Think & Write

Friday, March 6, 2009

BUKU 25 Ways To Win with People: Buatlah orang lain merasa sangat berharga

BUKU 25 Ways To Win with People: Buatlah orang lain merasa sangat berharga

Thursday, August 28, 2008

School smart or street smart

(dikutip dari buku born to be a genius : Adi W Gunawan)

ada 2 orang anak yang berjalan di hutan. anak pertama adalah anak yang sgt cerdas, IQ-nya sangat tinggi dan berbeda jauh dengan anak kedua. tiba2 di depan mereka muncul seekor beruang besar.

anak pertama, dengan kecerdasannya segera menghitung, jarak mereka dari beruang dewasa yg beratnya 250 kg ini 25 meter, dengan kecepatan larinya si beruang akan sampai di tempat mereka dalam waktu sekitar 7 detik, berarti setelah 7 detik mereka akan mati dimakan beruang.

sedangkan anak kedua berdiri dan bersiap berlari.

anak 1 : apa yang akan kamu lakukan?
anak 2 : lari
anak 1 : kamu bodoh sekali. kita tidak mungkin bisa mengalahkan kecepatan lari beruang itu. jarak kita terlalu dekat. jadi, percuma saja kalau kamu lari.
anak 2 : ya, itu benar. tapi saya bisa lari lebih cepat dari kamu.

dari cerita diatas siapakah yang lebih cerdas?
anak pertama (school smart) atau anak kedua (street smart) ?

lalu pendidikan seperti apa yang dipelajari di sekolah,
school smart atau street smart?

ayo sharing disini,,,

rumus kimia

soal Kimia nih, ada yg bisa kaga ya


C6H12O6 + CH3COOH + Na2SO4 ayoayo


klo dicampur jadinya paan ya ?

Note : mikirnya yg simple" aja ya, jgn nyalahin gw klo stress ga bisa jawab

gampang banget

hebat lhoo... hehe..
trus neh

coba d,

5+5+5 = 550

tambahin satu garis biar bener.. hehe.. mikir

Teqa-teqi

Moga2 belom pernah yah wow
maap kalo sudah

Ada 3 orang kos. Masing2 bayar 25rb sebulan.
Suatu hari ketiga orang itu menitipkan bayaran mereka ke (sebut saja) Anto.
Si Anto pun segera memberikan 75rb ke ibu kos.
Karena ibu kos barusan ultah nih, dia balikin 5rb buat bonus.
Si Anto kebingungan membagi duit 5 rebu itu.
Supaya adil, masing2 anak kos diberi seribu dan sisa 2 ribu diembat si Anto.

~~TAMAT~~ (eh lho? )



Sekarang coba kita itung ulang. Masing2 anak bayar 24rb (karena seribunya dibalikin)
kalo 24 rb x 3 = 72 ribu.
Di Anto ada 2 ribu. Jadi 74 ribu.
Lho? Di manakah sang seribu berada??

Self-control man

KESERAKAHAN: VIRUS YANG MEMANGSA DIRI SENDIRI ( 1 )
Minggu, 1 Juni 2008
Efesus 5: 3
Tetapi . . . keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus

Willi Hoffsuemmer pernah menulis kisah tentang Smith dan guru kepala yang sedang berdiri dekat gelanggang anak-anak, tempat anak-anak bersukaria sepuasnya. Smith bertanya kepada guru kepala, “Mengapa terjadi bahwa setiap orang ingin bahagia, namun sangat sedikit yang mengalaminya?” Sang guru kepala memandang ke arah gelanggang anak-anak, lantas menjawab, “Anak-anak itu tampak sungguh bahagia.” Dengan agak keheranan, Smith berkata, “Sudah tentu mereka bahagia karena satu-satunya yang mereka lakukan adalah bermain.” “Kamu benar,” ucap sang guru, “tetapi apa yang sesungguhnya menghalangi kaum dewasa berbahagia seperti itu juga dapat menghalangi anak-anak berbahagia.”
Sang guru merogoh saku celananya, mengambil segenggam kepingan uang logam, lantas menghamburkannya di tengah-tengah anak-anak yang sedang bermain. Spontan saja semua sorak gembira terhenti. Anak-anak saling menindih dan berkelahi untuk merebut kepingan uang tersebut. Kemudian, guru kepala berkata kepada Smith, “Menurut kamu, hal apa yang menyebabkan mereka mengakhiri kebahagiaan mereka?” Smith menjawab, “Perkelahian!” Lanjut si guru, “Ya, tapi apa yang memicu dan memacu perkelahian itu?” Agak tersipu-sipu dan ragu, Smith menjawab, “Keserakahan.” Guru itu menjawab, “Bagus, kamu telah menemukan jawaban sendiri.”
Kita hidup dalam lingkungan yang serakah. Keserakahan itu ada di mana-mana. Ia bagaikan virus yang menyebar di mana-mana dan ke mana-mana. Mengapa orang menjarah kepunyaan orang yang lain? Salah satunya pasti karena ada keserakahan dalam hati. Mengapa orang menipu untuk mengambil uang orang lain? Salah satunya adalah karena keserakahan. Mengapa hubungan persaudaraan bisa runtuh ketika menyentuh soal warisan? Salah satunya pasti karena keserakahan.
Sungguh, keserakahan itu ada di mana-mana. Kita yang sudah percaya pun juga tidak kebal terhadap virus yang satu ini. Sebab itu, firman Tuhan masih mengingatkan kita agar kita waspada terhadap keserakahan. Efesus 5: 3, misalnya, mengingatkan kita, “Tetapi . . . keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu . . . .” Perhatikan standar yang diberikan firman Allah pada kita: “Disebut sajapun jangan di antara kamu.” Apa artinya? Artinya, jangan sampai orang-orang di sekitar kita menyebut kita adalah orang yang serakah. Itu berarti segala tindakan dan perkataan kita harus berada sejauh mungkin dari keserakahan agar orang lain tidak menyebut kita serakah. Kita harus steril dan mensterilkan diri dari virus keserakahan baik di tempat kerja, di tempat belajar, di tempat tinggal, di tempat ibadah, dan di mana pun kita berada. ( Diadaptasi dari Simon Filantropha, “Monster yang Memangsa Diri Sendiri. “ oleh zoe )

Refleksi : Bro, keserakahan adalah virus berbahaya yang bukan saja memangsa orang lain, tetapi juga diri sendiri. Waspadalah!



























SI KIDAL YANG HANDAL ( kisah Ehud )
Senin, 2 Juni 2008
Bible Background

Hidup dalam perhambaan memang bukan hal yang menyenangkan. Yang ada hanyalah sengsara dan tersiksa. Begitulah gambaran dari kehidupan orang Israel ketika Yahweh menghukum mereka dengan membiarkan mereka dijajah oleh Eglon, raja Moab yang bersekutu dengan raja Amon dan raja Amalek. Mereka diperbudak selama 18 tahun sehingga mereka merasa sangat menderita. Kota pohon palem yang diduduki dan dijadikan basis oleh Eglon adalah kota Yerikho (1:16 bnd Ul. 34:3). Kota ini sudah dikutuk oleh Yosua, jadi apakah Eglon membangun lagi kota itu ataukah membangun di sekitar reruntuhan Yerikho ?
Tak ada kisah apapun yang menjadi latar belakang Ehud. Nama ini berarti “Kuat”. Orang ini muncul karena Allah yang memilih dan memanggilnya. Alkitab menyebutnya sebagai “penyelamat” artinya orang yang melakukan tindakan penyelamatan yang punya dampak besar. Kelebihan/keanehannya justru menjadi andalannya. Ehud adalah seorang kidal, seorang yang terbiasa untuk memakai tangan kirinya lebih banyak dibandingkan dengan tangan kanannya. Tapi Allah justru membiarkannya untuk menggunakannya bagi misi penyelamatannya. Allah bisa menggunakan siapa saja yang DIA mau, tak peduli latar belakang hidupnya, tak peduli apa yang dimilikinya. Yang penting adalah kesediaan, kerelaan hati untuk taat dan mengikuti apa yang menjdi kehendakNya.
Selain itu yang bikin kita kagum adalah Ehud adalah seorang pandai besai yang handal. Dia rancang dan buat sendiri pedang yang akan dipakai untuk menghabisi Eglon. Berarti Allah memberi akal kepada Ehud & terserah dia bagaimana mengembangkannya. Bahkan siasat untuk berpura-pura memberi info rahasia, ketajamannya untuk memperhatikan situasi bangunan dan penjagaan, semua itu dilakukan oleh Ehud secara natural, bukan tiba-tiba jadi pintar. Dan Allah berkenan memakai semua itu untuk melancarkan misi penyelamatanNya yang hebat itu
Bahkan Ehud memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat sehingga dia mampu menggerakkan umat Israel untuk berani mengangkat sejata dan menyerang para penjajah mereka dengan serentak dan mendadak. Sebuah prestasi gemilang yang mengangumkan. Karena jasa Ehud maka orang Israel menikmati kehidupan damai selama 80 tahun, suatu masa yang cukup panjang. Penderitaan itu dihapuskan oleh masa sejahtera 4,5 kali lipat dari 18 tahun kesusahan. Tak ada catatan lain tentang Ehud dan kisah kepahlawanannya tapi dia dikenang sebagai salah satu tokoh iman yang luarbiasa. Bagaimana dengan diri kita? ( zoe )

Penekanan Pengajaran
Para siswa menyadari bahwa bila Allah punya rencana unik untuk setiap kita agar kita bisa dipakai oleh Allah sebagai alatNya untuk tujuan muliaNya. DIA menghendaki kita bersyukur dengan keadaan kita dan mendayagunakan apapun yang kita miliki semaximal mungkin untuk melayaniNya.



























KESERAKAHAN: VIRUS YANG MEMANGSA DIRI SENDIRI ( 2 )
Selasa, 3 Juni 2008
Efesus 5: 3
Tetapi . . . keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus

Alkisah dalam mitologi Yunani diceitarakan tentang saudagar kayu yang sangat kaya. Ia bernama Erisychton ( baca: Er-is-ya-thon ). Dia terkenal sebagai orang yang serakah. Dia hanya berpikir tentang keuntungannya melulu. Tak ada yang sakral baginya. Di tanahnya terdapat sebuah pohon istimewa yang dicintai oleh para dewa. Di pohon itu selalu diikatkan doa-doa kaum beriman. Tak sedikit pun ia peduli pada keistimewaan pohon tersebut. Bahkan, pada suatu hari, dia mengambil kapak untuk menebangnya setelah menghitung hasil keuntungan menjual kayu pohon istimewa tersebut. Segala protes tak digubris. Akibatnya, salah satu dewa mengutuk dia atas keserakahannya. Dewa itu berkata bahwa dia akan didera rasa lapar yang tidak akan pernah ada puasnya. Kutukan itu pun terjadilah. Dia mulai memakan persediaannya. Tetapi tidak terpuaskan, lantas ia memakan istri dan anak-anaknya juga. Akhirnya, tak ada lagi yang bisa dimakan selain memakan diri sendiri.
Kita perlu mengingat segala dampak buruk yang dirampas oleh keserakahan. Memang serakah itu nikmat pada awalnya. Kelihatannya ia memberikan kebahagiaan. Tapi sesungguhnya kebahagiaan dan kenikmatannya itu hanya tipuan. Ia justru merampas dan menghancurkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dampak buruk apa saja yang dihancurkan oleh keserakahan ? Pertama, dampak vertikal (dampak ke atas). Artinya adalah keserakahan akan menghancurkan hubungan kita dengan Tuhan. Kerohanian kita akan dirusak olehnya. Kenapa bisa demikian? Orang yang serakah adalah orang yang tidak pernah puas dengan berkat Tuhan. Ia selalu melirik berkat orang lain. Ketika kita tidak memiliki sepeda motor, kita doa agar Tuhan memberikan berkat sepeda motor. Lalu Tuhan kabulkan doa kita. Tapi setelah memilikinya, hati kita bertanya, “Mengapa si dia punya mobil dan aku tidak punya?” Kita kembali berdoa agar Tuhan memberikan berkat mobil. Lalu Tuhan memberikan mobil. Tapi setelah memiliki mobil, kita masih melirik berkatnya orang lain dan bertanya, “Mengapa si dia punya mobil baru, sedangkan saya punya mobil bekas?” Dan seterusnya. Apa yang kita lihat di sini? Segala pikiran, perasaan, tenaga, difokuskan hanya pada ketidakpuasan kita terhadap berkat Tuhan karena keserakahan kita sendiri. Nah akibatnya, fokus kita tidak lagi pada Tuhan. Hidup kita tidak lagi berpusat pada Tuhan, tetapi pada hal-hal yang tidak pernah memuaskan kita. Dan, ketika Tuhan tidak lagi menjadi pusat kehidupan kita, maka saat itulah kita telah mengundang kemarahan Tuhan. Jadi, keserakahan akan mengganggu hubungan vertikal, hubungan kita dengan Tuhan.
Kedua, dampak horizontal. Artinya, keserakahan akan menghancurkan hubungan kita dengan orang-orang lain. Dalam dunia usaha, kita sering mendengar pepatah, “Tidak ada teman sejati dalam bisnis. Hari ini dia teman, besok belum tentu.” Mengapa pepatah ini bisa muncul? Karena, di lapangan keserakahan sering terlihat. Ketika seseorang serakah, maka ia tidak senang melihat orang lain mendapatkan penghargaan. Ketika seseorang serakah, maka ia tidak senang melihat orang lain sukses. Ketika seseorang serakah, maka ia akan menghalalkan segala cara untuk memuaskan keserakahannya. Di sinlah kita akan menghancurkan hubungan kita dengan orang lain, termasuk hubungan dengan anggota keluarga. Gara-gara serakah terhadap warisan, maka hubungan persaudaraan bisa hancur lebur. Gara-gara serakah terhadap uang, maka hubungan dengan anggota keluarga menjadi tidak harmonis. Keserakahan akan menghancurkan banyak orang.
Karena itu kuasailah dirimu agar tidak terjerumus dalam keinginan-keinginan yang membuat kamu menjadi pribadi yang serakah. Tidak pernah bersyukur akan apa yang telah diterima dari Tuhan bahkan berusaha mengambil berkat orang lain. ( Diadaptasi dari Simon Filantropha, “Monster yang Memangsa Diri Sendiri. “ oleh zoe )

Refleksi : Ingatlah perkataan firman Tuhan yang mengatakan “ keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus “














KUASAI DIRI DENGAN MELIHAT POTENSI SENDIRI
Rabu, 4 Juni 2008
I Korintus 12:12-31
Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu sekalipun banyak merupakan satu tubuh ... Allah menyusun ... supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh Kristus

Suatu hari pergilah belalang ke sebuah desa dan setelah ia berjalan-jalan melihat desa tersebut. Sampailah ia di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar. Belalang itu bertanya kepada anjing, "Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan disini?" "Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing dengan sombongnya. Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda.Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita". "Baik", jawab si anjing. "Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut". Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.
Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu sudah kalah". "Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua ?" "Apapun tantangan itu, aku siap" tukas si anjing. Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, dari diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya". Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum. "Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing.
"Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang. Intinya adalah kamu dan saya mempunyai potensi dan standard yang berbeda tentang kemenangan. Adalah tidak bijaksana membandingkan potensi kita dengan yang lain. Kemenangan sejati adalah ketika dengan potensi yang kamu miliki, kamu bisa melampui standard dirimu sendiri. ( zoe )

Refleksi : Rekan-rekan yang terkasih, seberapakah tinggikah anda `melompat' ? Dalam kehidupan, seringkali tanpa sadar kita mencoba membandingkan kemajuan dan perkembangan diri kita dengan standard orang lain. Dan seringkali lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan yang didapat. Mengapa ? Karena kita masing-masing dilahirkan dengan potensi yang berbeda, dengan bakat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan. Cara yang tepat untuk mengukur seberapa jauh diri kita telah berkembang dan maju, adalah membandingkan diri kita saat ini dengan diri kita dimasa lalu. Apakah anda hari ini lebih bisa mengontrol emosi dibanding bulan lalu ? Apakah anda hari ini lebih bijaksana dibanding setahun yang lalu ? Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, namun kemenangan atas diri sendiri.












