satunya penolong kita!
KEPUTUSAN TERBESAR
Father’s Heart
Kamis, 10 April 2008
Kisah Para Rasul 16:31
Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat
Keputusan! Keputusan! Keputusan! Kita terus menerus harus membuat keputusan. Sebagian di antaranya sepele, seperti: "Baju mana yang akan saya pakai hari ini?" Keputusan lainnya cukup mempengaruhi kehidupan, misalnya "Apakah saya akan menerima pekerjaan itu dan membawa serta keluarga saya pindah ke kota itu?" Namun, biasanya ada beberapa di antara keputusan kita yang jauh lebih penting daripada yang lainnya. Sekelompok dokter memasang iklan di sebuah suratkabar di New York. Di dekat gambar seorang wanita yang menarik tertulis kata-kata: "Keputusan terpenting yang pernah saya buat adalah memilih istri. Yang kedua, memilih pakaian operasi." Kalimat selanjutnya dari iklan itu kemudian menyarankan kita untuk terlebih dahulu menyusun prioritas, bukan sebaliknya.
Memilih suami atau istri memang lebih penting dibanding memilih pakaian operasi. Tetapi memutuskan untuk mempercayakan diri kepada Yesus sebagai Juruselamat adalah keputusan yang sangat penting yang dapat Anda lakukan dalam hidup ini. Rasul Petrus menceritakan tentang Yesus kepada sekelompok orang percaya dan mendorong mereka untuk meninggalkan dosa-dosa mereka dan percaya kepada Yesus (Kisah 2:1-47). Kata-kata Petrus ini diperuntukkan juga bagi kita saat ini, bagi Anda yang belum menerima anugerah pengampunanNya yang diberikan secara cuma-cuma, untuk berdoa kepadaNya dan memintaNya menyelamatkan Anda. Dan jika Anda telah melakukannya, buatlah keputusan terbesar berikutnya, yakni: Putuskan untuk taat pada pimpinanNya setiap hari (VCG)
Refleksi : Keputusan hidup terbesar adalah melakukan segala sesuatu bersama Yesus !
IDENTITY Theft
Friday, April 11, 2008
Matthew 5:21-26
Whoever is angry with his brother without a cause shall be in danger of the judgment.
Several years ago while having lunch with a friend, a white man called me “boy.” Shock gave way to anger and hurt. My friend even shed tears. Why? The term boy was an insulting label used of black men in the US during slavery, an attempt to steal their identity by demoting them to less than men. As that ugly word recklessly barreled its way through my soul, I wanted to respond with an equally unkind name. But some ancient words from our Master about murder and anger changed my mind.
As Jesus was teaching His followers, He quoted the sixth commandment—“You shall not murder”—and the penalty for breaking it (Matt. 5:21). Then He gave a fuller interpretation. Taking someone’s life was not limited to physical murder; you could show contempt for someone through name-calling and be just as guilty. In Jewish culture, to call someone “Raca” or “Fool” (v.22) was the equivalent of calling someone empty-headed or an idiot. It was used to demean and demote another. What makes name-calling so damaging is that it insults the God who created that person in His image!
Jesus taught His followers that the weight of our neighbor’s glory is a burden we carry daily. If we follow His teaching, we won’t be guilty of identity theft. (Marvin Williams)
Teach me to love, this is my prayer—
May the compassion of Thy heart I share;
Ready a cup of water to give,
May I unselfishly for others live. —Peterson
MURID YANG SETIA
Sabtu, 12 April 2008
Lukas 14 : 27
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,ia tidak dapat
menjadi murid-Ku
Kwan Long merupakan seorang murid yang sangat berbakat dari perguruan Shaolin. Ia adalah generasi keempat dari biara yang terletak di lembah hijau. Gurunya bernama Rahib Chin, merupakan salah satu pendekar kelas wahid yang sangat disegani di dunia persilatan pada masa itu. Salah satu ilmu andalan yang dimiliki Rahib Chin adalah jurus jari emas, yang sangat disegani oleh kawan maupun lawannya. Jurus jari emas ini sangatlah dahsyat. Dengan jurus ini Rahib Chin mendapat julukan Si Jari Emas dari Lembah Hijau.
Setiap kali ia menggunakan jurus tersebut melawan penjahat dan perampok maupun bertanding dalam sebuah turnamen para pendekar, maka setiap kali pula lawan-lawannya dibuat tahkluk sambil meringis menahan sakit yang luar biasa pada tubuh yang terkena pukulan dari jarinya. Rahib Chin mempunyai seorang murid yang bernama Kwan Long.
Kwan merupakan satu-satunya murid yang sangat disayanginya selama ia menjadi rahib. Baginya Kwan tidak sekedar seorang murid, melainkan juga seorang sahabat yang baik. Setiap kali Rahib Chin memberikan perintah, maka perintah itu pasti dilaksanakannya tanpa cacat. Dan setiap kali Rahib Chin membutuhkan bantuan, maka Kwan Long selalu cepat tanggap untuk segera mengerjakannya. Hal ini menyebabkan Kwan Long mewarisi ilmu yang sangat diidam-idamkan oleh banyak pendekar di dunia persilatan. Karena kecerdasannya Jurus jari emas yang begitu hebat dan dahsyat itu dengan cepat dikuasainya.
Pada saat para tetua biara tersebut bersemedi di ruang bawah, datanglah 7 penjahat yang memiliki ilmu tinggi untuk mengacaukan situasi di Shaolin. Para penjahat begitu beringas menyerbu masuk ke dalam biara tersebut sambil merusak setiap barang yang mereka jumpai. Kawanan penjahat tersebut hanya memiliki satu tujuan yaitu mencoba kehebatan ilmu jari emas milik biara Lembah Hijau. Kwan Long memimpin para rahib untuk mempertahankan biara dari rencana jahat para pengacau yang berilmu tinggi tersebut. Pertempuran berlangsung sangat seru dan dengan waktu yang lama. Akhirnya Kwan Long mengeluarkan jurus andalannya untuk menghadapi para penjahat tersebut. Perkelahianpun berlangsung menarik dan seru antara Kwan Long melawan 7 penjahat tersebut sampai masing-masing mengalami luka yang cukup serius ditubuhnya. Namun karena ilmu jari emas milik Kwan Long tersebut lebih hebat daripada ilmu yang dimiliki ke 7 penjahat tersebut maka ke 7 penjahat tersebut akhirnya mengalami kekalahan yang luar biasa hebat dan meninggalkan biara dengan tangan hampa.
Demikian pula menjadi murid Kristus, seharusnya kita belajar mengikuti teladan Kristus sehingga setiap tantangan dan masalah yang datang silih-berganti dapat dihadapi dengan kuat, sabar dan tabah. Bukankah Kristus Yesus adalah raja di atas segala raja, Dia adalah tabib di atas segala tabib, dan Dia adalah satu-satunya Tuhan. Dalam Roma 8:31 Firman Tuhan dengan tegas mengatakan ”Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita ?” ( Ek Djiang )
Refleksi : Ingatlah menjadi murid Kristus artinya kita mau belajar dan mengikuti teladan Kristus.
SETIA SAMPAI MATI ( 1 )
Minggu, 13 April 2008
Matius 24:3-14
Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku
Pada tahun 155 Masehi, orang Kristen dianggap sebagai orang yang ateis karena mereka dianggap menyembah Allah yang tidak kelihatan. Policarpus, pemimpin gereja di Smirna, ditangkap, dan hari itu juga diputuskan untuk dihukum mati. Dalam perjalanannya menuju ke pusat kota, seorang tua menasihatinya, “Apa salahnya sich mengakui kaisar adalah Allah dan mempersembahkan korban baginya, sehingga kau bisa dibebaskan!” Tapi, bagi Policarpus, Kristus adalah satu-satunya Allah yang hidup.
Ketika memasuki arena penghukuman, algojo memberikan dia pilihan, untuk mengutuk nama Kristus dan mempersembahkan korban bagi kaisar, atau untuk mati dibakar hidup-hidup. “Delapan puluh enam tahun saya telah melayani Kristus,” jawab Policarpus, “Dan Dia tidak pernah berbuat jahat padaku. Bagaimana sekarang aku bisa menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?” lanjutnya dengan gagah berani. Akhirnya, Policarpus meninggal dunia dengan cara dibakar hidup-hidup.
Kejadian ini membuat rakyat kota Smirna gempar dan berdecak kagum. Kesetiaan Policarpus hingga mati, telah membuat orang banyak melihat perbedaan yang bersifat konkret, yang terjadi di dalam diri orang percaya dan orang-orang yang tidak percaya. Hal ini menguatkan hidup orang percaya dan menjadi berita kesaksian bagi mereka yang belum percaya.
Saat ini, mungkin kita belum mengalami penderitaan; tetapi, ada orang percaya yang sudah mengalaminya di tempat yang lain. Ketika kita mendengar ada orang percaya yang sedang mengalami penderitaan, kita dapat berdoa kepada Allah untuk mereka. Jika kita mengalami peristiwa yang sama seperti yang dialami oleh Policarpus, akankah kita tetap setia pada Tuhan Yesus sampai akhir hidup kita ? Meskipun doa misi bekerja di ‘balik layar,’ tetapi tetap memiliki peran yang sama penting dengan utusan misi. ( to be continued, zoe )
Refleksi : Berdoa untuk orang-orang percaya yang dianiaya karena imannya, misalnya di negara-negara komunis, supaya dapat setia sampai mati. Juga bagi kita, kiranya tidak ada hal lain yang mematahkan kesetiaan kita pada Tuhan.
NUH dan EPIK GILGAMESH
Senin, 14 April 2008
Bible Background
Nuh adalah yang terakhir dari sepuluh Bapak leluhur kuno dan pahlawan air bah. Dia adalah anak Lamekh, yang berusia 182 tahun sewaktu Nuh lahir. Nuh adalah seorang yang benar dan memiliki persekutuan dengan Allah seperti yang digambarkan sebagai orang yang tidak bercela diantara orang-orang sezamannya yang telah terbenam dalam taraf hidup moral yang sangat rendah. Seperti bapak leluhur yang lain, Nuh diberkati umur panjang. Umurnya 500 tahun sewaktu anaknya yang pertama lahir, 600 tahun sewaktu air bah timbul dan meninggal pada usia 950 tahun. Menurut penafsiran Kejadian 6:3 yang agak dapat dipercaya, bersama dengan 1 Petrus 3:20 sewaktu Nuh berusia 480 tahun Allah memberitahukan kepadanya bahwa Dia akan memusnahkan manusia dari muka bumi, tapi Dia akan memberikan periode anugerah selama 120 tahun. Waktu itu Nuh harus membangun bahtera yang di dalamnya Nuh akan menyelamatkan keluarganya yang terdekat dan hewan pilihan yang mewakili hewan lainnya. Mungkin sekali pada waktu itu Nuh mengajak orang-orang untuk bertobat tetapi tidak ada yang mau mendengarkan maka air bah datang dan memusnahkan semuanya kecuali Nuh dan keluarganya.
Seusai air bah Nuh menanam pohon anggur tetapi Nuh mabuk dan berkelakuan tidak senonoh di dalam kemahnya. Ham melihat ayahnya telanjang, memberitahukan kepada kedua saudaranya yang menutupi tubuh Nuh dengan sehelai kain. Mungkin sekali Kanaan, anak Ham berbuat sesuatu yang tidak sopan terhadap kakeknya, sebab Nuh mengutuknya sesudah ia sadar dari mabuknya. Diterangkan bahwa Nuh mempunyai tiga anak laki-laki yaitu Sem, Ham, dan Yafet. Mereka lahir sebelum air bah. Seusai air bah dari mereka tersebar penduduk bumi atau seluruh penduduk bumi tersebar. Ada cerita-cerita lain di antara bangsa Sumeria mengenai air bah. Yaitu kisah Ut-Napishtim, dan tokoh penting yang lain adalah Gilgamesh. Menurut legenda, Gilga-mesh memutuskan untuk mencari dan menemukan para leluhurnya untuk mendapatkan rahasia kehidupan abadi. Ia diperingatkan akan berbagai bahaya dan kesulitan dalam perjalanan itu. Ia diberi tahu bahwa ia harus melakukan perjalanan melewati ”pegunungan Mashu dan perairan ma-ut”; dan perjalanan seperti itu hanya pernah diselesaikan oleh dewa ma-tahari Shamash. Namun Gilgamesh menghadapi semua bahaya perjalan-an dan akhirnya berhasil mencapai Ut-Napishtim.
Naskah ini terpotong pada bagian yang menceritakan pertemuan antara Gilgamesh dan Ut-Napishtim; dan selanjutnya ketika teks dapat terbaca, Ut-Napishtim menceritakan kepada Gilgamesh bahwa ”para dewa menyimpan rahasia kematian dan kehidupan bagi diri mereka sendiri” (mereka tidak akan memberikannya kepada manusia). Atas jawaban ini, Gilgamesh bertanya bagaimana Ut-Napishtim dapat mem-peroleh keabadian; dan Ut-Napishtim menceritakan kepadanya kisah banjir sebagai jawaban atas pertanyaan ini. Banjir tersebut juga dicerita-kan dalam kisah “dua belas meja “ yang terkenal dalam epik tentang Gilgamesh.
Ut-Napishtim memulai dengan mengatakan bahwa kisah yang akan diceritakan kepada Gilgamesh merupakan “sesuatu yang rahasia, sebuah rahasia dari dewa-dewa”. Ia bercerita bahwa ia berasal dari kota Shurup-pak, kota tertua di antara kota-kota di daratan Akkad. Berdasarkan cerita-nya, dewa “Ea” telah memanggilnya melalui dinding kayu gubuknya dan menyatakan bahwa para dewa telah memutuskan untuk menghancurkan semua benih kehidupan dengan sebuah banjir; namun penyebab kepu-tusan mereka tidak diterangkan dalam cerita banjir Babilonia sebagai-mana halnya dalam kisah banjir Sumeria. Ut-Napishtim menceritakan bahwa Ea telah menyuruhnya membuat sebuah perahu dan ia harus membawa serta “benih-benih dari semua makhluk hidup”dengan perahu itu. Ea memberitahunya ukuran dan bentuk kapal itu; berdasarkan hal ini, lebar, panjang, dan tinggi kapal menjadi sama. Badai besar menjung-kirbalikkan segala sesuatu selama enam hari dan enam malam. Pada hari ketujuh, badai reda. Ut-Napishtim melihat bahwa di luar kapal, “semua telah berubah menjadi lumpur yang lengket”. Kapal tersebut terdampar di gunung Nisir.
Menurut catatan Sumeria-Babilonia, Xisuthros atau Khasisatra diselamatkan dari banjir oleh sebuah kapal yang panjangnya 925 meter, ber-sama keluarganya, teman-temannya, dan berbagai jenis burung dan bina-tang. Disebutkan bahwa ”air meluap hingga ke langit, lautan menu-tupi pantai, dan sungai meluap dari tepiannya”. Dan kapal itu pun akhirnya terdampar di gunung Corydaean. Menurut catatan Asiria-Babilonia, Ubar Tutu atau Khasisatra disela-matkan bersama keluarga, pembantu, ternaknya, dan binatang-binatang liar dalam sebuah kapal yang panjangnya 600 kubit, tinggi dan lebarnya 60 kubit. Banjir tersebut berlangsung selama 6 hari dan 6 malam. Ketika kapal tersebut mencapai gunung Nizar, merpati yang dilepaskan kem-bali, sedangkan burung gagak tidak kembali. Berdasarkan beberapa catatan Sumeria, Asiria dan Babylonia, Ut-Napishtim beserta keluarganya selamat dari banjir yang terjadi selama 6 hari dan 6 malam. Dikatakan ”Pada hari ketujuh Ut-napishtim melihat keluar. Semuanya sangat sepi. Manusia sekali lagi menjadi lumpur.” Ketika kapal terdampar di gunung Nizar, Ut-napishtim mengirim ma-sing-masing seekor burung merpati, burung gagak dan burung pipit. Burung gagak tinggal memakan bangkai, sedangkan dua burung yang lain tidak kembali. ( zoe )
SETIA SAMPAI MATI ( 2 )
Selasa, 15 April 2008
Matius 10:28
Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Saya pernah membaca kisah tentang sekumpulan tentara kerajaan Romawi yang menerima Kristus pada masa-masa awal gereja. Ketika komandan pasukan mengetahui hal ini, dirinya tidak merasa senang karena pengabdian bala tentara Romawi seharusnya ditujukan kepada sang kaisar atau kepada dewa perang. Para prajurit yang menjadi Kristen tentu saja menolak menyembah kaisar dan dengan aneh menganggap seorang pemuda terpidana mati dari Yudea bernama Yesus sebagai raja dan Tuhan. Sebagai seorang komandan pasukan yang baik, kenyataan itu tentu saja akan membuatnya malu. Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk menyadarkan para anggota pasukannya yang telah murtad itu.