FILTER
Father’s Heart
Kamis, 5 Juni 2008
Filipi 4:8-9
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Suatu hari seorang kenalannya bertemu denga filsuf besar itu dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"
"Tunggu beberapa menit," Socrates menjawab. "Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan meberikan suatu test sederhana. Ini disebut Triple Filter Test."
"Triple filter Test?"
"Benar," kata Socrates. "Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test."
Filter petama adalah KEBENARAN. "Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?"
"Tidak," jawab orang itu, "Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu."
"Baik," kata socrates. "Jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"
"Tidak, malah sebaliknya..."
"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada sattu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN. Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"
"Tidak, sama sekali tidak."
"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, buruk dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?"
Itulah mengapa Socrates adalah filsuf yang sangat terhormat. Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang kawan dekat atau kawan yang Anda kasihi. Paulus, rasul dari Yesus kristus mengatakan, "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap di dengar, semua yang disebut kebajikan dan patus dipuji, pikirkanlah semuanya itu ... Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu." (Filipi 4:8-9) ( zoe )

Refleksi : Mengendalikan diri kita dalam berkata-kata adalah sebuah hal yang sangat baik, keluarkanlah kata-kata yang memotivasi bukan malah mengeluarkan kata-kata yang selalu menjatuhkan orang lain.

























God's Refreshing Word
Friday, June 6, 2008
ODB RADIO: Listen Now | Download
Isaiah 55:8-11
My word . . . shall not return to Me void
When I was a boy, our family would occasionally travel across Nevada. We loved the desert thunderstorms. Accompanied by lightning bolts and claps of thunder, huge sheets of rain would blanket the hot sand as far as the eye could see. The cooling water refreshed the earth—and us.
Water produces marvelous changes in arid regions. For example, the pincushion cactus is completely dormant during the dry season. But after the first summer rains, cactuses burst into bloom, displaying delicate petals of pink, gold, and white.
Likewise, in the Holy Land after a rainstorm, dry ground can seemingly sprout vegetation overnight. Isaiah used rain's renewal to illustrate God's refreshing Word: "As the rain comes down, and the snow from heaven, and do not return there, but water the earth, and make it bring forth and bud, that it may give seed to the sower and bread to the eater, so shall My word be that goes forth from My mouth; it shall not return to Me void, but it shall accomplish what I please, and it shall prosper in the thing for which I sent it" (Isa. 55:10-11).
Scripture carries spiritual vitality. That's why it doesn't return void. Wherever it encounters an open heart, it brings refreshment, nourishment, and new life. — Dennis Fisher
God's Word is like refreshing rain
That waters crops and seed;
It brings new life to open hearts,
And meets us in our need.





































GORESAN MOBIL
Sabtu, 7 Juni 2008
Galatia 5:22-23
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Tiba-tiba, "Buk....!" Aah..., ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang. "Cittt...." ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati.
Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir. "Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!! Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. "Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya." Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu. Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf. "Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa." Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.
"Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti...." Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. "Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan.." Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. "Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya"
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. "Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak." Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: "Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu." ( zoe )

Refleksi : Kuasailah dirimu dalam segala hal. Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar ? Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.









KEKUATAN KATA-KATA
Minggu, 8 Juni 2008
Yakobus 3:1-12
Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar

Sekelompok katak berjalan melewati hutan, dan dua di antaranya terperosok ke dalam sebuah sumur yang dalam. Katak yang lain berkumpul di sekitar sumur itu. Ketika mereka melihat betapa dalamnya sumur itu, mereka berkata pada kedua katak itu sebaiknya mereka mati saja.
Kedua katak itu tidak menghiraukan komentar kawan-kawannya itu dan berusaha melompat keluar dari sumur dengan segenap kekuatan mereka. Katak-katak yang lain berteriak agar mereka menyerah, sebaiknya mereka mati saja. Akhirnya salah satu katak mengikuti yang diteriakkan teman-temannya dan menyerah. Ia jatuh dan mati.
Katak yang lain terus meloncat sekuat ia bisa. Sekali lagi, kawan-kawannya berteriak agar katak itu menghentikan usahanya yang sia-sia dan mati saja. Tetapi katak itu berusaha makin kuat dan akhirnya berhasil keluar. Setelah berada di luar, katak-katak yang lain bertanya, “Kau dengarkah teriakan kami?” Katak itu menjelaskan pada kawan-kawannya bahwa ia tuli. Ia mengira bahwa kawan-kawannya itu menyemangati dia terus menerus.
Cerita ini mengajarkan kita dua hal:
1. Lidah kita memiliki kekuatan mati dan hidup. Kata-kata yang membangkitkan semangat pada seseorang yang sedang dalam kesulitan dapat mengangkat dia dan menolong dia melewati hari-harinya.
2. Kata-kata yang meruntuhkan semangat dapat membunuh orang itu. Hati-hatilah pada apa yang Anda ucapkan. Berbicaralah positif pada orang-orang yang Anda jumpai
Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. (Yakobus 3:9-10). Lidah adalah monster yang harus kita taklukan, kuasailah dia dengan meminta kuasa dari Tuhan. Janganlah sampai kita tidak bisa mengendalikan lidah karena perkataan yang kita keluarkan akan memberikan dampak yang besar dalam kehidupan kita, kehidupan orang lain, bahkan orang-orang yang ada disekitar kita. ( zoe )

Refleksi : Lidah memberikan banyak pengaruh dalam kehidupan manusia, ada orang yang berhasil karena lidah yang selalu memberkati. Ada orang yang selalu gagal karena lidah yang seringkali meratapi kemalangannya sendiri. Kuasailah lidah mu dan berbicaralah positif akan segala hal.
































SI PEMALU YANG MENGHANCURKAN ( Kisah Gideon )
Senin, 9 Juni 2008
Bible Background

Lagi-lagi tak ada kisah latar belakang tentang si “godam” (palu besar = arti nama Gideon). Dia tiba-tiba muncul dalam kisah Alkitab sebagai seorang pria dewasa yang sangat minder karena berasal dari suku yang terkecil bahkan kaum yang terkecil (suku Manasye, separoh suku ini tinggal terpisah di seberang Timur sungai Yordan). Rasanya karena tekanan musuh dan situasi suku yang terlalu kecil dibandingkan suku-suku lain, serta kemudaan usianya membuat Gideon menjadi minder dan kurang pede, ini terlihat dari :
1. Dia minta bukti sampai 2x untuk meyakinkan diri bahwa benar-benar Yahweh yang menginginkan dirinya menjadi pemimpin bagi bangsanya.
2. Dia harus diyakinkan Tuhan bahwa hanya dengan 300 orang pilihan akan mampu mengganyang habis musuh yang jumlahnya ratusan ribu orang.
Kisah kepahlawanan Gideon dicatat oleh Alkitab lebih banyak daripada Ehud:
1. Dia berani merobohkan patung Baal, sembahan ayahnya untuk menunjukkan bahwa Yahwehlah Allah yang benar dan hidup sehingga dia dijuluki “Yerubaal” (penantang Baal) artinya Biar Baal yang datang dan menghukumnya bila dia ada.
2. Dia ternyata harus berperang hanya dengan 300 orang pilihan sebagaimana diajari oleh Yahweh sendiri dan hanya bersenjatakan buyung tanah liat dan obor, artinya Yahweh yang akan berperang bagi mereka.
3. Dia juga berhasil membunuh 2 raja Midian, Zebah dan Salmuna serta menghukum penduduk Sukot yang menolak memberi bantuan kepadanya dan tentaranya ketika mengejar ke2 raja musuh itu.
Sayang sekali bahwa catatan kehidupan Gideon memiliki kisah gelap yang menyedihkan. Dia memulai sesuatu dengan indah tapi mengakhirinya dengan buruk, sebuah contoh yang tak patut ditiru :
1. Dia memiliki banyak istri, 1 gundik dan banyak anak lelaki, untuk mempertunjukkan kekuatan dan kehebatan dirinya.
2. Dia justru mendirikan berhala baru (efod) di kotanya sendiri dan mengajak rakyat justru kembali meninggalkan Yahweh. Sang penantang Baal justru sekarang berubah menjadi sang penantang Yahweh. Padahal dalam hidupnya terbukti Allah yang hidup dan benar adalah Yahweh sendiri. Semua dilupakan dan tidak dihiraukan demi kejayaan pribadi. ( zoe )

Penekanan Pengajaran :
Mengajak para siswa untuk waspada terhadap rasa minder, harus bisa dikikis dan waspada terhadap ambisi pribadi yang mengalahkan kesetiaan kepada Allah.





























MENANGIS
Selasa, 10 Juni 2008
Mazmur 126:5-6
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Menangislah … bila harus menangis
Karena kita semua … manusia
Manusia bisa terluka … manusia pasti menangis
Daud menangis. Petrus menangis. Dan Yesus pun menangis. Bukan mengada-ada lho, tapi beneran ... Lalu Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga. Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang. (2 Samuel 1:11-12). Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Matius 26:75). Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" Maka menangislah Yesus. (Yohanes 11:33-35)
Apa ada yang salah dengan menangis, sehingga banyak pria di dunia ini yang anti menangis? Ternyata para kesatria, rasul dan juga Yesus sendiri pun memberikan suatu contoh bahwa mereka pernah menangis! Daud yang dikenal sebagai seorang pemberani, seorang pahlawan yang memenangkan ratusan perang, bisa menangis ketika mendengar berita bahwa Saul dan Yonatan sahabatnya mati. Petrus yang terkenal dengan sifatnya yang menggebu-gedu, juga menangis tak kala dia teringat akan dosa dan kesalahannya menyangkal Yesus saat menjelang penyaliban-Nya di Golgota. Yesus ? Hmm, Yesuspu menangis ketika melihat Lazarus sahabat-Nya meninggal dunia sebelum Dia sendiri membangkitkannya dari kematian.
Menangis bukanlah hal yang cengeng jika kita menangis pada tempatnya. Menangis adalah sebuah ekspresi kita untuk menunjukkan perasaan duka yang ada dalam hati kita sama seperti aktivitas tertawa, melompat, marah dan lain-lain. Menahan tangis hanya demi gengsi, itulah yang cengeng. Karena jika kita menahan kesedihan dalam hati kita dan menyembunyikannya itu berarti kita tidak berani menghadapi kenyataan. Daud, Petrus dan Yesus adalah contoh yang tepat tentang bagaimana caranya mengungkapkan perasaan hati. Mereka berani menghadapi kenyataan hidup yang begitu pahit sehingga mereka mengekspresikannya dengan menangis ! Air mata diciptakan Tuhan sebagai alat untuk menyentuh hati orang. Berapa banyak orang-orang yang kembali ke jalan kebenaran hanya dengan tetesan air mata dari para pendoa syafaat? Berapa banyak bangsa-bangsa yang terlepas dari belenggu Iblis hanya dengan cucuran air mata evangelism dan volunteer? Alkitab pun menggunakan air mata untuk membawa kemenangan.
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya. (Mazmur 126:5-6) Jika air mata tidak berguna buat dunia ini tentu juga Allah tidak akan menciptakan itu. Hanya saja, kita harus tahu kapan saatnya menangis. Dengan bersedih kita bisa menyelidiki kenapa kita begitu dan kemana kita akan melangkah setelah kesedihan itu berlalu. ( zoe )

Refleksi : Kuasailah dirimu dalam segala hal. Baik saat kita menangis ataupun bahagia. Hadapilah kesedihan, berilah waktu untuk diri sendiri menikmati kesedihan itu dan izinkan diri kita menangis. Menangislah kepada Tuhan. Dia tahu rasanya bersedih. Dia pernah menangis. Dia tahu rasanya ditinggal sendirian. Dia mengenal kesedihan alam kubur dan juga segala bentuk penderitaan di bumi ini. Tetapi Dia juga mengenal sukacita kebangkitan kembali. Mengenal sorak sorai kemenangan atas penderitaan, kesedihan dan maut yang pernah dialami-Nya. Dan dengan kuasa-Nya juga, kita bisa kembali bangkit atas kesedihan kita sebelumnya. It’s oke bro, saya sendiri menangis ketika menulis ini.












DOSA DAN BENALU
Rabu, 11 Juni 2008
Galatia 5:13
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa ...