Suatu malam di musim dingin di antara ratusan tentara bawahannya, sang komandan memerintahkan agar semua tentara bersumpah setia kepada kaisar. Terdapat sekitar 40 orang yang menolak bersumpah dan jelas sekali jikalau mereka telah menjadi Kristen. Lalu sang komandan mulai mengeluarkan ancaman bahwa barangsiapa menolak bersumpah setia kepada kaisar maka akan disiksa sampai mati pada malam itu juga. Hukuman yang dijatuhkannya ialah menelanjangi para tentara murtad tersebut dan memaksa mereka berlari berputar di sekitar daerah hutan yang beku karena musim dingin. Cepat atau lambat, mereka yang ngotot mempertahankan imannya kepada Yesus akan mati entah karena kedinginan atau karena kelelahan.
Keempat puluh tentara Kristen itu menolak menyangkali iman mereka. Sebagai akibatnya mereka harus berlari di tengah malam musim dingin tanpa sehelai benang pun hingga mereka menemui ajalnya. Sang komandan sendiri mengadakan api anggun dan pesta kecil-kecilan di tengah-tengah perkemahan sementara para tentara murtad itu menjalani hukuman mereka. Ia mengatakan, bagi mereka yang berubah pikiran, mereka dapat segera menuju perkemahan, menyangkal Yesus, dan diterima kembali ke dalam barisan. Namun nampaknya tidak ada yang terpengaruh pada ucapannya. Mereka mulai berlari mengelilingi perkemahan sambil menggigil menahan dingin. Setelah sepuluh putaran, salah satu dari mereka mengajak yang lain berlari sambil menyanyikan lagu memuja Yesus dari Nazareth. Mereka menyanyikan bahwa keempat puluh tentara tetap setia kepada sang Mesias. Dua puluh, tiga puluh, empat puluh kali putaran, mereka tetap setia pada iman mereka meskipun mereka tahu sebentar lagi mereka akan menemui ajal.
Namun tak lama kemudian, mulai ada yang undur. Satu orang tentara meninggalkan kelompok pelari itu dan tergopoh-gopoh berjalan menuju perkemahan. Ia langsung disambut dengan meriah dan diberikan pakaian untuk dikenakan. Tak lama kemudian satu lagi temannya menyusul. Lima orang kemudian menyerah dan menyangkal iman mereka. Hingga akhirnya hanya ada tiga puluh pelari yang masih bertahan sambil menahan derita. Ketika sang komandan melihat bahwa ketigapuluh orang tersebut tetap setia pada Kristus, ia pun mengambil sebuah langkah yang mengejutkan. Ia segera melepas pakaiannya dan bergabung dengan kelompok pelari yang masih bertahan itu. Ia mengatakan bahwa adalah sebuah kehormatan untuk bisa mengabdi kepada Tuhan yang disembah oleh mereka yang rela setia sampai mati. Malam itu, kelompok pelari itu menemui ajal mereka.
Mengikuti Kristus ada konsekuensi yang harus kita bayar yaitu nyawa. Apakah kita mau setia sampai mati seperti para pengikut Kristus yang telah banyak mati untuk mempertahankan iman mereka kepada Anak Domba Allah itu. ( to be continued, zoe )
Refleksi : Mari kita berdoa untuk diri kita sendiri agar Tuhan memberikan kita hati yang teguh untuk tetap setia sampai akhir, dan berdoalah untuk kegiatan-kegiatan misi yang telah dilakukan di seluruh Indonesia.
SETIA SAMPAI MATI ( 3 )
Rabu, 16 April 2008
Markus 13: 3-13
Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka
Marcus Aurelius seorang filosof dan menulis Meditations, karya klasik stoikisme, yang bersikap acuh tak acuh terhadap kesenangan atau penderitaan. Ia juga kejam dan tidak berbelas kasihan terhadap orang-orang Kristen, dan bertanggung jawab atas penganiayaan kepada orang-orang Kristen. Kekejaman terhadap orang-orang Kristen dalam penganiayaan ini begitu tidak manusiawi sehingga banyak orang yang menyaksikannya merasa muak dengan kekejaman itu dan merasa takjub me1ihat keberanian orang yang mengalami siksaan itu. Beberapa martir, kakinya dihancurkan dengan alat penjepit dan kemudian dipaksa berjalan di atas duri, paku, kerang yang tajam, dan benda-benda tajam lainnya. Orang lainnya dicambuk sampai otot dan pembuluh darah mereka pecah. Kemudian sete1ah mengalami penderitaan melalui siksaan yang paling mengerikan yang bisa dipikirkan, mereka dibunuh dengan cara yang mengerikan. Namun, hanya sedikit yang berpaling dari Kristus atau memohon kepada para penyiksa mereka untuk meringankan penderitaan mereka.
Felicitatis, seorang wanita kaya dari ke1uarga Romawi yang terkenal, seorang Kristen yang saleh dan setia. Ia memiliki tujuh anak yang juga adalah orang Kristen yang setia. Mereka semua menjadi martir. Januarius, anaknya yang tertua, dicambuk, dan ditekan dengan beban yang berat sampai mati. Felix dan Philip, dua anak berikutnya, otaknya terlempar ke1uar ketika dipukul dengan pentung. Silvanus, anak keempat, dilemparkan dari tebing yang euram. Ketiga anak yang paling muda, Alexander, Vitalis, dan Martial, dipancung dengan pedang. Felicitatis kemudian dipancung dengan pedang yang sama.
Sanctus, diaken dari Vienna, bagian tubuhnya yang paling lunak ditempeli plat tembaga panas menyala dan dibiarkan di sana sampai seluruh tulangnya terbakar. Blandina seorang wanita Kristen yang postur tubuhnya lemah sehingga ia dipandang tidak akan mampu menjalani siksaan, tetapi ketabahannya sangat luar biasa sehingga penyiksanya menjadi kecapaian dengan pekerjaan mereka yang jahat. Ia kemudian dibawa ke amphitheater dengan tiga orang lainnya lalu digantung pada sepotong kayu yang ditancapkan di tanah dan dibiarkan menjadi makanan singa yang buas. Sementara mengalami penderitaannya, ia berdoa dengan tekun untuk teman-temannya dan menguatkan mereka. Namun, tidak satu pun dari singa-singa itu yang menyentuhnya, jadi ia dimasukkan ke dalam penjara lagi - itu terjadi dua kali. Kali terakhir ia dibawa keluar, ia ditemani oleh seorang remaja berusia 15 tahun Ponticus. Ketabahan iman mereka membuat marah orang banyak itu sehingga sekalipun ia wanita dan temannya masih muda, tidak dipandang sama sekali; dan mereka diserahkan pada hukuman dan siksaan yang paling kejam. Blandina dicabik-cabik oleh singa itu, dicambuk dan dimasukkan dalam jaring lalu diseruduk ke sana kemari oleh seekor banteng liar kemudian diletakkan di kursi logam yang merah menyala. Ketika ia bisa berbicara, ia menasihati semua orang yang berada di dekatnya untuk berpaut kuat-kuat pada iman mereka. Ponticus bertahan sampai mati. Ketika penyiksa Blandina tidak mampu membuatnya mencabut imannya, mereka membunuhnya dengan pedang.
Kisah-kisah kesetiaan mereka terhadap Kristus membawa begitu banyak orang terenyuh dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Nyawa yang mereka berikan adalah bukti bahwa kasih dan kesetiaan mereka kepada Kristus benar-benar murni. ( to be continued, zoe )
Refleksi : Mereka memilih mati dari pada melakukan penyangkalan .... mereka memilih beriman dari pada takut ... dan mereka memilih menjadi saksi dari pada menghindar. Bagi mereka semua yang menganggap dunia ini tidak layak, disitulah letak kekuatan Allah. Amin.
PEMBERITA KABAR BAIK
Father’s Heart
Kamis, 17 April 2008
Kisah Para Rasul 1:1-8
Kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, di seluruh Yudea dan
Samaria dan sampai ke ujung bumi
Berbicara tentang pemberitaan kabar baik, akan terkait di dalamnya dua kelompok orang: mereka yang harus mengabarkan kabar baik tentang Kristus dan mereka yang haus akan kabar baik itu. H.A. Ironside sering menceritakan kisah berikut ini tentang panggilan untuk memberitakan kabar baik. Ketika "piring" pilihan ini disodorkan kepada seorang kaya, orang itu menolak dan berkata, "Mengabarkan kabar baik bukanlah pilihan saya." "Kalau begitu," kata si pengantar makanan, "Carilah yang lain di luar. Ini makanan untuk orang kafir."