Suatu hari, sebatang pohon Alpukat menikmati sejuknya udara sore. Tiba-tiba keasyikannya terusik oleh sapaan dari sebutir biji Benalu yang sedang diterbangkan angin kian kemari. "Selamat sore Alpukat," sapa Benalu. "Oh, kamu Benalu, selamat sore juga," balas Alpukat. "Wah Alpukat, sekarang kamu sudah besar, ranting rantingmu banyak, daunmu lebat, buahmu besar-besar," puji Benalu. "Iya Benalu, itu karena akar-akar saya banyak dan rajin menghisap sari-sari makanan dari dalam tanah," kata Alpukat dengan bangga.
Kemudian Benalu melanjutkan, "Hampir sepanjang hari saya diterbangkan angin, rasanya badan saya capek sekali. Boleh tidak saya beristirahat di salah satu rantingmu, untuk satu malam saja?" Tanpa berpikir panjang Alpukat langsung mengabulkan permohonan sang Benalu. "Jangankan satu Benalu kecil, lima puluhpun saya masih tidak terasa," pikir Alpukat.
Maka sejak itu Benalu tinggal di pohon Alpukat dan tanpa disadari oleh Alpukat, Benalu semakin hari semakin besar dan beranak banyak. Suatu hari Alpukat melihat tubuhnya sudah kurus kering. Saat itulah Alpukat sadar bahwa Benalu sudah merugikan dirinya. Lalu Alpukat memutuskan untuk menyuruh benalu meninggalkan tubuhnya.
"Alpukat, semua akar-akar saya sudah tertancap di dalam tubuhmu. Jadi jangan pernah bermimpi kalau saya akan memenuhi permintaanmu", kata Benalu sambil tertawa. Semakin hari Alpukat semakin kurus dan akhirnya mati karena Benalu terus menghisap makanan dari tubuh Alpukat tanpa belas kasihan.
Banyak orang yang bertindak seperti Alpukat ini. Waktu dosa-dosa kecil datang menggoda dan hadir dengan segala daya tariknya, mereka tidak langsung menolaknya. Mereka pikir, "Ah itu hanya dosa kecil saja, tidak akan mempengaruhi keimanan saya. Saya akan tetap rajin berdoa."
Terbukti bahwa setiap orang yang meremehkan dosa yang kecil sekalipun, akan terjerat oleh dosa yang lebih besar lagi. Satu hal yang harus kita ingat, kalau hari ini kita melakukan satu dosa kecil, dosa kecil tersebut makin lama akan menjadi besar dan melahirkan dosa-dosa lain karena salah satu sifat dosa adalah melahirkan dosa. Jauhilah nafsu orang muda. Jangan merasa diri kuat iman sehingga Anda bebas bermain-main dengan dosa. Setiap perbuatan dosa, harus kita jauhi dan hindari. ( zoe )

Refleksi : Setiap orang Kristen seringkali menganggap remeh ketika ternyata melakukan dosa yang menurutnya kecil dan tidak akan berakibat fatal. Tetapi seperti Benalu yang tinggal dipohon Alpukat dan menghisap makanannya sehingga mati, begitu juga dengan dosa. Meskipun kelihatannya kecil tetapi ia akan dengan sangat rajin mengerogoti iman dan pada akhirnya menyebabkan kerusakan yang sangat parah.



























MELAYANI LEBIH SUNGGUH
Father’s Heart
Kamis, 12 Juni 2008
Roma 11:36
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

Melayani itu bukan sekadar aktif dalam kegiatan gereja, atau mau berkorban untuk melakukan tindakan-tindakan sosial. Melayani juga menyangkut hati. Kalau kita aktif digereja supaya semua keinginan dan ide kita dipenuhi; itu bukan pelayan, melainkan juragan. Kalau kita mau mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan materi untuk membantu orang-orang miskin supaya kita populer dan mendapat pujian; itu buka pelayan, tetapi politikus. Pendek kata, melayani bukan sekedar soal aksi, tetapi juga motivasi. Lalu, semangat seorang pelayan seperti apa yang sepatutnya dimiliki?
Pertama, semangat tampah pamrih. Entah dihargai atau tidak, disenangi atau tidak, mendapat apa-apa atau tidak; yang penting kita melakukan tugas itu dengan baik. Ada sebuah cerita. Suatu ketika disebuah departement store masuklah seorang wanita gelandangan. Pakaiannya kotor, compang-camping. Ia berkeliling melihat-lihat seperti layaknya orang yang hendak membeli sesuatu. Di depan sebuah baju yang dipajang ia berhenti.
Seorang gadis pelayan mendekatinya, "Bisa saya bantu, Bu?" tanyanya ramah.
"Saya ingin mencoba baju ini," kata si wanita gelandangan.
"Baik, Bu. Ruang gantinya ada disebelah sana. Silahkan Ibu kesana. Saya akan bawakan bajunya."
Wanita gelandangan itu lalu mencoba baju yang dipajang. Tidak hanya satu, ia mencoba baju yang lainnya. Kemudian satu lagi. Sampai lima baju. Si gadis pelayan tetap melayaninya dengan ramah. Senyumnya mengembang. Ia tidak kesal atau jengkel. Begitu juga ketika wanita gelandangan itu ngeloyor pergi tanpa membeli satu pun baju-baju yang telah dicobanya. Si gadis pelayan mengantarnya sampai pintu keluar. Bahkan dengan sopan mengucapkan terima kasih atas kunjungan wanita gelandangan itu.
Rupanya ada seorang pria yang sejak tadi memperhatikan. Ia mendekati gadis pelayan tadi, "Wanita gelandangan itu sudah jelas tidak bermaksud membeli," katanya mencela, "kenapa kamu melayaninya, bahkan mengijinkannya mencoba baju-baju itu? Bukankah badan dan baju yang dikenakannya sangat kotor dan dekil?" tanyanya pula.
"Saya adalah pelayan disini. Tugas saya melayani siapa pun yang datang kesini sebaik-baiknya; entah orang itu datang untuk membeli atau tidak," jawab pelayan itu tenang.
Begitulah seorang pelayan yang baik. Ia tidak akan terpengaruh oleh reaksi orang-orang disekitarnya; entah dipuji atau dicaci. Ia tetap akan berkonsentrasi pada tugasnya; melakukan yang terbaik dari yang bisa ia lakukan semampu dia, bukan semau dia.
Kedua, semangat tidak memilih-milih. Jadi, terlepas sebuah kegiatan pelayanan itu kita sukai atau tidak, kita minati atau tidak; kita tetap bisa mengerjakannya dengan senang hati. Ketiga, semangat memberi. Artinya, kita melayani bukan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi karena kita ingin memberikan sesuatu. Mengapa demikian? Karena kita sadar sesadar-sadarnya betapa dalamnya, besarnya, dan luasnya kasih Tuhan dalam hidup kita. Dan sebagai ungkapan syukur, kita ingin berbagi dengan orang lain melalui pelayanan kita. Supaya orang lain pun merasakan sapaan kasih Tuhan, dan memuliakan Tuhan. ( Disarikan dari buku Bila Cinta Menyapa )

Refleksi : Ingatlah apapun yang kita lakukan adalah untuk memuliakan Allah. ” segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)


















A Personal Gospel
Friday, June 13, 2008
Mark 16:15
Go into all the world and preach the gospel to every creature.
In John 3:16 we read, "For God so loved the world." But what about His love for individuals? The rest of the verse reveals the central purpose behind God's sacrifice of His Son: "That whoever believes in Him should not perish but have everlasting life." Therefore, without exception, every person may interpret John 3:16 like this: "For God so loved me!"
A. B. Simpson, a great missionary of the past, often hugged a globe to his chest and wept over the world's lostness. Yet his global vision was marked by compassion for individuals. You and I also must feel the responsibility to take the gospel to our world—by sharing the good news with one person at a time.
Unfortunately, we often think of the Great Commission in terms of "foreign missions" only. "World missions" is perhaps a better term, for that includes our nearest neighbors, who are part of the world to which God has called us. And we are already there!
Like A. B. Simpson, embrace your smaller world through earnest prayer as you consider lost individuals in your family, neighborhood, and workplace. Then, as you seek to live and give the good news, expect God to open doors of opportunity. — Joanie Yoder
Jesus died to bring salvation
For the rich and for the poor;
Those of every tribe and nation
He includes the ones next door.





































KUASAILAH DIRIMU !
Sabtu, 14 Juni 2008
Galatia 5:22-23
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Brinkman dan Kirschner pernah menulis mengenai orang yang bertipe ”TANK”. Atau, kalau saya memberi nama, tipe ”BULDOSER”. Ciri utama dari ”tank” atau ”buldoser” itu? Ya! Main labrak dan main tabrak. Apa pun menghalang di depan, mereka tak peduli. Terjang terus! ”Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”. Yang segera tergambar di benak saya, adalah tragedi Tien An-men. Ketika entah berapa ratus tubuh mahasiswa Cina pipih, hancur-luluh, digilas tank tentara. Tergambar pula operasi ”penertiban” ”rumah-rumah liar” di Jakarta. Ketika entah berapa banyak bangunan rubuh ke tanah, berkeping-keping, ditanduk buldoser. Sungguh mengerikan. Sebab mulai melaju, tank dan buldoser tak dapat ditahan. Kita lebih baik cepat-cepat menyingkir! Atau kita akan diterjangnya. Pernahkah Anda berjumpa atau berhubungan dengan orang bertipe seperti itu - seperti ”tank” atau ”buldoser”?
Orang dengan tipe ”buldoser” salah satu ciri utamanya adalah pembawaannya yang meledak-ledak. Kegemarannya berkonfrontasi. Dan orang jangan coba-coba melawan atau membantahnya. Sebab ia juga pemberang, dan mudah sekali lupa diri. Sangat agresif. Ini dilakukannya, kadang-kadang - atau sering - tanpa sebab yang memadai. Ia hanya ingin orang menakuti, menghormati, menaatinya - baik dengan rela maupun terpaksa! Seolah-olah puas, bila melihat orang sampai ketakutan. Pertanyaannya bagaimana agar orang dengan tipe seperti ini bisa berubah. Caranya hanya dengan menerima Kristus dalam hati dan Roh kudus akan bekerja untuk membentuknya menjadi pribadi yang dapat menguasai dirinya sendiri.
Perjanjian baru menyebutnya sebagai ”penguasaan diri”. Dalam Galatia 5:23, Paulus mengkategorikan ”penguasaan diri” sebagai salah satu dari ”buah pekerjaan Roh Kudus”. Ini berarti, pertama, pada dasarnya manusia itu tidak mampu ”menguasai” atau ”mengendalikan” dirinya. Ia mampu, hanya dengan pertolongan Roh Kudus. Lalu apa yang terjadi, bila manusia tidak mampu ”menguasai diri”-nya sendiri? Yang terjadi adalah, ia ”dikuasai”, ”dikendalikan”, ”ditaklukkan”, ”diperhamba”, oleh ”nafsu-nafsu kedagingan”nya (Galatia 5:17). Dan inilah yang kita lihat terjadi, pada orang-orang tipe ”Tank”. Mereka tak dapat mengendalikan nafsu amarahnya! Orang-orang ini, masih hidup di bawah perbudakan. Kelihatannya saja kuat, perkasa, dan menakutkan, tetapi sebenarnya ”budak”.
Yang kedua, yang dapat kita simpulkan, adalah, bahwa orang yang dikuasai oleh Roh Kudus, mau tidak mau, akan hidup dalam ”penguasaan diri”. Mampu mengendalikan diri! Mampu menguasai emosi! Dengan cara inilah, anak-anak Tuhan menunjukkan ”kelebihan”nya. Mungkin, dalam banyak hal, mesti ”mengalah”, tapi ”tidak kalah”! ”Lemah lembut”, tapi ”tidak lemah”! ”Rendah hati”, tapi tidak ”rendah diri”. ( zoe )

Refleksi : ”Pengendalian emosi” ” pengendalian diri ” bukanlah sekadar ”kiat” yang bersifat teknis, taktis, dan situasional. Tapi, tak kurang, ia adalah salah satu ciri penting, yang menetap dan melekat pada ”gaya hidup kristiani” kita.






















PENGUASAAN DIRI = EGO DI BAWAH PENUNDUKAN ROH KUDUS
Minggu, 15 Juni 2008
II Samuel 11-12
Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.

Tokoh terbesar Alkitab setelah Musa adalah Daud. Bila Musa disebut sebagai orang yang sangat lembut hatinya melebihi semua manusia di muka bumi, maka Daud disebut sebagai orang yang kepadanya Tuhan berkenan. Kehidupan Daud merupakan sebuah perjalanan hidup yang penuh gejolak. Seorang yang matanya indah dan parasnya elok. Penuh Keberanian. Begitu polos dalam percayanya pada Tuhan Allah. Ketrampilannya sebagai pemusik sekaligus gembala. Dengan segala kemegahannya ini, Daud tetap jatuh dalam dosa seksual. Semua berakar pada tidak adanya penguasaan diri.
Apa benar Daud tidak punya penguasaan diri ? Karena ada satu peristiwa mengenai penguasaan diri yang luar biasa patut dipuji, ketika dia dikejar-kejar Saul. Peristiwa itu dapat disaksikan di 1 Samuel 24-26. Daud menolak dorongan hatinya dan dorongan anak buahnya untuk membunuh Saul. Padahal dia memiliki alasan dan kesempatan untuk membunuh Saul. Lagipula Saul sudah buat hidup Daud susah hanya karena iri hatinya. Daud menguasai dirinya sedemikian rupa dan tidak membunuh Saul.
Kalau begitu apa yang terjadi pada Daud yang gagal menguasai diri dalam hal seksual di 2 Samuel 11? Situasi kehidupan Daud di kedua peristiwa itu sangat berbeda. Daud mengingat Tuhan yang mengurapi Saul, ketika dia mengalami pencobaan untuk membunuhnya. Tetapi Daud tidak mengingat Tuhan ketika dia gagal menguasai diri dalam hal seksual dan pembunuhan.
Inilah titik terpenting penguasaan diri. Daud mampu menguasai diri karena dia menempatkan diri/egonya dibawah penundukan Tuhan yang mengurapi Saul. Daud tidak mencari pembenaran untuk membunuh Saul, padahal dia juga tahu bahwa Tuhan sudah menolak Saul. Daud adalah orang yang menang di mata Tuhan, makanya layak dia disebut orang yang kepadanya Tuhan berkenan.
Daud bergantung total pada Tuhan ketika dikejar musuhnya. Sebaliknya, Daud menikmati kenyamanan ketika dia sudah memperoleh kemenangan demi kemenangan. Perhatikan setting suasana di 2 Samuel 11 yang menunjukkan betapa nyamannya hidup Daud. Kenyamanan bisa menjadi racun yang membius sehingga yang kita inginkan selalu yang enak. Daud tidak mampu menguasai diri untuk memuaskan kenyamanan mata dan pikirannya ketika melihat Batsyeba. Daud menundukan dirinya dibawah kenyamanan, sehingga dia berdosa dan membayar harga yang mahal untuk kesalahannya. ( zoe )

Refleksi : Memiliki penguasaan diri bukan berarti kita pintar dalam hal self-management. Penguasaan diri adalah menundukan diri/ego kita di bawah kuasa Roh Kudus.



























SI LEMAH YANG DIPERHITUNGKAN (Kisah Deborah & Yael)
Senin, 16 Juni 2008
Bible Background

Biasanya para wanita dianggap sebagai kaum yang lemah, yang tak berdaya, yang tak memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan nyata. Namun yang dipertunjukkan dalam Alkitab kali ini sungguh berbeda. Di tengah jaman yang kacau, Allah justru memunculkan 2 tokoh wanita yang hidup sejaman, yang justru mempunyai sumbangsih sangat berarti bagi kaum Israel.
Yang pertama adalah Deborah (arti namanya adalah Lebah/tawon) seorang nabiah yang sekaligus dipakai Allah menjadi hakim bagi umatNya. Jadi dari pelimpahan tugas ini, kita mengetahui bahwa Deborah adalah seorang yang saleh, yang mempunyai hubungan dekat dengan Allah. Juga seorang yang tegas dan berjiwa pemimpin. Allah tak segan memakainya sehingga melalui dirinya, Allah mengatur bangsa Israel.
Dari deborahlah maka Allah menghendaki agar Israel bangkit melawan penjajah dengan di pimpin oleh seorang pria bernama Barak (arti namanya Dia memberkati). Deborah telah menyatakan kehendak Tuhan, tapi ternyata Barak sebagai seorang pria justru tak pede untuk maju perang kecuali didampingi oleh Deborah. Ini adalah sebuah hal yang memalukan karena ternyata Barak tak bersedia melakukan tugasnya tanpa pendampingan Deborah, seorang wanita. Dengan jiwa besarnya, Deborah menerima ajakan itu dan terbukti bahwa Allah memberikan kemenangan kepada bangsa Israel dan sebagaimana yang diucapkan maka kemuliaan Barak dibagi dengan Deborah.
Satu lagi wanita pahlawan muncul dari kalangan bangsa Midian yang telah menjadi bagian dari bangsa Israel yaitu suku Keni. Seorang ibu rumah tangga sederhana bernama Yael (arti namanya Yahweh itu Allah). Perempuan ini hanya tahu memasak, membersihkan dan memperlengkapi kemah (hidup nomaden) tapi ketika Allah memberi kesempatan dia berjumpa dengan musuh bangsanya, dia tidak ketakutan atau histeris. Dengan tenang diperlakukannya tamunya dengan ramah sampai kemudian dibunuhnya dengan patok kemah.
Yael adalah seorang wanita pemberani. Dia tidak segera melawan Sisera dengan senjata tajam. Dia melawannya dengan kelembutan seorang nyonya rumah. Dia tahu Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk berbakti bagi bangsanya maka diapun tidak meyia-nyiakan kesempatan itu. Allah selalu akan memakai yang lemah untuk mempermalukan yang kuat karena yang lemah justru tahu bagaimana bersandar kepada Allah bnd. 1 Kor.1:27 ( zoe )

Penekanan Pengajaran :
Mengajar para siswa untuk tidak menghina orang lain yang tergolong lebih lemah, namun juga jangan memandang diri berlebihan sehingga sombong atau memandang diri terlalu rendah sehingga minder karena Tuhan menghargai setiap kondisi kita dan menghendaki kita untuk bersandar padaNya senantiasa baik dalam kekuatan maupun dalam keunggulan.




























PENGUASAAN DIRI
Selasa, 17 Juni 2008
Amsal 16:32; 25:28
Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.

Penguasaan diri adalah kemampuan untuk mengendalikan pikiran dan tindakan seseorang ke arah satu sasaran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Dan ini merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang Kristen. Sejauh mana pentingnya penguasaan diri dalam kehidupan orang Kristen? Dalam renungan ini kita akan membandingkan orang yang tidak dapat menguasai diri dengan orang yang menguasai diri.
Orang yang tidak dapat menguasai diri (Ams.25:28) Dalam Ams.25:28 digambarkan bahwa orang yang tidak dapat menguasai diri adalah seperti kota yang telah roboh temboknya. Pada zaman ditulisnya kitab ini, tembok suatu kota merupakan perlindungan terhadap serangan musuh dan juga adalah simbol kekuatan dan keamanan bagi negara itu. Oleh karena itu, kota yang telah roboh temboknya menunjukkan betapa kota itu sudah tidak aman, bahkan kehilangan identitasnya sebagai sebuah kota. Jadi kita dapat melihat betapa pentingnya penguasaan diri itu. Tanpa penguasaan diri kita ibarat kota yang telah hancur temboknya.
Diri kita menjadi tidak aman bagi orang yang di sekitar kita terutama diri kita sendiri. Seorang ibu berumur 23 tahun membunuh putrinya yang berumur 2 tahun dengan melemparkannya keluar dari mobil yang sedang diparkir. Apa yang terjadi? Pada waktu itu Misuko Oshitari pergi ke pasar swalayan dan meninggalkan anaknya di mobil. Pada waktu dia kembali ke mobil, dia melihat bahwa Natzuki buang air kecil di dalam mobil. Tanpa banyak pertimbangan Oshitari mendorong putrinya keluar mobil dan anaknya tewas setelah kepalanya membentur lantai beton jalan itu. Betapa buruknya dampak orang yang tidak menguasai diri. Bagaimana dengan kita, dalam hal apa kita tidak dapat menguasai diri? Kemarahan, ketakutan, iri hati, kerakusan? Jika kita tidak dapat menguasai diri, maka kita adalah ibarat kota yang roboh temboknya.
Orang yang dapat menguasai diri (Ams.16:32) Dalam Ams.16:32 ini dilukiskan orang yang menguasai diri melebihi seorang yang merebut kota. Pada zaman penulisan kitab ini, orang yang telah berhasil merebut kota berarti telah mendapat satu kemenangan yang luar biasa, karena itu menunjukkan betapa kuat dan hebatnya orang itu. Namun dalam ayat ini dilukiskan bahwa seseorang dapat menguasai dirinya, ia lebih daripada seorang yang merebut kota. Ia lebih hebat daripada seorang pemenang. Betapa pentingnya penguasaan diri itu. Hal yang harus dilakukan agar kita dapat menguasai diri adalah menyerahkan hidup kepada pimpinan Roh Kudus. Ketika Roh Kudus memimpin hidup kita, maka kita akan menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22-23), yang salah satunya adalah penguasaan diri. Dalam konteks buah Roh, penguasaan diri adalah hasil/akibat persekutuan antara orang percaya dengan Roh Kudus. Oleh karena itu kita harus taat kepada pimpinan Roh Kudus yang menuntun kita untuk melakukan Firman Tuhan.
Dengan kata lain, kita harus mengijinkan Roh Kudus melakukan bagaiannya dalam hidup kita yaitu membimbing kita melakukan Firman Tuhan. Sedangkan kita harus melakukan bagian kita, yaitu mentaati Roh Kudus. Tentu saja, hal ini tidak akan berjalan secara otomatis. Kita perlu mendisiplin diri kita untuk melakukan bagian kita. Seperti seorang atlit angkat besi yang dapat mengangkat besi seberat 100 kg, tidak akan secara otomatis dapat melakukannya. Pasti dia berlatih dari kilogram yang kecil sampai akhirnya dia dapat mengangkat 100 kg. Demikian pula dengan penguasaan diri, kita perlu terus berlatih setiap hari. Kita perlu mentaati Roh Kudus yang memimpin hidup kita untuk melakukan Firman Tuhan. Amin. ( zoe )

Refleksi : Kuasailah dirimu dalam segala hal. Karena orang yang menguasai diri melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi para pahlawan dan pemenang.

















STANFORD UNIVERSITY
Rabu, 18 Juni 2008
1 Samuel 16:7
Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar dan suaminya yang berpakaian sederhana dan terlihat usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University dan meminta janji temu. Sang sekretaris langsung mendapat kesan bahwa orang kampung, udik seperti ini tidak ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada disini. "Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang Pria lembut. "Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat. "Kami akan menunggu," jawab sang Wanita. Selama 4 jam Sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi ternyata tidak, dan sang sekretaris mulai frustrasi dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang Pimpinan.
"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka, tetapi dia tidak menyukai ada orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini."
Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh... dia bahkan terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini akan seperti kuburan." "Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard." Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard." Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?"
Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, dimana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Anda bisa dengan gampang menilai karakter orang lain dengan melihat bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang mereka pikir tidak dapat berbuat apa-apa untuk mereka ( Inspirational story by Malcolm Forbes ).

Refleksi : Don’t judge book by cover, menurut saya adalah sebuah kata yang tepat untuk mengambarkan cerita di atas. Orang yang mampu menguasai diri akan bisa mengendalikan sikap, cara pandang terhadap orang lain, bukan berdasarkan apa yang kelihatan saja. Jika saja sang pemimpin Harvard mau bersabar dan bisa mengendalikan dirinya untuk mendengar perkataan dari kedua orang tua tersebut, saya rasa akhirnya akan lebih baik bagi sekolah tersebut. Penguasaan diri dilakukan dalam setiap aspek hidup kita, itulah yang menjadi ciri khas dari karakter rohani orang Kristen yang dewasa.

















HIDUP UNTUK APA
Father’s Heart
Kamis, 19 Juni 2008
Matius 5:13-16
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Apa tujuan hidup Anda? cobalah sejenak memikirkan, merenungkan, dan menggumuli pertanyaan itu. Itu penting agar hidup kita tidak seperti layangan putus, terombang-ambing. Tuhan menciptakan dan memberi kita hidup, tentunya tidak sekedar untuk mati. Pasti ada misi bagi kita. Ada dua misi, yaitu misi individual dan misi universal. Misi universal yang berlaku bagi semua orang percaya adalah menjadi garam dan terang dunia. Garam dapat mencegah pembusukan daging dan memberi cita rasa pada makanan. Orang romawi dulu bahkan menganggap garam sebagai benda paling bersih dan jernih, karena berasal dari dua benda yang juga paling bersih dan jernih, yaitu matahari dan laut. Karena itu, garam selalu dihubungkan dengan kemurnian. Adapun Terang memampukan kita untuk membedakan jalan yang benar dan salah. Terang juga dapat menjadi alat penyelamatan. Dan banyak lagi manfaat terang. Bahkan sesungguhnya, tapa terang dunia, tidak akan pernah ada kehidupan.
Itulah misi kita yang sesungguhnya, menjadi garam dan terang. Apakah orang-orang di sekitar kita betul-betul bersyukur dengan kehadiran kita? Pertanyaan ini baik menjadi bahan intropeksi kita, untuk menilai sejauh mana kita sudah mengemban misi kita. Ada seorang yang sejak muda sangat gigih untuk mengejar keberhasilan. Dan betul, ia berhasil. Ia tidak saja menjadi orang sangat kaya, tapi juga pandai dan punya jabatan tinggi. Semua orang terkagum-kagum dengan kesuksesannya. Tetapi, ketika ia sudah tua dan pensiun, ia menengok kehidupan yang sudah ia jalani, dan merasa sangat hampa. "Semua itu seperti usaha menjaring angin," katanya mengutip kitab Pengkhotbah, "sia-sia di atas segala kesia-siaan."
Kita semua pada dasarnya sedang menunggu giliran untuk bertemu dengan kematian. Hari ini si Polan, kemarin si Pulin, besok entah siapa lagi. Suatu saat akan tiba giliran kita. Entah kapan, tetapi pasti. Pertanyaannya, apa yang akan dikenang orang ketika kita tiada? Akankah kita hilang dan dilupakan? Ada cerita tentang seorang pria yang mempunyai 4 istri. Suatu saat pria itu sakit parah, dan sudah hampir mati. Ia ingin istrinya menemani sampai pada kematiannya. Maka, dipanggillah istri ke empat, wanita yang cantik jelita dan seksi. "Istriku, aku akan mati. Temani aku, sampai aku mati," pintanya.
"Menemanimu sampai mati? Tidak, aku tidak mau," jawab si istri sambil pergi tanpa menoleh lagi kepadanya.
Istri ketiga dipanggil, wanita dengan berpenampilan modis dan trendi. Permintaan yang sama dia ajukan. "Apa? Menemanimu sampai mati?" sahutnya. "Tidak mau. Lebih baik aku menikah lagi."
Istri kedua dipanggil, wanita berpenampilan biasa. Kepadanyalah sang suami sering meminta pendapat tentang berbagai hal. "Istriku, tak lama lagi aku akan mati, aku ingin sekali kamu ikut denganku," pinta si suami.
"Aku tidak bisa sekalipun aku mau," jawab si istri. "Aku hanya bisa menemanimu sampai lubang kubur." Terakhir, Istri pertama, wanita sederhana. Permintaan yang sama diajukan padanya, "Suamiku," jawab sang istri. "Tidak usah khawatir. Tanpa kamu minta, aku akan menyertaimu selamanya, bahkan sampai pada kematianmu."
Pada dasarnya, kita memiliki empat "istri". Yang pertama, tubuh jasmani kita. Betapa pun baiknya kita menjaga dan merawatnya, tubuh jasmani akan meninggalkan kita, hilang tanpa bekas. Yang kedua adalah kekayaan dan jabatan. Ketika meninggal, kita tidak akan membawanya serta, dan justru akan beralih keorang lain. Ketiga adalah teman-teman, kerabat dekat, dan keluarga kita; seberapa pun besarnya kasih sayang mereka kepada kita, mereka hanya bisa mengantar kita sampai ke lubang kubur, tidak lebih. Yang keempat adalah iman dan karya kita selama hidup didunia, yang akan menyertai kita sampai mati. ( zoe )

Refleksi : Benarlah kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, sedang manusia mati meninggalkan karya; Karya untuk Tuhan dan sesama. Dengan menjadi garam dan terang dunia; kita dapat membuat dunia ini lebih baik.











Respect
Friday, June 20, 2008
Psalm 8:5
You have made him a little lower than the angels, and You have crowned him with glory and honor
In 1967, American vocalist Aretha Franklin topped the charts with her hit single "Respect." The song became an inspirational anthem for the civil rights movement and for others who demanded to be treated with respect.
Long before Aretha's hit record, Queen Vashti topped the Persian charts with her own version of "Respect." The book of Esther begins with King Ahasuerus hosting a great celebration. In addition to displaying his wealth and power, he also wanted to showcase his wife's beauty. So he commanded that Queen Vashti be brought before him and his guests.
If she obeyed, she would have allowed the king to degrade and dis-respect her. If she refused, she risked losing her life. She refused. What courage! Vashti didn't want to compromise her character by being reduced to a piece of property. Her desire for respect led to her banishment. We have no record that Vashti feared the Lord. But her courage shows that she understood the God-given dignity accorded to every human being.
God created us in His image and crowned us with glory and honor, having made us "a little lower than the angels" (Ps. 8:5). Out of love and reverence for Him, let us treat ourselves and others with honor, dignity, and respect. — Marvin Williams
Man's crowning glory lies in this:
God stamped on him His image rare;
No other creatures have that gift,
Nor living things with man compare.




