Ketika saya masih anak-anak, para utusan Injil dalam bayangan saya adalah orang-orang baik yang melakukan perjalanan jauh ke negeri-negeri yang tak dikenal untuk jangka waktu yang lama. Sesungguhnya, menjadi seorang utusan Injil atau pemberita kabar baik adalah suatu panggilan -- bukan pilihan untuk menjadi terkenal atau terpandang. Saya tetap percaya bahwa Allah masih memanggil orang-orang untuk melayani ladang penginjilan di negeri lain, dan saya tetap menghargai mereka yang menerima panggilan itu, tetapi pandangan saya tentang pemberitaan kabar baik kini telah berubah. Setiap orang Kristen adalah bagian dari utusan Kristus di dunia ini. Apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya dalam Kisah Para Rasul 1:1-26 ini berlaku juga untuk kita. Kita adalah saksi-saksiNya, oleh karena itu kita harus berkata dan berbuat sedemikian rupa sehingga orang lain yang mendengar kabar baik yang kita sampaikan akan memuliakan namaNya karena mereka melihat iman yang nyata dalam perbuatan kita.
Menjadi pemberita kabar baik bukanlah salah satu pilihan, tetapi _panggilan_ bagi setiap kita ( DJD )
Refleksi : Satu hal yang tak dapat kita hindari yakni melepaskan tanggung jawab dari panggilan untuk memberitakan kabar baik.
Buy Without Money
Friday, April 18, 2008
Isaiah 55:1-5
Incline your ear, and come to Me. Hear, and your soul shall live.
A story was told of a wealthy man who felt his son needed to learn gratefulness. So he sent him to stay with a poor farmer’s family. After one month, the son returned. The father asked, “Now don’t you appreciate what we have?” The boy thought for a moment and said, “The family I stayed with is better off. With what they’ve planted, they enjoy meals together. And they always seem to have time for one another.”
This story reminds us that money can’t buy everything. Even though our bodies can live on what money can buy, money can’t keep our souls from withering away. In Isaiah 55, we read: “Everyone who thirsts, come to the waters; and you who have no money, come, buy and eat” (v.1).
Is it possible to buy what truly satisfies without money? Yes, the prophet Isaiah is pointing to the grace of God. This gift is so invaluable that no price tag is adequate. And the one who offers it—Jesus Christ—has paid the full price with His death. When we acknowledge our thirst for God, ask forgiveness for our sins, and accept the finished work of Christ on the cross, we will find spiritual food that satisfies and our soul will live forever!
He’s calling, “Come to Me” (Isa. 55:3). (Albert Lee)
I came to Jesus, and I drank
Of that life-giving stream;
My thirst was quenched, my soul revived,
And now I live in Him. —Bonar
KESETIAAN EMBAH KROMO
Sabtu, 19 April 2008
Matius 25:14-30
Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia! Engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu
KAMI pernah punya seorang pelayan. Embah Kromo namanya. Atau cukup kami panggil Embah. Ketika saya masih kecil, embah ini, dalam bayangan saya, sudah cukup tua. Saya ingat betul sosoknya. Pendek, bungkuk, wajahnya menyungging senyum, bibirnya merah karena sirih, dan di sudut kanan mulutnya tembakau susur. ”Juadah ketan” dan ”srundeng kelapa” buatannya—hmmm, nyam, nyam—tak ada tandingannya di seluruh dunia! Juga ”mangut lele” serta ”garang asem” olahannya. Dialah si Embah yang kami sayangi bak nenek sendiri—mungkin lebih.
Bagi kami, Embah sudah bukan ”pelayan” dalam arti yang lazim. Ia adalah anggota keluarga. Sebagian dari kami. Karena itu—sebagai anggota keluarga—tidak jarang, ialah yang memarahi dan menasihati kami. Bukan sebaliknya. Kebersamaan yang indah ini berlangsung, sampai pada suatu hari, ia minta izin untuk pulang ke desanya. Tempat kelahirannya ini—di lereng gunung Sumbing—nyaris tak pernah dijenguknya selama belasan tahun. Ternyata, di situlah Embah mengakhiri hidupnya. Sampai saat terakhir, ia tak ingin membuat kami repot. Tatkala mendengar berita kematiannya, kami menangis. Diiringi rasa sakit yang menghunjam. Dan pedih yang mendalam. Tak dapat kami percaya, bahwa kami tak akan melihat Embah Kromo lagi.
TAPI apa sih persisnya yang membuat si Embah ini begitu istimewa? Prestasi dan keterampilan kerjanya memang tidak buruk. Namun sebenarnya juga tidak sangat luar biasa. Rata-rata saja. Yang membuat kami begitu mencintainya dan menghormatinya, adalah KESETIAANNYA. Konon ia mulai bekerja sebagai ”PRT” sejak kakek dan nenek saya mulai berumah-tangga. Waktu itu, Embah pasti masih gadis belia. Ia menyaksikan ketika paman-paman dan bibi-bibi saya dilahirkan dan mengasuh mereka semua. Kemudian disaksikannya pula bagaimana para bekas asuhannya itu pada gilirannya juga beranak-pinak. Embah ikut mengasuh beberapa di antaranya, termasuk saya dan adik saya. Jadi ada sekitar lima puluh tahunan lebih ia menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami. Lima puluhan tahun, di mana ia membuktikan dirinya sebagai ”pelayan” yang setia dan dapat dipercaya. Selama lima puluhan tahun itu ia diuji, dan lulus nyaris tanpa cela. Ini yang membuat ia istimewa. Amat istimewa. Tak ada duanya. Karena itu, seandainya Anda bertanya: ”Apa yang membuat seorang “ hamba “ itu istimewa?”. Jawab saya, tanpa ragu, adalah: ”kesetiaan” dan ”kredibiltas”nya.
Menurut Anda, ”gelar” atau ”sebutan” apa sih yang paling melegakan, paling membanggakan, dan paling Anda dambakan, yang Anda harapkan dari Yesus, ketika selesai seluruh kerja Anda di dunia? Kalau saya, wah, alangkah berbahagia dan berbunga-bunganya hati saya, sekiranya Yesus berkenan memberi sebutan yang sama dengan yang diberikan-Nya, kepada orang yang dinilai telah mengelola talentanya dengan baik. Gelar atau sebutan apa itu? Sebenarnya sederhana saja. Yaitu, sebutan ”hamba yang baik dan setia”. (Matius 25:21, 23).
”Hamba-Ku yang baik dan setia”! Gelar dan sebutan ini, bila benar-benar keluar dari mulut Allah, aduhai, Bintang Mahaputera Kelas Utama pun jadi seperti tak ada apa-apanya! Dan yang lebih penting, sebutan tersebut juga menunjuk dengan jelas kualifikasi apa yang Allah tetapkan Allah bagi orang Kristen. Apa itu? ”Pelayan yang baik dan setia”! ( from Eka )
Refleksi : Marilah kita semua pelayan Kristus, menjadi hamba yang setia dan melayani Allah dengan sungguh-sungguh untuk membalas kasih Tuhan yang tidak terhingga.
KU MAU SETIA
Minggu, 20 April 2008
1 Timotius 4:12
Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.
Lagu "KU MAU SETIA" ditulis oleh seorang pemuda ketika ia berusia dua puluh-an tahun. Lagu ini menjadi salah satu lagu himne yang paling menarik yang pernah ditulis seorang pemuda pada masa itu. Saat itu tahun 1906, penulis lagu ini, Howard Arnold Walter sedang pergi ke Jepang untuk mengajar bahasa Inggris selama satu tahun di Waseda University. Ketika Howard kembali pulang, ia ingin mengungkapkan filosofi hidupnya dengan menulis bait-bait puisi. Puisi itu ia beri judul "My Creed" dan ketiga bait puisi karangannya ia berikan kepada sang ibu. Pada tahun 1909, Howard menunjukkan puisi tersebut kepada seorang pengkhotbah Metodis keliling, Joseph Yates Peek. Karena Joseph tidak memiliki keahlian di bidang musik, ia menyerahkan bait-bait puisi tersebut kepada seorang temannya yang bernama Grant Colfax Tullar. Akhirnya, puisi tersebut lagu himne yang sampai sekarang kita kenal, KU MAU SETIA yang dapat kita lihat dalam PPK no. 26.
Howard lahir pada tanggal 19 Agustus 1883 di New Britain, Connecticut. Ia lulus dengan predikat sangat memuaskan dari Princeton University pada tahun 1905. Setelah ia kembali ke Amerika dari Jepang, ia mempersiapkan diri untuk pelayanannya di Hartford Seminary. Ia ditahbiskan menjadi pendeta oleh Congregational Church kemudian melayani sebagai asisten hamba Tuhan di Asylum Hill Congregational Church di Hartford, Connecticut selama tiga tahun. Pada tahun 1913, ia bergabung dengan staf eksekutif YMCA dan pergi ke Lahore, India untuk mengajar dan "meraih" mahasiswa non Kristen di sana. Tahun 1918, karena adanya epidemi influenza yang meluas di daerah itu, kehidupan pemuda ini berakhir. Untuk mengenang semangat kesetiaan Howard, Hartford Seminary mengukir namanya di tempat kehormatan, dan ukiran nama itu masih ada sampai sekarang.
Apa yang dilakukan oleh Howard Arnold Walter menjadi contoh bagi setiap orang Kristen dewasa ini, bagaimana ia menerjemahkan hidupnya di dunia dengan sebuah teladan yang baik yaitu ” Kesetiaan. ” Seperti perkataan Paulus kepada Timotius ketika anak rohaninya masih sangat muda, ” Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. ” itulah yang teladan yang benar dan terutama. ( zoe )
Refleksi : Mari semua yang menganggap dirinya masih muda dan bersemangat. Kita tunjukkan bahwa sebagai orang muda kita bisa menjadi teladan bagi semua orang dalam kesetiaan kita mengikuti Tuhan Allah.
KISAH ABRAHAM DAN KETERANGAN ARKEOLOGIS
Senin, 21 April 2008
Bible Background
Berdasarkan Kitab Kejadian, Abraham memasuki Kanaan pada usia 75 tahun. Ishak dilahirkan ketika Abraham berumur 100. Ishak berumur 60 pada saat kelahiran Yakub, dan Yakub berumur 130 tahun ketika ia menghadap Firaun. Sejumlah 215 tahun telah berlalu antara masuknya Abraham ke Kanaan dan masuknya Yakub ke Mesir. Garis keturunan Abraham dari Sem, anah Nuh, terdapat di Kejadian 11. Ini mungkin merupakan sebuah daftar silsilah lengkap, tetapi sebaliknya mungkin hanya menyebutkan orang-orang penting dalam garis keturunan itu. Garis keturunan Abraham dari Sem tercatat sebagai berikut: Sem, Arpakhsad, Selah, Eber, Peleg, Rehu, Serug, Nahor, Terah, Abraham.
Ayah Abraham, Terah tinggal di Ur Kasdim di Mesopotamia Selatan. Di sini Abraham dibesarkan dan menghabiskan masa mudanya. Sebagai hasil penggalian arkeologis yang dilakukan di Ur (1922-1934) oleh C. Leonard Wooley, banyak sekali yang sekarang diketahui tentang kota ini; sebenarnya, seluruh latar belakang dan lingkungan Abraham sekarang dapat digambarkan. Ada contoh yang baik dari jenis rumah pada masa Abraham di Ur. Sebuah tempat tinggal rata-rata berukuran 12 kali 15,6 meter. Dinding-dinding bagian bawah dibangun dari batu-bata yang dibakar, yang bagian atas dari batu-bata yang dibuat dari lumpur, dan seluruh dinding biasanya diplester dan dikapur. Temuan-temuan lain di Ur menunjukkan bahwa pendidikan telah diadakan secara luas pada masa Abraham. Pada usia muda murid-murid telah belajar menulis tanda-tanda kuneiform sementara guru memberi contoh pada sebongkah tanah liat lunak yang telah dipipihkan. Mereka juga mendapat pelajaran membaca. Lempeng-lempeng tanah liat lain menunjukkan bahwa dalam matematika mereka belajar perkalian dan pembagian, dan ketika mereka makin maju mereka diharuskan belajar akar pangkat dua dan akar pangkat tiga serta mengerjakan soal-soal geometri yang sederhana. Ketika hasil-hasil dari bagian penggalian ini ditinjau, ternyata bahwa empat ribu tahun lalu, murid-murid sekolah pada masa Abraham, harus belajar membaca, menulis dan berhitung, sama seperti yang dipelajari oleh murid-murid masa kini.
Tingkat melek huruf di Ur dan jumlah dokumen yang ditemukan dari situs tersebut memberikan informasi baru tentang cerita Alkitab. Sebagai seorang anggota dari golongan atas, Abraham tentunya dapat membaca dan menulis. Jika tidak, ia cukup kaya untuk mengupahi seorang juru tulis untuk mencatat laporan-laporan usaha dagangnya dan mencatat kejadian-kejadian sejarah. Biasanya dianggap bahwa sejarah para leluhur diteruskan melalui tradisi lisan, dan banyak orang meragukan kecermatan banyak aspeknya. Tetapi mengingat temuan-temuan yang lebih baru, maka betul-betul masuk akal untuk berpendapat bahwa Abraham mewariskan laporan-laporan tertulis, dan Musa memiliki beberapa laporan tersebut ketika ia menulis kitab Kejadian. Lagi pula, Musa sendiri adalah seorang yang berpendidikan tinggi sebagai anggota keluarga raja Mesir dan pada usia lanjut barangkali ia telah mengawasi arsip-arsip apa pun yang terdapat di antara orang-orang Ibrani pada masa itu.
Bahkan bukti tentang luasnya jangkauan perdagangan pada masa itu terungkap ketika sebuah konosemen yang dibuat sekitar tahun 2040 sebelum Masehi ditemukan dalam penggalian. Konosemen itu menunjukkan bahwa sebuah kapal telah mencapai Teluk Persia di Mesopotamia Selatan setelah dua tahun pelayaran. Muatannya termasuk bijih tembaga, emas, gading, kayu keras untuk membuat lemari, dan piroksen serta batu pualam untuk membuat patung. Beberapa dari bahan-bahan impor ini berasal dari daerah-daerah yang cukup jauh. Namun, pengetahuan tentang urusan perdagangan di Ur selama masa kejayaannya tidak bergantung pada satu konosemen saja. Banyak konosemen, tagihan, surat-surat kredit, kasus pengadilan, dan laporan pajak juga telah ditemukan. Terah membawa keluarganya dari Ur dan berpindah ke Haran di Mesopotamia utara, sekitar 180 km di barat laut Ur, di sana ia meninggal dunia. Sementara Abraham masih di Mesopotamia, Allah memanggilnya untuk meninggalkan negeri dan sanak saudaranya dan pergi ke negeri yang akan ditunjukkan Tuhan, yang ternyata adalah Kanaan.
Abraham dipanggil untuk keluar dari tengah-tengah penyembahan berhala dan kekafiran. Beberapa ratus tahun kemudian ketika Yosua menunjuk kepada keluarga Abraham, ia berkata bahwa mereka "beribadah kepada allah lain". Penggalian C. Leonard Wooley di Ur (1922-1934) memberi banyak keterangan mengenai agama kafir yang tumbuh dengan subur di daerah itu pada masa Abraham. Dewa utama di kota itu adalah dewa bulan yang bernama Nanna (sebelumnya tertulis Nannar), yang kuil dan ziguratnya terletak di daerah yang luas berukuran 360 kali 180 meter. Pemanggilan Abraham keluar dari Mesopotamia adalah untuk menjadi instrumen dari Allah menjadi berkat bagi banyak bangsa termasuk kita. ( zoe )
UPAH KESETIAAN
Selasa, 22 April 2008
Amsal 28:20
Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman
Utusan Injil bernama Jack Shiflett, pernah berbicara di salah satu gereja pendukungnya. Setelah menghabiskan waktu selama sebelas tahun di Spanyol, Jack bercerita tentang keputusasaan yang dialaminya dalam memperkenalkan Yesus Kristus kepada orang-orang yang tidak berpikir bahwa mereka membutuhkan Injil.
Meskipun demikian, pada tahun-tahun terakhir pelayanannya, Jack dan istrinya Cheryl dapat melihat bahwa pelayanan mereka telah berbuah. Setelah melewati masa-masa sulit, pada akhirnya 17 orang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadinya. Untuk menunjukkan penghargaannya atas kesetiaan dari gereja tersebut, Jack berkata, "Setelah delapan tahun, kami pernah datang pada Anda dan melaporkan bahwa kami telah membawa satu orang kepada Kristus. Dan Anda mengutus kami kembali ke sana."