A MAGIC WORD : TIME MANAGEMENT
Sabtu, 21 Juni 2008
Galatia 5:16; Kolose 4:5
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat

Waktu adalah harta terpenting dalam hidup Anda, terkadang Anda hanya membuang, menggunakan, serta membunuh waktu dibanding dengan Anda menginvestasikan setiap waktu Anda. Anda semua diberikan waktu yang sama dalam satu hari yaitu 24 jam, namun apa yang membedakan orang berhasil atau orang yang gagal? Jawabannya adalah bagaimana Anda mengisi waktu Anda dengan hal-hal yang penting. Seorang menghitung bagaimana orang menghabiskan masa hidupnya selama 70 tahun. Berikut ini hasilnya : Tidur 23 Tahun, Bekerja 16 tahun, Nonton TV 8 tahun, Makan 6 tahun, Bepergian 6 tahun, Bersantai 4,5 tahun, Sakit 4 tahun, Berpakaian 2 tahun, Beribadah 0,5 tahun. Jika hidup Anda berakhir dan menjadi sebuah cerita. Kisah macam apakah yang Anda buat?
Seandainya diberikan pilihan, apakah Anda lebih mau menghemat waktu atau uang? Kebanyakan orang fokus pada uang. Padahal bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda itu jauh lebih penting daripada bagaimana Anda menghabiskan uang Anda. Prioritas Anda menentukan bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda, dan waktu itu sangat berharga. Waktu adalah lebih bernilai dibandingkan dengan uang. Anda dapat mencari uang, namun Anda tidak dapat meminta/mencari waktu. Pernyataan berikut membantu Anda memandang waktu dengan perspektif yang benar :
Untuk mengetahui nilai satu tahun… tanyakanlah kepada murid yang gagal dalam ujian akhir. Untuk mengetahui nilai satu bulan…tanyakanlah kepada Ibu yang bayinya lahir prematur. Untuk mengetahui nilai satu minggu… tanyakanlah kepada editor sebuah majalah berita mingguan. Untuk mengetahui nilai satu hari…tanyakanlah buruh harian yang mempunyai enam orang anak. Untuk mengetahui nilai satu menit…tanyakanlah orang yang ketinggalan pesawat. Untuk mengetahui nilai satu detik…tanyakanlah orang yang selamat dari kecelakaan. Untuk mengetahui nilai satu milidetik…tanyakanlah peraih medali perak olimpiade.
Anda tidak bisa mengubah waktu, hanya prioritas anda saja yang bisa Anda ubah. Mengelola Waktu Anda agar menjadi Orang yang Berhasil : Tuliskan di atas kertas semua yang Anda ingin lakukan : 1. Mengetahui Sasaran/Gol Anda. Tuliskan sasaran Anda/Gol hidup Anda untuk jangka waktu tertentu. Lalu pecahlah gol-gol tersebut menjadi gol bulanan, gol mingguan, gol harian. 2. Merencanakan segala sesuatunya di awal. Jangan memulai hari Anda tanpa merencanakannya terlebih dahulu. 20% waktu yang sudah Anda rencanakan terlebih dahulu akan menghemat 80% dari waktu yang Anda gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan Anda. 3. Bekerja dengan menggunakan perencanaan waktu. 4. Selalu bekerja berdasarkan daftar urutan :
“A” adalah tugas yang harus Anda lakukan. Tugas tersebut sangat mendesak dan penting karena jika tidak dikerjakan akan menimbulkan akibat yang buruk untuk jangka panjang.
“B” adalah tugas yang sebaiknya Anda kerjakan. Penting karena mempunyai efek jangka panjang yang tidak baik jika Anda tidak melakukannya sekarang.
“C” adalah tugas yang baik apabila Anda kerjakan. Tidak terlalu penting karena tidak mempunyai efek jangka panjang jika Anda tidak melakukan hal tersebut.
Contoh: makan siang bersama, membaca koran.
“D” adalah tugas yang tidak perlu Anda lakukan karena sama sekali tidak berguna untuk siapapun juga bila Anda kerjakan.
5. Selalu evaluasikan setiap apa yang telah Anda kerjakan. 20% dari waktu Anda menentukan 80% hasil yang akan Anda terima. Jangan katakan Anda tidak pernah ingat selalu ada waktu bagi Anda jika Anda memilih untuk melakukan hal-hal yang penting. ( zoe )

Refleksi : Pergunakanlah waktu dengan tepat. Ketika kita bisa mempergunakan waktu dengan tepat maka segala sesuatu yang kita kerjakan akan efektif dan memberikan hasil yang positif. Menguasai diri bukan hanya dalam hal rohani tetapi juga dalam hal yang praktikal seperti waktu. Ketika kita bisa mengusai diri kita untuk tidak membuang waktu dengan percuma, maka kita adalah orang yang bijaksana.










MENGUASAI DIRI = BIJAKSANA
Minggu, 22 Juni 2008
Amsal 3:21-26
Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu


Konon di Tiongkok pernah hidup seorang hakim yang sangat dihormati karena tegas dan jujur. Ia memutuskan setiap perkara dengan adil, tanpa pandang bulu. Suatu hari, dua orang menghadap sang hakim. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya meminta keputusan atas kasus mereka, yang sebenarnya sangat sederhana. Keduanya berdebat tentang hitungan 3x7. Yang satu mengatakan hasilnya 21, yang lain bersikukuh mengatakan hasilnya 27. Ternyata sang hakim memvonis cambuk 10 kali bagi orang yang menjawab benar. Spontan si terhukum memprotes. Sang hakim menjawab, “Kamu bodoh, mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3x7 adalah 21!”
Tentu saja itu hanya cerita rekaan. Hikmah dari cerita ini adalah bahwa jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan. Sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu. Bukankah kita sering mengalaminya ? Bisa terjadi dengan anggota keluarga, tetangga, atau teman-teman. Berdebat atau bertengkar untuk hal-hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma.
Ada saatnya kita mengalah untuk perdebatan atau pertengkaran yang sia-sia. Mengalah bukan berarti kalah, bukan ? Untuk itu kita perlu mempertimbangkannya dengan bijaksana. Seperti kata Amsal 3:21, “... janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu.” Memang tak mudah. Kita hanya dapat melakukannya dengan hati bersandar kepada Tuhan (ayat 26), hingga kita pun berjalan dengan aman, tanpa terantuk (ayat 23).
Menguasai diri dalam banyak hal sangatlah berguna bagi kita sebagai orang Kristen. Contoh nyata dari kehidupan kita sendiri, setiap hari seringkali kita terjebak dalam kemarahan karena tidak dapat mengendalikan amarah yang meledak-ledak. Padahal jika mau jujur kadangkala masalah yang dihadapi tidaklah terlalu besar, hanya kebiasaan manusia yang suka membesar-besarkan masalah yang sebenarnya kecil.
Menjadi orang bijaksana bukanlah hal yang terlalu sulit tetapi juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Yang dapat menjadikan kita bijaksana adalah keputusan kita sendiri yang menyerah kalah terhadap tantangan ataupun bijaksana dalam menyikapinya. ( zoe )

Refleksi : Hanya orang yang arif bisa menyikapi segala masalah dan tantangan dengan sikap yang bijak, percayalah kita bisa menjadi bijak dalam banyak hal bila kita belajar menguasai diri sendiri. Be wise guys !





























SI PERKASA YANG LEMAH (Kisah Simson)
Senin, 23 Juni 2008
Bible Background

Kekuatan sering diandalkan untuk membuat orang jadi lupa diri. Sesungguhnya tak ada seorang manusiapun yang sangat super sehingga menjadi sangat kuat. Hercules yang terkenal juga mati diracun oleh istrinya sendiri. Superman yang hebat juga kalah dengan kristal Krypton berwarna kehijauan yang membuatnya lumpuh total. Begitu pula dengan Simson (arti namanya Anak Matahari). Dia sangat kuat dan menjadi andalan bagi bangsa Israel. Dia terlahir dengan cara ajaib dan dikhususkan hidup sebagai nazir Allah (anak/orang yang terikat nazar/sumpah dengan Allah). Namun Simson hidup dengan sembrono.
Beberapa hal yang mempertunjukkan arogansi Simson :
1. Dia tidak setia dalam pernikahannya, dia justru mencintai wanita lain, bahkan akhirnya jatuh dipelukan wanita tunasusila, Delilah.
2. Dia sama sekali tidak menunjukkan hormat dan sayangnya pada ke 2 orangtuanya, tapi membuat mereka justru sedih dan khawatir.
3. Dia tidak menjaga kesucian hidup dengan memakan madu dari bangkai singa yang dibunuhnya.
4. Dia menganggap bahwa sampai kapanpun dia akan tetap memiliki kekuatan abadi dan prima
Namun Tuhan berkehendak untuk membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini telah melampaui apa yang Tuhan tidak sukai, maka Allahpun tak segan menyerahkannya ke dalam tangan musuhnya bahkan dibuat menderita oleh para musuhnya. Kesadaran memang biasanya datang terlambat. Setelah Simson mengalami siksaan sekian lama maka dia memohon agar Tuhan mengabulkan permintaannya untuk membunuh para musuhnya terakhir kali dengan jumlah yang sangat besar. Tuhan mengabulkan.
Jadi kita melihat betapa Tuhan tetap sayang pada Simson dan berkenan memakainya untuk menjadi alatNya, Hanya disayangkan bahwa Simson hidup dengan semau gue, tak peduli dengan peraturan dan ketetapan Tuhan karena dia tahu bahwa dirinya mempunyai kelebihan/kekhususan dibandingkan orang lain. ( zoe )

Penekanan Pengajaran :
Mengajar para siswa untuk menghargai kelebihan yang Tuhan berikan dan selalu ingat untuk bersyukur pada Tuhan dan memakainya bagi kemuliaan namaNya. Sadar bahwa kehebatan kita bisa diambil sewaktu-waktu oleh Tuhan bila kita berlaku pongah.

































MANUSIA PURBA YANG BENAR DAN TIDAK BERCELA
Selasa, 24 Juni 2008
Kejadian 6:9
Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

Tahun lalu ada sebuah film yang berjudul Evan Almighty. Film ini bercerita mengenai seorang yang bernama Evan Baxter seorang mantan wartawan yang kini bekerja menjadi anggota kongres, dengan tujuan ingin mengubah dunia. Dengan alasan itu, ia dan keluarganya pindah dari kediamannya di Buffalo ke Prestige Crest. Anak-anaknya yang semula protes akan kepindahan tersebut, namun setelah tiba di Prestige Crest mereka senang akan keadaan rumahnya yang begitu besar dan lingkungan baru yang luas. Dengan kepindahan tersebut, maka resmilah Evan Baxter menjadi anggota kongres. Pada malam nya, ia berdoa kepada Tuhan dan bersyukur atas semua yang dimilikinya. Ia juga berdoa agar ia dibantu untuk mengubah dunia. Namun ia tidak mengetahui bahwa Tuhan memiliki rencana lain. Keesokan harinya, di depan rumahnya ia kedatangan paket, dimana isinya adalah alat-alat pertukangan kayu. Bingung, namun Evan tetap mengacuhkannya dan pergi ke kantornya yang baru. Esok paginya, muncul paket kiriman lain yang berisikan kayu balok besar. Merasa tidak mengenal pengirimnya, Evan ingin agar paket itu dikembalikan ke pengirimnya. Namun petugas yang mengantar hanyalah bertugas mengantarkan kayu tersebut. Tiba-tiba saja, muncul Tuhan yang menginginkan Evan membuat bahtera (ark) dari kayu-kayu tersebut dan alat yang telah diberikan sebelumnya. Evan tidak langsung percaya, dan menganggap bahwa semua itu gila. Selanjutnya, tiba-tiba muncul berbagai jenis hewan yang muncul berpasangan, diantaranya burung merpati, kucing, anjing, domba, ular, dan lain-lain. Tentu saja Evan kaget, dan mulai berpikir... Apakah ini artinya ia harus membuat bahtera ? Semua isi film ini bukan berdasarkan dari Alkitab lho, bahkan menurut penulis film ini dibuat untuk memparodikan kisah Nuh dalam zaman modern. Isi keseluruhannya hanya untuk entertainment aja. Memang kisah ini hampir sama dengan kisah Nabi Nuh, tetapi tidaklah berdasarkan kepada kebenaran Alkitab.
Nuh yang kita kenal adalah "Seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya." Selain itu ia disebut "hidup bergaul dengan Tuhan" ( Kejadian 6:9 ). Bapak Nuh ini beserta keluarganya seorang pribadi historis. Ia adalah sosok manusia yang baik budinya, bahkan jelas orang yang tidak suka kekerasan. Jadi dalam istilah kita sekarang, orang langka yang lain dari yang lain-lain di zaman yang serba kacau dan kejam; orang saleh berbudi lembut di "bumi (yang) telah penuh rusak di hadapan Tuhan dan penuh dengan kekerasan" (Kejadian 6:11). Bapak Nuh tidak hanyut dengan arus kebanyakan orang. Ia tidak suka kekerasan menghadapi sesama. Akan tetapi, orang semacam itu firmus in re, suavis in modo. Artinya, keras kepala dalam soal prinsip, tidak ikut-ikutan, tegas sikapnya, tetapi lembut bila menghadapi sesama manusia dan mampu menguasai dirinya untuk tidak terpengaruh dengan keadaan yang tidak benar.
Figur Nuh ialah hamba Allah yang ideal. Ia konsekuen dalam apa yang ia lakukan konkret, juga ketika atas perintah Tuhan ia membuat kapal penyelamat, menghadapi datangnya air bah amat besar yang akan menggenangi bumi sampai menutupi gunung-gunung (Kejadian 6:20). Nuh sendirian, atau dalam bahasa sekarang disebut minoritas, bahkan minoritas dari minoritas. Ia figur diaspora terpencil di tengah lingkungan besar yang "sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi" (Kejadian 6:12), atau dalam bahasa rakyat, "di tengah zaman edan tidak ikut edan, tetapi tetap ingat dan waspada." Nuh selamat karena teguh sikapnya, mempercayakan diri kepada Sabda Tuhan. Dan kepercayaan atau imannya itulah (Roma 3:28) yang menyelamatkan Nuh beserta keluarganya. Ia adalah salah satu teladan iman yang tetap memberikan pengaruh kepada manusia zaman modern. ( zoe )

Refleksi : Seperti ikan yang tidak menjadi asin meskipun ia tinggal di laut yang berair asin. Sebagai remaja Kristen kita juga harus punya prinsip yang teguh dan tidak terpengaruh dengan dunia yang penuh dengan kekacauan. Penguasaan diri sangatlah dibutuhkan untuk mengerem kebiasaan-kebiasaan jelek kita, untuk mengingatkan kita bahwa kita adalah milik Allah bukan lagi budak dari dosa.