Orang-orang di gereja tersebut menyadari bahwa tanda dari suatu pelayanan adalah kesetiaan, bukannya hasil. Mereka menyadari bahwa hasil suatu pelayanan sepenuhnya terletak di tangan Allah sendiri melalui pekerjaan Roh Kudus.
Jack dengan setia menunaikan tugas pelayanannya dan kini ia dapat melihat hasilnya. Teladan ini sungguh membesarkan hati, terutama bagi kita yang sering pergi melayani dalam jangka waktu yang lama tetapi pulang tanpa hasil. Dan teladan dari gereja tersebut yang tetap mendukung mereka adalah sesuatu yang sangat penting.
Mungkin Anda telah menjalankan tugas pelayanan dengan setia dalam waktu lama -- dan tampak tanpa hasil. Tekunilah tugas itu, dan serahkanlah hasilnya pada Allah. Dia akan memberikan upah atas kesetiaan kita ( jdb )
Refleksi : Allah lebih memperhatikan konsistensi dari pada hasil yang didapatkan, meskipun hasilnya tidak memuaskan tetapi yang terpenting adalah kesetiaan kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan.
KASIH DAN KESETIAAN
Rabu, 23 April 2008
Mazmur 85:11-12
Kasih dan kesetiaan akan bertemu, ..... Kesetiaan akan tumbuh dari bumi ...
Dana Reeve terlahir sebagai Dana Charles Morosini di New Jersey pada 17 Maret 1961. Ia lulus dari dari Middlebury College di Vermont dengan predikat Cum Laude dalam bidang Sastra Inggris. Di bidang seni ia pernah belajar di Royal Academy of Dramatic Art di London dan kemudian ia meneruskan ke California Institute of the Arts. Ia adalah seorang aktris, penyanyi, penulis buku, dan aktivis bagi orang-orang cacat. Pada bulan April 1992 ia menikah dengan pemeran Superman, Christopher Reeve, dan dikarunia seorang anak bernama William Elliot Reeve. Ia dan suaminya mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Middlebury College pada tahun 2004.
Sebagai seorang isteri Dana Reeve menikmati kebahagiaan pernikahan yang normal hanya sampai 27 Mei 1995, sekitar 3 tahun, yaitu sampai Christopher Reeve terjatuh dari kuda yang menyebabkan bagian tubuhnya lumpuh dari leher ke bawah. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya selalu ada di kursi roda. Banyak bantuan keuangan mengalir datang kepada Chris dan Dana. Mereka menyatakan bahwa biaya perawatan kesehatannya telah ditanggung pihak asuransi, sehingga uang yang diterima kemudian dimasukkan dalam dana yayasan yang ia dirikan, Christopher Reeve Foundation, yang menolong riset bagi kesembuhan sakit lumpuh dan upaya-upaya meningkatkan kualitas hidup orang-orang cacat. Uang yang terkumpul di yayasan itu sampai saat ini lebih dari US $ 63 juta. Cinta kasih dan kesetiaan Dana terhadap suaminya, Chris, dibuktikan dengan kesetiaannya merawat suaminya tanpa bersungut-sungut. Saat itu usia Dana baru 34 tahun, usia yang masih membutuhkan romantisme pernikahan. Ia menjalani kehidupan rumah tangganya dengan normal, meskipun ia sebenarnya membutuhkan kasih sayang yang utuh dari seorang suami: jasmani, jiwani dan rohani.
Sebagai seorang ibu, Dana adalah ibu teladan. Ia tidak kecewa atau melampiaskan kekecewaan karena memiliki seorang suami yang cacat-lumpuh. Ia membesarkan anaknya dengan baik, terbukti ketika pada tahun 2005 ia meraih gelar "Mother of The Year Award" dari American Cancer Society karena dedikasinya dan kesetiaannya dalam membesarkan anaknya setelah kematian suaminya. Sejak suaminya lumpuh bahkan Dana Reeve menjadi seorang pembicara motivasi dan aktivis bagi kehidupan orang-orang lumpuh yang berkualitas. Banyak orang yang saat ini melihat perceraian dan perselingkuhan sebagai hal yang lumrah dan biasa sehingga semakin merajalela. Tetapi, janji setia Dana Reeve dibuktikan sampai akhir hayatnya. Ia tidak menikah lagi, meskipun pada waktu itu usianya baru 43 tahun. Dana meninggal pada 6 Maret 2006 karena sakit kanker paru-paru, sekitar 2 tahun setelah kematian suaminya. Kesetiaan Dana Reeve terhadap suaminya membuktikan kisah kasih yang luar biasa dari seorang istri di kalangan dunia selebritis. Ia tetap setia kepada almarhum suaminya meskipun ia cantik, kaya, dan cerdas serta gampang menikah lagi kalau ia mau. Kesetiaan Dana menjadi inspirasi bagi banyak orang yang saat ini melihat perceraian dan perselingkuhan sebagai hal yang lumrah dan biasa sehingga semakin merajalela. ( zoe )
Refleksi : Seperti perkataan pemazmur bahwa kasih dan setia akan bertemu ( Maz 85:11 ). Begitu juga dengan kehidupan kita, ketika kita meletakkan kasih sebagai dasar sebuah tindakan maka pasti akan melahirkan kesetiaan. Seperti Kristus yang mengasihi manusia dengan segala keadaannya maka Ia juga akan setia menunggu dan mengharapkan kita semua berbalik kepada-Nya.
MASIH MENDAKI
Father’s Heart
Kamis, 24 April 2008
Ibrani 12:1
Marilah kita...berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang
diwajibkan bagi kita
Beberapa kejadian yang kita alami dalam kehidupan ini mungkin sama menyenangkannya dengan mendaki gunung. Mereka yang aktif ambil bagian dalam kegiatan yang menuntut ketahanan fisik dan ketrampilan tubuh ini senang membanding-bandingkan berbagai puncak gunung yang pernah didaki dan berbagi pengalaman. Ketika para pendaki Eropa berkumpul untuk berbagi pengalaman, mereka sering bercerita bahwa mereka pernah melewati sebuah kuburan dalam perjalanan menuju ke sebuah puncak gunung yang terkenal. Pada nisan kubur tersebut tertulis nama pendaki yang meninggal dan kalimat: IA MATI KARENA MENDAKI.
Bagi saya, mendaki gunung adalah suatu gambaran dari kehidupan iman. Dalam kehidupan ini, kita harus terus bergerak maju -- belajar lebih banyak mengenai Allah, bertumbuh dalam hubungan pribadi dengan Kristus, menjadi lebih kuat dalam peperangan melawan berbagai pencobaan, dan bergerak maju dalam memberitakan kabar baik tentang Kristus kepada mereka yang terhilang.
Penulis kitab Ibrani berkata, "Marilah kita...berlomba dengan tekun" (Ibrani 12:1). Kata dengan _tekun_ dapat diartikan "hingga kesudahan." Yosua adalah pelayan Allah yang demikian. "Pendakiannya" dimulai dari Mesir dan berakhir di Tanah Perjanjian. Ia memenangkan peperangan yang dahsyat. Kita diberitahu bahwa "Orang Israel beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua" (Yosua 24:31). Pada saat-saat akhir hidupnya, Yosua masih menasehati bangsa Israel untuk melayani Allah dengan setia (Yosua 24:23). Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk melayaniMu dengan setia. Biarlah kami terus mendaki hingga kesudahannya ( DCE )
Refleksi : Iman bertumbuh kuat tatkala kita mendaki lebih tinggi !
Making Restitution
Friday, April 25, 2008
Numbers 5:7
He shall make restitution for his trespass in full.
During the compilation of the Oxford English Dictionary, managing editor James Murray received thousands of definitions from Dr. William Chester Minor. They were always sent in by mail and never brought in personally. Murray was curious about this brilliant man, so he went to visit him. He was shocked to find that Minor was incarcerated in an asylum for the criminally insane.
Years earlier, while in a delusional state, Minor had shot an innocent man whom he thought had been tormenting him. Later he was filled with remorse and began sending money to support the widow and her family. Minor was imprisoned for the rest of his life but he found practical ways of easing the pain of his victims and contributing to society through his work on the dictionary.
When the dishonest tax collector Zacchaeus heard Jesus’ message of grace, he chose to return more than what he had extorted from others. “Look, Lord, . . . if I have taken anything from anyone by false accusation, I restore fourfold” (Luke 19:8). The gospel of grace stirred Zacchaeus to help those he had harmed.
Have you wronged someone? What steps will you take to help make things right ? (Dennis Fisher)
Forgive me, Lord, for all my sins,
The many wrongs that I have done;
And show me how to make things right
Before the setting of the sun. —Bosch
SETIA SAMPAI MATI ( 4 )
Sabtu, 26 April 2008
Matius 10:28
Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Bunyi-bunyi tembakan terdengar di luar gereja. Padahal sore itu gereja cukup ramai. Remaja-remaja hadir untuk mengikuti katekisasi dan penatua-penatua berkumpul untuk mengikuti rapat majelis. Ketika tembakan terdengar kami sedang menunggu kedatangan pak Pendeta. Aku pun berada di antara remaja-remaja itu. Peristiwa itu terjadi tahun 1964 waktu aku berusia 15 tahun. Beberapa kawanku dan penatua-penatua segera lari. Kami tahu bahwa tembakan itu berasal dari sebuah gerombolan pengacau. Daerah tempat tinggal kami, daerah Bengkayang-Sanggau, Kalimatan Barat merupakan daerah rawan yang sering dijadikan sasaran gerombolan pengacau.
Aku ingin lari, tapi apa dayaku, kakiku terasa lemas. Aku hanya diam ketakutan. Tiba-tiba enam orang gerombolan pengacau bersenjata masuk ke gereja. Di gereja hanya tinggal aku dan lima orang penatua yang tidak sempat melarikan diri. "Angkat tangan semuanya!" seru seorang anggota gerombolan itu. Kami berenam terpaksa mengikuti apa yang mereka perintahkan. Gerombolan yang lain segera mengepung kami dan mengacungkan laras senjatanya ke tubuh kami. Aku sadar bahwa saat itu aku berada diantara hidup dan mati. "Turunkan gambar yang terpampang di atas itu!" sambungnya lagi seraya menunjuk gambar Tuhan Yesus yang berada di atas mimbar gereja. Aku tertegun melihat adegan itu. Dalam hati aku terus berdoa agar Tuhan campur tangan dalam situasi seperti itu. Rupanya karena takut ancaman senjata para gerombolan itu, maka diantara penatua ada yang berusaha menurunkan gambar Tuhan Yesus itu.
"Apakah ini benar gambar Tuhanmu?" tanyanya lagi. Sebagai jawabannya aku dan penatua-penatua itu menganggukkan kepala. "Kenapa kalian menyembah manusia semacam ini? Ayo ludahi dan kencingi gambar ini. Kalau tidak kalian akan kubunuh semuanya!" bentaknya dengan suara keras. Karena takutnya, akhirnya satu demi satu penatua melaksanakan perintah si gerombolan. Aku menunggu giliranku dengan rasa takut yang menjadi-jadi. Tapi pada saat yang genting itu terdengar suara yang berbisik di batinku: "Imanmu bisa menyelamatkanmu. Jangan lakukan perbuatan itu, apapun yang terjadi." Waktu aku diperintah untuk melaksanakan adegan seperti para penatua, aku menolaknya. Aku menangis, lalu merangkul gambar Tuhan Yesus yang telah dikotori itu. Kubersihkan kotorannya dengan sapu tanganku, tanpa sadar aku berkata, "Tuhan biarlah aku mati bersamaMu." Melihat kelakuanku itu, seorang anggota gerombolan menghampiriku. "Bangkitlah dan duduklah di kursi itu," katanya. Aku pun duduk di kursi yang ditunjuknya sambil terus mendekap gambar Tuhan Yesus itu.
"Anak gadis, kau takkan kubunuh, karena kau telah memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan, walaupun harus berhadapan dengan maut. Dan kalian, yang lima orang lagi, berbarislah di sudut sana." katanya sambil menunjuk sudut gereja. Kelima orang penatua itu berbaris di sudut gereja. "Kalian adalah manusia-manusia yang telah berani mengkhianati Tuhan kalian dan takut mati untukNya. Kalau manusia sudah berani berkhianat kepada Tuhannya, apalagi kepada sesuatu yang hanya berpredikat ideologi." Segera setelah ucapan itu selesai, serentetan tembakan dilepaskan dan ... terkulailah kelima penatua itu. Aku tak sadarkan diri dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ketika aku sadar, kudapati diriku sudah ada di rumah orangtuaku.
Pengalaman yang dahsyat itu menyebabkan aku yakin bahwa iman adalah modal keselamatan. Dan itu tidak hanya berlaku bagiku, tapi bagi setiap orang yang percaya kepada Dia. Hari-hari setelah kejadian itu tangan Yesus terasa sekali terus menyentuh ke dalam setiap relung kehidupanku. Juga gejolak batinku untuk terus mengiring Dia makin menjadi-jadi. Setelah tamat SMA, aku melanjutkan ke sekolah Teologia. Tahun-tahun terus berlalu dan kini aku hidup sebagai pelayan Tuhan di tengah-tengah Jemaat di daerah pedalaman. Sampai hari ini dalam pengabdianku, ayat Efesus 2:8-9 selalu menjadi peganganku: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. ( Sampai saat ini Shanti masih aktif memberitakan Injil di pedalaman Irian Jaya ). ( Kesaksian Shanti )
Refleksi : Kesaksian yang benar-benar membangun iman kita, menggugah hati kita. Oh...Tuhan kuatkanlah kami, agar kami teguh menjadi saksi akan kebenaran-Mu. Mungkin kami tidak seperti Shanti, pakailah kami menjadi alat bagi kerajaanMu untuk memberitakan Injil Keselamatan.
KECIL DULU BESAR KEMUDIAN
Minggu, 27 April 2008
Markus 4:31
Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi
Seorang pemuda Timor Timur bertobat. Sebelumnya, pemuda ini sakit paru-paru karena dia harus ikut dalam pertempuran di Timor Timur tahun 80-an. Karena tidak kuat lagi untuk berperang, dia bekerja di rumah seorang Kristen di kota Dili untuk cuci piring dan membersihkan got-got dibelakang rumah. Tahun 1991, seorang hamba Tuhan datang ke kota Dili dan mendoakan pemuda ini dan penyakitnya disembuhkan oleh Tuhan. Setelah sembuh, dia sangat setia kepada Tuhan. Melihat kesetiaannya, juragannya mengangkat dia menjadi penjaga toko. Karena kejujurannya, tak lama kemudian pemuda ini diangkat menjadi orang kepercayaan pemilik toko dan tentu saja gajinya pun semakin besar.
Saudara, hukum dalam Kerajaan Allah yang tidak dapat dipungkiri adalah: kecil dahulu besar kemudian. Sebenarnya, dalam kemahakuasaan-Nya Tuhan dapat mendirikan Kerajaan Allah seketika itu menjadi besar. Tetapi Tuhan memilih untuk mendirikan kerajaan-Nya melalui dua belas murid-Nya terlebih dahulu. Melalui 12 murid ini, akhirnya miliaran orang mendengar Injil. Hamba Tuhan Billy Graham yang sudah menginjili ratusan juta orang dan menjadi penasihat delapan presiden di Amerika Serikat ketika ditanya seorang wartawan, “Apa resep sehingga Tuhan memakai Anda begitu besar?” Maka jawabnya, “Setia dalam perkara kecil maka engkau akan diberikan perkara besar.” Ternyata resepnya tidak sukar, tetapi untuk melakukannya …?
Banyak orang gagal dalam hidupnya bukan karena tidak pintar atau IQ-nya rendah, tetapi karena tidak setia akan perkara kecil. Yesus berkata bahwa siapa yang setia dalam perkara yang kecil, maka kepadanya akan diberikan perkara yang lebih besar ( Matius 25:21 ). Banyak contoh dalam Perjanjian Lama bahwa kesetiaan adalah jalan menuju kesuksesan. Yosua setia mengikut Musa dan akhirnya dialah yang memimpin bangsa Israel sampai ke tanah Kanaan. Daud setia menjadi hamba Saul, walaupun banyak tantangan dan akhirnya Daud menjadi raja bangsa Israel. Sebelum Yusuf diangkat menjadi penguasa Mesir setelah Firaun, Yusuf harus mengalami proses: dimasukkan ke dalam sumur, lalu dijual ke Mesir, menjadi hamba Potifar, difitnah istri Potifar, masuk penjara dan akhirnya dialah yang menyelamatkan keturunan Yakub dari bahaya kelaparan. ( zoe )
Refleksi : Bagaimana dengan Anda ? Apakah Anda orang yang setia akan perkara yang kecil ? Alkitab berkata, “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya” (Ams. 20:6) ? Tuhan mencari orang yang setia agar Dia dapat menggenapi rencana-Nya di muka bumi ini.