DICARI SEORANG SEPERTI YUSUF
Rabu, 25 Juni 2008
Kejadian 39:1-23
Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar


Seorang ayah menemukan majalah porno di kamar anak laki-lakinya yang masih remaja. Ia sangat terkejut. Dibukanya majalah itu. “Ya, ampun!” serunya dengan mata terbelalak. Lalu dibukanya lagi. “Ya, Tuhan!” ia makin kaget. Dan, ia terus membukanya. Sampai di halaman terakhir, “Ya, habis!” serunya pula. Itu hanya cerita humor. Humor itu hendak menunjukkan kebiasaan orang, yang saat tahu bahwa sesuatu itu dosa, bukannya menjauh, tetapi malah sengaja mendekat dan mencoba-coba.
Yusuf tidak bersikap demikian terhadap dosa. Ia terus digoda oleh istri Potifar, tetapi dengan tegas ia menolak. “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (ayat 8,9). Sampai suatu hari, pada saat di rumah sedang tidak ada siapa-siapa, godaan itu datang lagi. Dan, apa yang dilakukan Yusuf? Yusuf pun lari keluar (ayat 12).
Mencari seseorang yang seperti Yusuf sulit, apalagi di zaman yang serba modern dan arus informasi bisa di akses dengan cepat oleh semua orang termasuk anak-anak. Data menunjukkan bahwa para pengakses dunia maya kebanyakan kaum remaja dan pemuda yang menelusuri ( surfing ) untuk melihat situs-situs porno ... opps sorry, if some one get’s hurts, tapi ini real. Coba kalau tidak percaya, pasanglah iklan di sekolah atau di kelasmu dengan isi : ” Di cari seorang anak laki-laki seperti Yusuf yang hidupnya murni dan tidak bercela di hadapan Allah, termasuk dalam hal tidak pernah melihat gambar seronok, majalah porno serta mengaksesnya dari internet ” Menurut saya pasti akan sulit untuk menemukan seorang anak laki-laki yang 100% bisa mengikuti teladan Yusuf dalam hal kemurnian hidup.
Karena itu sebagai remaja dan pemuda Kristen kita perlu meniru Yusuf yang berani bersikap tegas terhadap dosa. Lari keluar. Menjauh. Tidak lari di tempat, apalagi lari mendekat. Iblis sangat cerdik. Ketika kita belum jatuh, ia terus-menerus menggoda kita, “Ayolah, sekali-kali tidak apa-apa.” Akan tetapi, begitu kita terjatuh Iblis akan berkata kepada kita, “Yah, sudah telanjur jatuh. Sudahlah, ibarat kepalang basah, mandi saja sekalian!” Beranikan dirimu untuk menjauhi diri dari segala hal yang berbau pornografi, percaya bro ... itu hal yang sangat merugikan dirimu.

Refleksi : JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN DOSA. Kusailah diri untuk tidak terjebak di dalam lingkaran pornografi, kita punya kuasa untuk melepaskan itu. Dengan Allah tidak ada yang tidak mungkin.




























A MAGIC WORD : DISCIPLINE
Father’s Heart
Kamis, 26 Juni 2008
I Korintus 9:24-27
Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

Tema beberapa bulan ini dari SMA Tri Tunggal adalah mengenai disiplin. Bagaimana setiap siswa diharapkan memiliki karakter disiplin yang akan menjadi salah satu kekuatan mereka dalam menghadapi dunia pendidikan yang notabene sangat bersaing. Karena itu tulisan ini menjadi sebuah wacana yang diharapkan membuka pemikiran dan hati kita untuk tetap mau menerima pengajaran dari Firman Tuhan mengenai kedisiplinan.
Paulus mengatakan dalam I Korintus 9:25 “ tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. “ (1 Korintus 9:25) Bila ada satu kata yang luar biasa dari keberhasilan kita adalah disiplin. Disiplin adalah jembatan dari apa yang kita pikirkan dan pencapaiannya. Antara mimpi dan kenyataan.
Kegagalan bukanlah hal yang luar biasa. Namun kegagalan merupakan hasil dari kesalahan kecil yang terus diulangi. Bila sasaran Anda adalah menulis sepuluh surat dalam satu hari namun Anda hanya menulis lima surat, itu berarti Anda gagal dalam lima surat. Namun jika Anda mempunyai sasaran, menulis sepuluh surat satu hari dan Anda mengerjakan Lima belas surat, maka Anda melakukan perbedaan yang luar biasa. Bila Anda disiplin melakukan hal tersebut hasilnya akan sangat berbeda dengan jika Anda hanya menulis lima surat dalam satu hari.
Displin adalah kunci untuk Anda bertumbuh ke arah yang lebih baik.
Kunci pertama untuk Displin adalah kesadaran yang dibutuhkan dan nilai dari disiplin itu sendiri, secara khusus disiplin akan membuat Anda mengalami perubahan.
Kunci Kedua adalah kemauan untuk melakukan. Lebih dari pada sekadar menginginkan.
Kunci ketiga untuk disiplin adalah Komitmen untuk menjadi ahli dalam kehidupan Anda.
Disiplin akan membawa banyak perubahan dalam hidup Anda. Bahkan displin yang terkecil sekali pun akan membawa efek perubahan dalam sikap Anda. Jadi marilah kita memulai prosesnya. Buatlah kebiasaan yang baik, tidak peduli betapa kecilnya perubahan itu. Ukuran perubahan tidaklah penting namun yang penting apakah Anda memulainya dan terus menerus melakukan perubahan! Tuhan memberkati. ( zoe )

Refleksi : Perlu sebuah ketekunan dan komitmen untuk melatih diri dalam kedisiplinan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selamat berdisiplin ria oke





























The Lamb Is My Shepherd
Friday, June 27, 2008
Revelation 7:17
The Lamb who is in the midst of the throne will shepherd them.
The writers of the Old and New Testaments used many different metaphors for the Lord Jesus Christ. These word pictures vividly describe the marvelous aspects of Jesus' life and ministry.
While visiting a friend, hymnwriter Albert Simpson Reitz saw the following motto hanging on a wall: "The Lamb Is My Shepherd." How foolish, he thought. Then he realized that a smudge on his glasses had distorted the second word of the motto. Actually it read: "The Lord Is My Shepherd."
His mistake started him thinking. He remembered that the Scriptures present Jesus both as the Good Shepherd and as the Lamb of God. Reitz said to his friend, "I've just seen the glorious gospel of our Lord in a new light. I'm reminded that the apostle John on the island of Patmos saw a vision, assuring him that the resurrected 'Lamb who is in the midst of the throne' will guide His people even when they get to heaven. Misreading that motto on your wall has given me a rich blessing. It could actually read, 'The Lamb Is My Shepherd.'"
It's reassuring to know that our Shepherd will guide us safely through this life, and that He will continue to feed and lead us throughout eternity. — Henry G. Bosch
The Lord of hosts my Shepherd is—
O sweet these words to me;
And Thou, dear Lamb, will be my Guide
Throughout eternity






































LIMA JURUS PENGENDALIAN DIRI
Sabtu, 28 Juni 2008
Titus 2:6
Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka
menguasai diri dalam segala hal

“Bagaimana ya cara untuk bisa mengendalikan diri ? ” Anda pernah bertanya hal seperti ini. Lima jurus yang saya jelaskan ini mudah-mudahan berguna sebagai strategi untuk mengendalikan diri dalam berbagai aspek kehidupan. Jurus ini bisa Anda terapkan untuk apa saja, yang berurusan dengan pengendalian diri. Ok, sekarang mari kita bahas masing-masing jurus. Anda bisa menggunakan setiap jurus ini, secara terpisah, berdiri sendiri saat Anda mencoba mengendalikan diri, atau bisa beberapa jurus secara bersamaan.
Jurus pertama adalah mengendalikan diri dengan menggunakan prinsip Firman Tuhan. Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif, cobalah melakukan rambu-rambu yang telah Firman Tuhan tetapkan bagi kita.
Jurus kedua pengendalian diri adalah dengan menggunakan kesadaran. Kita sadar saat suatu bentuk pikiran atau perasaan yang negatif muncul. Pada umumnya orang tidak mampu menangkap pikiran atau perasaan yang muncul. Dengan demikian mereka langsung lumpuh dan dikuasai oleh pikiran dan perasaan mereka. Misalnya, seseorang menghina atau menyinggung kita. Kita marah. Nah, kalau kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi marah ini muncul, dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan ini. Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi marah ini muncul. Kita akan tahu saat emosi ini mulai mencengkeram dan menguasai diri kita. Kita tahu saat kita akan melakukan tindakan ”bodoh” yang seharusnya tidak kita lakukan. Saat kita berhasil mengamati emosi maka kita dapat langsung menghentikan pengaruhnya. Kalau masih belum bisa atau dirasa berat sekali untuk mengendalikan diri, larikan pikiran kita pada prinsip-prinsip firman Tuhan. Biasanya kita akan lebih mampu mengendalikan diri. Bagaimana jika sudah melakukan keduanya, ternyata kita tetap sulit mengendalikan diri?
Lakukan jurus ketiga yaitu dengan perenungan. Saat kita sudah benar-benar tidak tahan, mau ”meledak” karena dikuasai emosi, saat kita mau marah besar, coba lakukan perenungan. Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan, misalnya, berikut ini:
Apa sih untungnya saya marah?
Apakah benar reaksi saya seperti ini?
Mengapa saya marah ya? Apakah alasan saya marah ini sudah benar?
Kalau saya marah dan sampai melakukan tindakan yang ”bodoh”, siapa yang akan rugi ?
Dengan melakukan perenungan kerap kali maka kita akan mampu mengendalikan diri. Prinsip kerjanya sebenarnya sederhana. Saat emosi aktif maka logika kita nggak akan jalan. Demikian pula sebaliknya. Jadi, saat kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam maka kadar kekuatan emosi atau keinginan kita akan menurun.
Jurus keempat pengendalian diri adalah dengan menggunakan kesabaran. Emosi naik, turun, timbul, tenggelam, datang, dan pergi seperti halnya pikiran. Saat emosi bergejolak sadari bahwa ini hanya sementara. Usahakan tidak larut dalam emosi. Gunakan kesabaran, tunggu sampai emosi ini surut, baru berpikir untuk menentukan respon yang bijaksana dan bertanggung jawab. Oh ya, tahukah Anda bahwa kata bertanggung jawab itu dalam bahasa Inggris adalah responsibility, yang bila kita pecah menjadi response-ability atau kemampuan memberikan respon ?
Kalau sudah menggunakan kesabaran masih juga belum bisa, bagaimana? Lakukan jurus kelima yaitu pikiran atau aktivitas yang positif. Pikiran hanya bisa memikirkan satu hal dalam suatu saat. Ibarat layar bioskop, film yang ditampilkan hanya bisa satu film dalam suatu saat. Nah, film yang muncul di layar pikiran inilah yang mempengaruhi emosi dan persepsi kita. Saat kita berhasil memikirkan hanya hal-hal yang positif maka film di layar pikiran kita juga berubah. Dengan demikian pengaruh dari keinginan atau suatu emosi akan mereda. ( zoe )

Refleksi : Hendaklah kita menguasai diri dalam segala hal. Strategi dan cara sudah diberikan hanya tinggal kita mempraktekkan saja. Ingatlah bahwa orang bijaksana adalah orang yang bisa mengendalikan diri dan menghadapi setiap masalah dengan cara yang benar.












MENGUASAI DIRI = MENGUASAI EGO
Minggu, 29 Juni 2008
Markus 10:35-45
Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu

Tahun 2003-2004, Real Madrid dari Spanyol adalah kesebelasan bertabur bintang. Dalam daftar 10 pemain terbaik yang dikeluarkan FIFA (organisasi sepakbola dunia), lima di antaranya adalah pemain Madrid : Zidane, Ronaldo, Figo, Carlos, dan Beckham. Pemain lokal mereka juga tidak kalah hebat, seperti Raul dan Salgado. Kiper mereka, Iker Casilas, adalah kiper terbaik kedua di dunia. Mereka dijuluki Los Galacticos, kesebelasan dari planet lain.
Ironisnya, dalam kurun waktu itu Real Madrid justru mengalami kegagalan total. Tidak satu pun gelar mereka raih. Bahkan, di Liga Spanyol mereka hanya menduduki urutan keempat di bawah Valencia, Barcelona, dan Deportivo La Coruna. Banyak pengamat sepakbola menilai bahwa penyebab utama kegagalan Madrid adalah ego para pemain. Status bintang membuat mereka merasa hebat dan ingin menonjolkan diri. Padahal sepakbola adalah permainan tim.
Pada tahun 2003, Michael Weiskopf, wartawan majalah TIME, berangkat ke Irak. Bersama tentara Amerika Serikat, ia meliput suasana perang dari dalam tank baja. Tak dinyana, sebuah granat dilemparkan ke dalam tank itu dan meledak! Weiskopf pun kehilangan tangan kanannya. Ketika kembali pada keluarganya, ia merenung: “Mengapa aku mau diutus ke medan perang hingga cacat begini?” Akhirnya, ia menemukan jawabnya: egonya. Weiskopf ingin menaikkan pamornya supaya dikenal sebagai jurnalis terhebat. Kini ia menyesal.
Dalam pelayanan, ego juga bisa menjadi batu sandungan dan sumber masalah; keinginan untuk dipuji, untuk menonjol atau tampil, merasa paling hebat, paling berjasa, dapat merugikan bagi semua. Padahal pelayanan kristiani adalah pelayanan kolektif. Kita tak dapat bekerja sendiri, dan selalu membutuhkan orang lain. Paulus mengumpamakan gereja sebagai tubuh dan anggota-anggotanya. Setiap anggota mempunyai fungsi dan tempat yang berbeda. Semuanya berharga; tidak ada yang lebih penting atau kurang penting. Oleh karena itu, faktor utama dalam melayani bersama adalah bagaimana kita menyalibkan ego pribadi dan mewujudkan Kristus dalam hidup kita. ( zoe )

Refleksi : Saat kita melayani, apakah orang lain melihat Kristus melalui kita ?



































TERLANTAR DI TANAH ASING (Kisah Rut)
Senin, 30 Juni 2008
Bible Background

Menghadapi kesulitan dengan mencari solusi yang tepat adalah dambaan setiap orang. Kesulitan yang datang sering dirasakan sangat berat. Begitu pula dengan kepala keluarga bernama Elimelekh (artinya Allahku Raja). Seorang yang cenderung menyelesaikan segala permasalahannya dengan mengikuti cara “dunia” daripada rohani. Dia putuskan untuk menjual segala miliknya dan bermigrasi ke tanah asing yang sedang “booming” dengan perekonomiannya. (Rut 1:1-22)
Namun setelah maksud tercapai, hasil yang diharapkan justru menguap terutama ketika Elimelekh harus berkalang tanah di negeri asing, Moab. Dengan tertatih, keluarga ini coba bertahan bahkan kedua putra dari keluarga ini sempat membangun keluarga. Namun sebelum sempat memiliki keturunan lagi-lagi “”kedua tonggak” keluarga itu berpulang ke alam baka. Jadi keluarga itu habis di tanah asing, berharap perubahan nasib yang baik, tapi justru mendapatkan yang buruk. Tinggallah 3 orang janda dalam keluarga itu, tanpa jaminan masa depan yang pasti. Hingga sang ibu mertua memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya, Betlehem untuk menyambung hidup dari belas kasihan sanak famili karena dia mendengar bahwa situasi telah membaik di tanah airnya.
Keluarga Elimelekh melakukan beberapa kesalahan dalam mengatur masa depannya:
1. Mereka hanya berpikir duniawi tanpa melibatkan Tuhan sama sekali dalam perencanaan masa depan mereka. Sebagai umat Tuhan, mereka tak bersandar pada Tuhan yang mereka sembah.
2. Mereka menjual semua miliknya, padahal jelas dalam Taurat hal itu dilarang (Im.25:23-28).
3. Mereka begitu tergiur pada kemajuan Moab sehingga lupa untuk lebih bersandar pada Tuhan. Bukan prihantin terhadap kondisi bangsa, bahwa kesulitan itu terjadi karena seluruh bangsa berdosa pada Tuhan tapi malahan mencari kesempatan dalam kesempitan untuk mencari perlindungan dan keamanan bagi diri sendiri.
Tidak ada catatan bahwa Tuhan berbicara langsung atau melakukan apapun sehingga dapat dikenali. Meskipun demikian tapi kita melihat bahwa Tuhan bekerja dengan cara “diam-diam”. Allah membiarkan segala impian mereka kandas untuk membawa mereka kembali ke tanah asal mereka. ( zoe )

Penekanan Pengajaran :
Mengajar para siswa untuk melibatkan Tuhan dalam setiap hal yang terjadi dalam hidup mereka. Baik hal yang besar maupun hal yang kecil dan belajar taat sesuai dengan FirmanNya.

Meiiii

LIHAT DIRIMU SENDIRI!
Father’s Heart
Kamis, 1 Mei 2008
1Korintus 11:17-32
Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita

Kantor tenaga kerja di Tucson, Arizona, mengumumkan sesuatu yang menarik yang dipasang dengan menyolok di kaca kantornya. Menunjuk kepada para pencari kerja, pengumuman tersebut bertuliskan, "Bersediakah Anda mengaji orang ini?" Pada kaca kantor yang lain, terdapat tulisan yang menjawab pertanyaan ini, "Apakah Anda benar-benar siap untuk bekerja?"
Evaluasi diri, itulah yang ingin disampaikan oleh Rasul Paulus dalam 1Korintus 11:1-34. Ia mengatakan bahwa orang-orang yang percaya kepada Kristus perlu menguji diri mereka sendiri, untuk menghindarkan hukuman Tuhan karena ketidaklayakan mereka mengambil bagian dalam pelayananNya. "Masalah yang nampak" dalam gereja Korintus ini merupakan masalah yang cukup serius. Orang-orang Kristen di sana "terlihat" mengerikan. Mereka sering mabuk-mabukan dan bertengkar antar mereka sendiri ketika diusulkan suatu perayaan Perjamuan Terakhir Tuhan Yesus bersama dengan murid-muridNya. Karena itu Paulus hendak berkata dengan tegas bahwa, "Lihat dirimu sendiri. Apakah yang salah! Jika kamu tidak hidup lurus, Tuhan akan mengajar kamu". Rasul Paulus menambahkan fakta yang sederhana bahwa Allah telah mulai "membersihkan" gereja. Ini merupakan suatu kebenaran yang bernada keras, namun saat ini setiap gereja perlu mendengarnya.
Peringatan ini juga mengandung suatu pengharapan. Jika kita menguji diri kita sendiri dan menyesali dosa-dosa kita, kita tidak akan dihakimi oleh Allah ( MRD )

Refleksi : Mengevaluasi diri adalah ujian bagi setiap orang Kristen tanpa terkecuali.


































Wanted!
Friday, May 2, 2008
ODB RADIO: Listen Now | Download
Luke 19:29-40
The Lord has need of him
As Jesus approached Jerusalem for the last time, He sent two disciples into the city to bring Him a donkey. He told them, “If anyone asks you, ‘Why are you loosing it?’ thus you shall say to him, ‘Because the Lord has need of it’” (Luke 19:31).
As we approach our sunset years, we may ask ourselves, “Can I still be useful to God? Is there some service I can render that will fill my days with significance? Am I needed?” Of course you are! God needs you just as He needed the donkey to carry Him through the streets of Jerusalem. He has always needed something or someone to get His work done. He still has useful work for you to do.
Perhaps your work will be one brief task, like the donkey’s single act of service. Or it may be some activity that will fully occupy your years until your Master calls you home. It may be an opportunity to share your faith with someone, to intercede for him, or to love him through quiet acts of mercy, friendly visits, or to extend some small courtesy. There will always be something for you to do.
In the meantime, you and I must stand and wait, preparing ourselves through prayer, Bible reading, and quiet listening—ready for the moment that our Lord has need of us. Will you be ready when He needs you? — David H. Roper
I’m available for God to use me,
Available, if God should choose me;
Should it be now or then, it doesn’t matter when;
I want to see lost souls be born again. —Anthony































LEMAH LEMBUT BUKAN BERARTI LEMAH
Sabtu, 3 Mei 2008
Matius 5:5
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi

Lemah lembut dalam Bahasa Indonesia artinya baik hati, suka menurut. Dalam bahasa Yunani kata yang diterjemahkan dengan lemah lembut adalah praus (dari kata praus dikenal pula kata praotes yang artinya kurang lebih sama). Kata itu sebenarnya memiliki makna lebih luas dibanding arti lemah lembut dalam bahasa Indonesia. Ada 3 pengertian:
(1) Praus biasanya dikenakan pada binatang (khususnya kuda) yang sudah jinak; tidak lagi mengikuti kemauannya sendiri tetapi sudah dapat menerima pengarahan dan kendali dari tuannya.
(2) Kata praotes biasanya dipakai untuk menyebut sikap yang berada di tengah-tengah orgilotes (gampang dan suka marah) dan aorgesia (sama sekali tidak bisa marah). Jadi praotes sama dengan orang yang sabar (tidak suka marah, atau mengumbar amarahnya), tetapi dalam hal dan waktu tertentu dia bisa juga marah; tidak tinggal diam saja.
(3) Kata praotes adalah lawan dari kata hupselokardia (tinggi hati), jadi bisa diartikan rendah hati; tidak sombong dengan kelebihannya, tetapi juga tidak minder dengan kekurangannya.
Dengan demikian seseorang dikatakan lemah lembut bila : (1) Ia punya kehendak tetapi kehendaknya itu ia tundukkan di bawah kehendak Tuhan. Ada ajaran dari aliran keagamaan tertentu yang memandang kehendak sebagai sumber penderitaan, karenanya harus dimatikan. Berangkat dari arti praotes kehendak itu tidak dimatikan (dan memang sebetulnya tidak bisa kita mematikan kehendak), tetapi dikendalikan. Sehingga kita tidak diperbudak oleh kehendak). (2) Ia bisa marah, tapi tidak lekas marah; bisa menguasai kemarahannya. (3) Ia akan menghadapi orang-orang yang lebih tinggi tanpa rendah diri dan orang-orang yang lebih rendah tanpa menjadi tinggi hati. ( zoe )

Refleksi : Marilah kita menjadi orang yang memiliki hati yang lemah lembut tapi kita tidak lemah lho!





























MEMPENGARUHI DUNIA DENGAN KELEMAHLEMBUTAN
Minggu, 4 Mei 2008
Matius 5:5
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi

Bukankah menakjubkan ayat ini? "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Matius 5:5) Kekuatan apa yang dimiliki seseorang yang lemah lembut hingga mampu memiliki bumi ? Jika Anda perhatikan kondisi bumi atau dunia saat ini, apa yang Anda temui ? Seribu permasalahan mulai dari perubahan suhu hingga perubahan karakter manusia. Hampir semua orang menjadi cepat naik darah alias pemarah, egois, tinggi hati, dsb. Namun Kristus benar-benar ingin mengubah keadaan bumi dan seisinya melalui beberapa orang pilihan-Nya. Salah satu karakter yang dibutuhkan tentu saja dengan memiliki hati yang penuh kelemahlembutan. Apa saja cirinya?
Pertama, orang yang lemah lembut menantikan Tuhan. Menantikan Tuhan artinya memperbolehkan Allah bertindak bagi pihak Anda. Anda tidak akan protes dengan cara-cara yang Tuhan lakukan dalam memproses hidup Anda, sekalipun cara yang dipilih terkesan membingungkan dan menakutkan bagi kedagingan anda.
Kedua, orang yang lemah lembut percaya kepada Allah. Hal ini berkaitan dengan iman yang Anda miliki. Tanpa iman, Anda tidak akan pernah memiliki kesabaran; Anda tidak akan pernah memiliki kemauan untuk membiarkan Allah untuk bertindak bagi pihak Anda. Ketiga, Anda tidak dapat menjadi orang benar tanpa menjadi orang yang lemah lembut. Orang yang lemah lembut adalah orang benar, dan orang benar adalah orang yang lemah lembut. Anda harus mampu mempengaruhi dunia untuk berbuat benar. (HL-CPO)

Refleksi : Kita sebagai anak-anak Allah haruslah mempengaruhi dunia dengan integritas, teladan selayaknya Kristus.





































YAKUB
Senin, 5 Mei 2008
Bible Background

Nama Yakub biasa disebut bersama-sama dengan ayahnya dan kakeknya. Ketika Allah menyatakan diri-Nya kepada Musa dalam semak belukar yang terbakar, Allah mengatakan: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun." (Keluaran 3:15) Namun demikian, dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Yakub adalah tokoh yang kontroversial. Namanya sendiri, Yakub dalam bahasa Ibrani berarti penipu. Tidak mengherankan apabila tingkah-lakunya penuh dengan muslihat. Kitab Kejadian melukiskan bahwa bahkan sejak di dalam kandungan ibunya, Yakub telah berseteru dengan Esau, kembarnya yang sulung (Kejadian 25:22-26).
Setelah semakin besar, Yakub dan Esau memperlihatkan pribadi yang bertolak belakang pula. Yakub lebih suka tinggal di kemah bersama orangtuanya, sementara Esau lebih suka berburu. Yakub menjadi anak kesayangan ibunya, Ribka, sementara Esau disayangi ayahnya, Ishak. Pada suatu hari, ketika Esau pulang berburu dan merasa sangat lelah dan lapar, ia mencium bau masakan yang sangat lezat yang dimasak oleh Yakub (Kejadian 25:29-34). Ia ingin mencicipi sedikit saja masakan itu, namun Yakub menolaknya. "Juallah dulu kepadaku hak kesulungan-mu," kata Yakub. Tanpa berpikir panjang, Esau menyetujuinya, bahkan dengan sumpah. Kitab Kejadian tidak serta-merta mempersalahkan Yakub dalam hal ini, melainkan juga Esau karena ia telah "memandang ringan hak kesulungan itu." Ketika Ishak semakin lanjut usianya, Yakub yang merasa belum yakin akan hak kesulungan yang telah dicurinya itu, kembali berulah dengan pertolongan ibunya. Ia mencuri berkat kesulungan Ishak dengan menyamar sebagai Esau (Kejadian 27). Akibatnya, Esau murka dan berniat membunuh Yakub. Karena itu Yakub melarikan diri ke rumah pamannya, Laban.
Di rumah Laban kini giliran Yakub yang ditipu (Kejadian 29:1-30). Yakub jatuh cinta kepada anak perempuan Laban, Rahel. Untuk mendapatkan Rahel, Laban menyuruh Yakub bekerja selama tujuh tahun. Namun setelah masa tujuh tahun itu lewat, Laban, dengan tipu muslihatnya, justru memberikan Lea, kakak Rahel, untuk dinikahi Yakub. Karena lebih cinta kepada Rahel, Yakub setuju untuk bekerja tujuh tahun lagi. Setelah mendapatkan keturunan dari Lea dan Rahel, Yakub berniat kembali ke kampung halamannya. Sebelum itu, Laban berjanji membayar Yakub untuk pekerjaannya. Yakub "hanya" meminta kambing-domba yang hitam, berbintik-bintik, dan belang-belang sebagai upahnya (Kejadian 30:25-43). Sementara Laban bebas mengambil semua kambing-domba yang putih. Pengalamannya sebagai penggembala telah mengajar Yakub tentang hukum keturunan (yang kelak dikenal sebagai hukum Mendel). Dengan demikian Yakub mendapatkan ternak yang bagus-bagus, sementara Laban mendapatkan yang kurang bagus.
Kembali ke kampung halamannya melahirkan rasa gundah dalam diri Yakub karena ia yakin bahwa Esau masih tetap ingin membunuhnya. Dalam kegelisahannya, pada suatu malam Yakub bertemu dan bergelut dengan orang asing hingga fajar tiba (Kejadian 32:22-33). Yakub tidak melepaskan orang itu sebelum ia memberkatinya. Ternyata orang yang bergelut dengan Yakub itu adalah Allah sendiri. Allah kemudian mengganti nama Yakub menjadi Israel yang artinya "yang bergumul melawan Allah dan manusia", dan memberkatinya. Ketika bertemu dengan Esau, Yakub merendahkan dirinya dan menunjukkan penyesalannya kepada Esau, serta memberikan banyak persembahan untuknya. Hati Esau melunak, dan ia berdamai dengan adik kembarnya (Kejadian 33:1-20)
Dari Lea Yakub mendapatkan Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, dan Zebulon. Dari Rahel ia mendapatkan Yusuf dan Benyamin. Dari Bilha, budak perempuan Rahel, ia mendapatkan Dan dan Naftali, dan dari Zilpa, budak perempuan Lea, ia mendapatkan Gad dan Asyer. Yakub meninggal di Mesir karena ia dan anak-anaknya pindah ke sana untuk bergabung dengan Yusuf yang menjadi raja muda di negeri itu, ketika Kanaan mengalami bencana kelaparan. Namun ia dikuburkan bersama nenek moyangnya di gua, di ladang Makhpela, di tanah Kanaan (Kejadian 49:30). ( zoe )