ISHAK ANAK PERJANJIAN
Senin, 28 April 2008
Bible Background
Ishak ( Ibrani yitskhaq mungkin berarti orang ketawa ). Sewaktu mendengar pemberitahuan Abraham tertawa ( Kej 17:17 ), kemudian Sara sendiri tertawa saat memikirkan bahwa dia yang sudah begitu tua akan melahirkan seorang putra ( Kej 18:12-15 ). Waktu Ishak lahir Abraham berusia 100 tahun dan Sara menyatakan bahwa Allah membuat ia tertawa ( Kej 21:6 ). Pada hari Ishak disapih, Ismael menertawakannya.
Dua hal utama hidup adalah kelahirannya dan perkawinannya. Hal itu demikian karena dia adalah benih melalui siapa garis perjanjian diteruskan. Abraham telah diuji dengan demikian berat sehubungan perjanjian benih, tapi sekarang, pada usianya yang sudah sedemikian lanjut, yang boleh dikatakan ” matahari menjelang terbenam ” lahirlah benih itu. Jadi jelaslah bahwa Allah melaksanakan tujuan-Nya dalam menggenapi janji-janji itu bagi manusia nampaknya tidak mungkin digenapi.
Pada pesta penyapihan, Ishak menjadi objek gelak tawa dan olok-olok dari pihak saudara Ismael. Karena itu Hagar dan anaknya Ismael diusir dari rumah ayahnya. Selanjutnya Allah mencobai Abraham dengan memerintahkan dia untuk membunuh anaknya, Ishak. Abraham mematuhi Allah, tapi Allah mendahului dia dengan menyediakan seekor domba jantan untuk korban persembahan. Perjanjian diperbaharui lagi bahwa Abraham akan mempunyai banyak keturunan.
Hal kedua yang mempunyai arti penting dalam hidup Ishak adalah perkawinannya. Bahwa Ishak akan lahir adalah mujizat, tapi tidak lama sesudah itu dia nampaknya harus mati. Jadi bagaimanakah dia menjadi benih yang dijanjikan ? Ternyata dia tinggal hidup, dan perhatian tertuju pada perkawinannya, sebab melalui dialah garis keturunan yang dijanjikan akan berlanjut. Abraham prihatin akan kelanjutan benih yang dijanjikan, maka dia menyuruh hambanya yang paling tua mengambil seorang istri untuk Ishak dari negerinya sendiri, yaitu negeri Haran. Ribka, anak gadis Betuel ipar Abraham, ditunjuk menjadi calon pengantin wanita dan ia bersedia meninggalkan rumahnya mengikuti hamba itu. Ishak dan Ribka menikah dan cinta kasih mereka berkembang sebagai hasil dari tindakan-tindakan Ishak yang cermat dan sopan.
Dua puluh tahun lamanya Ribka mandul. Kembali lagi nampak bahwa benih yang dijanjikan itu tidak akan datang melulu dengan jalan keayahan alami biasa, melainkan melalui kuasa kreatif ilahi. Kemandulan Ribka menyebabkan Ishak memohon kepada Allah. Lalu Allah memberitahu Ribka bahwa dua anak sedang bertolak-tolakan dalam rahimnya. Kedua anak tersebut akan mewakili dua bangsa, akan menempuh jalan saling bermusuhan. Pada akhir hidupnya Ishak ditipu oleh Yakub anaknya sendiri yang mengambil berkat yang diperuntukkan kepada Esau. Ishak panjang usianya untuk melihat Yakub kembali, dan pada usia 180 tahun Ishak meninggal dan dikebumikan oleh anak-anaknya, Esau dan Yakub. ( zoe )
INILAH KESETIAAN
Selasa, 29 April 2008
Mazmur 91:4
Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan
berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.
Setahun sudah lewat sejak Susan ( 34 tahun ) menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar ke dunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustrasi dan rasa kasihan pada diri sendiri. Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Susan menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.
Akhirnya Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak dipinggir kota yang berseberangan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri. Dan itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan di mana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan 1 kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya, wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah. Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya 1 bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi kearah yang berlawanan.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis … Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum’at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata : ”wah, aku iri padamu”. Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup? Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir, “Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?” Sopir itu menjawab, “Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu”. Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya.”Apa maksudmu?” Kau tahu minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung”. Kata sopir itu. Air mata bahagia membasahi pipi Susan mendengar kesetiaan dari Mark.
Begitu juga dengan kita sebagai orang percaya, karena meskipun secara fisik kita tidak dapat melihat dimana Tuhan berada, tetapi Ia selalu hadir. Kita beruntung, sangat beruntung, karena Allah memberikan hadiah yang jauh lebih berharga daripada segala sesuatu yaitu kesetiaan Tuhan yang selalu hadir untuk mendampingi, melindungi dan mengasihi kita. Amin. ( zoe )
Refleksi : Terima kasih Tuhan karena kesetiaanMu terhadap kami yang lemah ini.
PIRING PERSEMBAHAN
Rabu, 30 April 2008
Galatia 6:1-10
Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.
Mungkin saat ini kita merasa jemu dalam melayani Tuhan, tidak ada suka cita, tidak ada pujian, tidak ada sesuatu yang istimewa, jangankan sebuah mujizat kecil yang terjadi dalam doa kita, sebuah angan-angan bahwa "Tuhan itu hidup" saja tidak pernah kita pikirkan, semuanya berjalan "biasa-biasa saja" kalau tidak mau disebut "membosankan", namun cerita ini menyadarkan aku secara Pribadi bahwa Tuhan mampu mengukir prestasi pelayanan kita melalui tangan orang lain. Jangan lelah bekerja diladang Tuhan, bahkan ketika semuanya terasa biasa-biasa saja atau mungkin mengecewakan, karena kita baru saja menyelesaikan satu tendangan umpan terbaik bagi "Top Score", Tugas kita bukanlah menghasilkan sesuatu yang spektakuler di dalam Tuhan ! Tugas kita adalah TETAP SETIA di dalam Tuhan
Aku pernah membaca sebuah email tentang seorang Pastor dari gereja kecil di pedesaan Skotlandia. Ia telah dipaksa keluar oleh para penatua di gerejanya karena dianggap tidak menghasilkan buah dari pelayanannya. Desa tempat pastor itu melayani merupakan tempat yang sulit. Penduduk desa itu bersikap dingin dan memusuhi kebenaran. Selama pelayanan sang pastor di desa tersebut, tidak terjadi pertobatan maupun baptisan. Namun, pastor itu mengingat kembali satu respons positif terhadap khotbahnya. Suatu ketika piring persembahan diedarkan dalam Perayaan Ekaristi dan seperti biasa, tidak ada yang tergerak untuk mempersembahkan sesuatu, namun tiba-tiba seorang anak laki-laki meletakkan piring itu di lantai, lalu berdiri di atasnya. Saat di minta menjelaskan mengapa ia melakukan hal itu, anak itu menjawab bahwa ia berbuat demikian karena sangat tersentuh oleh kehidupan sang pastor. Dan karena ia tak punya uang untuk dipersembahkan, ia ingin memberi diri sepenuhnya bagi Allah.
Anak kecil yang berdiri di atas piring persembahan itu adalah Bobby Moffat, orang yang pada tahun 1817 menjadi pelopor utusan Injil di Afrika Selatan. Ia dipakai Allah secara luar biasa untuk menjamah kehidupan banyak orang. Padahal semua ini dimulai dari gereja kecil tersebut dan kesetiaan pelayanan pastor yang tidak dihargai itu. Mungkin Anda tidak melihat buah pekerjaan Anda bagi Tuhan. Namun, tetaplah setia! Jangan menjadi tawar hati. Sebaliknya, mintalah supaya Allah menguatkan Anda dengan kuasa-Nya (2 Korintus 4:1,7). Dia akan memberikan tuaian sesuai dengan waktu dan jalan-Nya jika Anda tidak berputus asa (Galatia 6:9), Allah akan menumbuhkan buah-buah kesetiaan kita dalam diri orang lain. ( zoe )
Refleksi : Tuaian banyak tetapi Allah membutuhkan siapa saja yang mau dengan taat pergi dan menjadi penuai yang setia.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
Links to this post:
Create a Link
<< Home