IGNATIUS LOYOLA
Selasa, 6 Mei 2008
Matius 11:28-30
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan

Pendiri Serikat Yesus yang terkenal ini dilahirkan pada tahun 1491. Ia berasal dari keluarga bangsawan Spanyol. Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang laskar yang hebat dan menikah dengan seorang puteri yang cantik. Di kemudian hari, ia sungguh mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran di Pamplona. Tetapi, luka karena peluru meriam di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?" Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya sekarang.
Ignatius harus menderita banyak pencobaan dan penghinaan. Sebelum ia memulai karyanya yang hebat dengan membentuk Serikat Yesus, ia harus bersekolah. Ia belajar tata bahasa Latin. Sebagian besar murid dalam kelasnya adalah anak-anak, sementara Ignatius sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun begitu, Ignatius pergi juga mengikuti pelajaran karena ia tahu bahwa ia memerlukan pengetahuan ini untuk membantunya kelak dalam pewartaannya. Dengan sabar dan tawa, ia menerima ejekan dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya. Selama waktu itu, ia mulai mengajar dan mendorong orang lain untuk berdoa. Karena kegiatannya itu, ia dicurigai sebagai penyebar bidaah (=agama sesat) dan dipenjarakan untuk sementara waktu! Hal itu tidak menghentikan Ignatius. "Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus," katanya.
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan" (Mat 11:28-30). Kutipan dari Injil Matius di atas ini kiranya menjiwai Ignatius Loyola dan juga Fransiskus Xaverius, sahabat Ignatius Loyola dalam melaksanakan tugas misionernya ke seluruh dunia, termasuk mengunjungi Indonesia. Dalam menghayati panggilan dan melaksanakan tugas perutusan, Ignatius Loyola begitu mengandalkan dan mempersembahkan diri kepada rahmat Tuhan, bukan pada harta benda duniawi. Bagi Ignatius Loyola orang yang sedang menderita memang sering merasa lelah dan berbeban berat; kepada mereka ini diundang untuk datang dan belajar dari Yesus yang 'lemah lembut dan rendah hati'. Orang yang lemah lembut dan rendah hati ketika harus menghadapi penderitaan atau tugas berat tidak akan mengeluh atau menggerutu, karena ia dapat menguasai diri. Maka penguasaan diri penting sekali agar kita dapat lemah lembut dan rendah hati. ( zoe )

Refleksi : Karunia kelemahlembutan yang telah kita terima haruslah menjadi inspirasi untuk melakukan tugas pelayanan yang ada meskipun kita seringkali mengalami penderitaan dan tantangan.











METODE TUHAN YESUS
( Refleksi seorang guru )
Rabu, 7 Mei 2008
Matius 11:28-30
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Bagaimana seharusnya kita sebagai guru secara umum menanamkan disiplin dalam diri anak-anak. Kapan kita dapat menggunakan "tongkat" yang berfungsi sebagai "command" dengan ketegasan kapan kita harus menggunakan kata-kata yang lemah lembut. Bagaimana mendidik dan mendisiplinkan anak dengan cara Alkitab? Dalam Matius 11:28-30 Tuhan Yesus memberi pengajaran yang luar biasa, sebuah pengajaran yang sangat sejuk, tanpa paksaan dan kekerasan : "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
Cara Yesus mengajar ini sangat sederhana. Pertama : datang kepadaKu, kedua : Aku memasang kuk (beban), yang ketiga : belajarlah kepadaKu. Metode ini dapat pula menjadi cara kita dalam mendidik anak-anak. Pertama : sebagai guru kita harus menjadi pribadi yang akrap kepada anak-anak, sehingga anak-anak tidak canggung, tidak sungkan, tidak takut untuk datang kepada kita sebagai sandaran yang memberikan mereka keamanan dan kelegaan. Yang kedua : kita harus menanamkan tanggung-jawab kepada anak sejak awal akan tugas-tugas (beban/kuk) mereka sebagai umat Allah, bahwa beban yang mereka pikul bukanlah beban yang memberatkan, tetapi suatu tugas yang mulia. Dan yang ketiga : Belajarlah kepadaku, yang berarti kita harus menjadi panutan bagi anak-anak. Bahwa orangtua harus menjadi pribadi yang patut dicontoh seperti Tuhan Yesus yang lemah-lembut dan rendah-hati. Ketika kita berhasil menjadi tokoh panutan bagi anak-anaknya, hal ini akan memudahkan mengarahkan anak-anak menjadi pribadi yang diharapkannya.
Ghandi adalah seorang tokoh besar dalam sejarah, dengan terang-terangan mengaku bahwa perjuangan yang dia lakukan terinspirasi oleh pengajaran cinta-kasih sebagai sari pengajaran Yesus dalam Khotbah diatas Bukit. Maka Gandhi melakukan perjuangannya yang kita kenal gerakan ahimsa dan swadesi, sebuah gerakan anti kekerasan yang terilhami oleh tokoh yang dia kagumi yaitu Yesus Kristus. Meski Gandhi menolak disebut "beragama Kristen" tetapi dia tidak menolak disebut sebagai "seorang Kristen" karena dia adalah seorang penganut ajaran Yesus Kristus. Metode Yesus telah dicontoh oleh Gandhi, kemudian Gandhi menjadi guru dan teladan bagi rakyat India untuk berjuang dalam kemerdekaan India dengan tanpa kekerasan, kesuksesannya sudah terbukti. Maka, kitapun bisa memandang hal tersebut sebagai sebuah inspirasi yang memotivasi kita menjadi teladan yang patut dicontoh anak-anak kita. Bahwa kita selalu memegang sebuah amanat, masa depan anak-anak kita tergantung dari bekal pendidikan dan pembentukan karakter yang kita bina sejak awal. ( zoe )

Refleksi : Selamat mengajar dan menjadi teladan!


















SIAPA BUTUH PENGAMPUNAN?
Father’s Heart
Kamis, 8 Mei 2008
Roma 3:9-24
Tidak ada yang benar, seorang pun tidak ... tidak seorang pun yang mencari Allah

Katedral Coventry yang bersejarah di Inggris hancur ketika pesawat Nazi melancarkan serangan kilat pada saat meletusnya Perang Dunia II. Di tengah-tengah reruntuhan itu, penguasa memasang suatu tanda silang besar yang terbuat dari dua balok kayu. Pada tanda silang itu terukir kata-kata, "Bapa, ampunilah." Bukan seperti ketiga kata Yesus yang telah kita kenal, "Bapa, ampunilah mereka" Lukas 23:34. Tidak, hanya "Bapa, ampunilah."
Sesungguhnya kata "mereka" yang dihilangkan itu menyadarkan kita bahwa bukan hanya Nazi, penyebab kehancuran yang mengerikan itu, yang membutuhkan pengampunan -- tetapi kita semua. Dari sudut pandang kita, beberapa perbuatan kita yang salah mungkin kita pandang sebagai suatu kesalahan yang remeh -- dengan berdalih bahwa itu merupakan "kebohongan kecil yang benar" -- sedangkan dosa yang lain tampak sebagai suatu dosa yang sangat besar yang menimbulkan kebencian yang mendalam -- seperti bencana mengerikan yang diperbuat oleh Hitler atau kekejaman Stalin.
Hanya Allah yang dapat menentukan apakah dosa yang satu lebih besar daripada dosa yang lain. Namun satu hal telah jelas: "Semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" Roma 3:23. Standar Allah tentang ketaatan yang sempurna dinyatakan dalam diri Yesus Kristus. Kita semua, baik yang menjadi korban maupun pelaku kesalahan itu sendiri, berada dalam keadaan tak berdaya dan membutuhkan pengampunanNya (Lukas 23:10).
Berita kemenangan dari Injil adalah bahwa Allah telah menyediakan keselamatan bagi setiap orang yang mau menerima AnakNya, Yesus Kristus ( Roma 6:23; 8:1; 10:9-13 ) (VCG ).

Refleksi : Betapa pun besar atau kecilnya dosa-dosa kita semuanya dapat diampuni oleh Yesus.






























What Changed ?
Friday, May 9, 2008
ODB RADIO: Listen Now | Download
Matthew 21:1-11
Behold, your King is coming to you
Jesus put a damper on His own party. On Sunday, He entered Jerusalem as the triumphant king, welcomed into the city by throngs of worshipers shouting, “Hosanna!” and honoring Him by waving palm branches. The healer of the sick and the giver of great wisdom had come, and the masses adored Him.
What went wrong that week? What changed the “Hosannas” to “Crucify Him”? It started to go bad when Jesus told the people what they didn’t want to hear. Look at what He did. He threw the money changers out of the temple area (Matt. 21:12). He taught that tax collectors and prostitutes could enter the kingdom of heaven before the religious (21:31). He told the people to pay taxes (22:21). Then He pronounced a series of woes against the religious leaders: “Woe to you, scribes and Pharisees” (23:13-31).
But this is Jesus. The righteous One. The only perfect Man. God in the flesh. He was not in town for a popularity contest. His task was to proclaim the truth and provide salvation. And it cost Him His life.
Think about Jesus’ up-and-down week in Jerusalem. Then praise Him for His perfection and His love—love that took Him all the way to the cross. — Dave Branon
Jesus, Thou art my righteousness,
For all my sins were Thine;
Thy death hath bought of God my peace,
Thy life hath made Him mine. —Anon.



































SECANGKIR KELEMBUTAN
Sabtu, 10 Mei 2008
Kolose 3:12
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

Saya memainkan pedal gas, dan memutar kunci kontak lagi. Sekali lagi mesin tidak mau hidup. Yang ketiga kali, saya menenangkan diri dan mulai berharap. Kemudian kunci kontak saya putar lagi. Mesin perlahan mulai menyala, dan saya menginjak pedal gas kuat-kuat – cukup untuk membuat mesin tua meraung-raung, tapi tidak sampai hancur. Akhir-akhir ini mobil saya menjadi semakin susah untuk dihidupkan. Suami saya Roger, yang telah bersama saya selama dua puluh lima tahun, sedang berjuang di tempat tidur rumah sakit yang dingin. Saya ingin bisa selalu berada disampingnya untuk menghibur dan memberinya semangat karena rasa sakit yang hebat akibat penyakit Leukimia. Tetapi penyakitnya tidak membuat dunia saya lenyap. Saya masih punya anak usia SMU yang harus diberi makan di rumah. Tagihan listrik yang harus dibayar, cicilan rumah dan gas yang harus diisi ditangkinya - sementara setiap hari saya sendiri harus bolak-balik menempuh perjalanan ratusan kilometer jauhnya dari rumah ke rumah sakit. Saat ini saya membutuhkan secangkir kelembutan hati untuk menyegarkan jiwa saya.
Saya melihat teman kerja saya, Darlene. Dengan kulit coklatnya, dia menatap saya dengan dengan lembut dan ada kasih di dalamnya. Dia melihat sebentar ke sekelilingnya, kemudian menarik tangan saya dan meletakkan sejumlah uang di dalamnya. Saya memandangnya dengan keheranan. Saat mencoba membuka mulut, tetapi dia menahannya. “Jangan ceritakan ke siapa pun tentang uang ini.” Katanya. “Pergilah, dan perbaiki mobilmu. Jika masih kurang tolong beri tahu saya.” Dia berbalik dan pergi.
Keheranan saya berubah menjadi kekaguman. Saya hanya tahu sedikit mengenai Darlene. Seperti yang terjadi di generasi seusia saya, beberapa teman yang saya punya semuanya adalah orang kulit putih. Darlene dan saya berasal dari dunia yang berbeda. Saya tumbuh di daerah pegunungan bersalju Appalachia dimana orang Amerika dari Afrika tidak ada. Kami berada dalam lingkungan yang penuh prasangka dan kebencian. SMU saya masih mempunyai maskot yang bernama “Pemberontak” dan diarak dibawah bendera Konfederasi (Konfederasi adalah pendukung perbudakan). Walaupun saya tidak memiliki sifat yang berprasangka dan rasis, saya selalu waspada dan membatasi pergaulan hanya dengan orang kulit putih saja. Kulit Darlene yang coklat sangat berbeda dengan kulit pucat saya; begitu juga dengan cara bicara dengan aksen Selatan saya. Akan tetapi, diluar itu semua, tampaknya saya tidak hanya membutuhkan dukungan finansial, tetapi lebih dari itu saya membutuhkan sebuah sentuhan kasih – dimana Darlene sudah melangkah melintasi batas-batas yang tak terlihat, dan dia menjadi sahabat baik saya.
Persahabatan kami tumbuh dengan kuat; dan saya mengakui bahwa Darlene adalah seorang wanita yang sangat kuat. Dukungannya sangat kokoh, terutama saat Roger meninggal. Dia menawarkan secangkir kasih dalam kelembutan saat saya jatuh, dimana dia selalu ada untuk berbagi tawa dan air mata. Saat keadaan saya mulai stabil, Darlene tidak pernah menawarkan bantuan uang lagi. Dia bahkan tidak pernah pernah meminta saya untuk mengembalikannya. Darelene adalah guru saya; mengajari tentang kasih yang tulus. Darlene telah melangkah melewati jurang prasangka rasial dan ketidakpahaman; yang berikutnya menjarkan bahwa saya juga punya tanggung jawab terhadap umat manusia untuk menyediakan secangkir kelemahlembutan dan kasih kepada yang membutuhkannya. Dan oleh karena Darlene; cangkir kelemahlembutan dan kasih saya mulai beredar ke orang lain. ( Brenda Caperton )

Refleksi : Seringkali kita lupa untuk memberikan secangkir kelembutan hati kita kepada orang yang berada disekitar kita, hati yang lemah lembutlah yang selalu tergerak memperhatikan dan menawarkan kasih kepada sesama.







KEKUATAN DARI KARUNIA
Minggu, 11 Mei 2008
Galatia 5:22-23
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

Ada kekuatan di dalam cinta,
Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan keinginannya
Untuk mementingkan diri sendiri.

Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan,
Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.

Ada kekuatan di dalam kedamaian diri
Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah tergoyahkan
Dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan di dalam kesabaran,
Orang yang sabar adalah orang yang kuat
Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu
Dan ia tidak pernah merasa disakiti.
Ada kekuatan di dalam kemurahan,
Orang yang murah hati adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya
Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan di dalam kebaikan,
Orang yang baik adalah orang yang kuat
Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang.

Ada kekuatan di dalam kesetiaan,
Orang yang setia adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi
Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.

Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan,
Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat
Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.

Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,
Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.
Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki
cukup Kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini?
Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga.
Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan
melebihi kekuatan kita. ( zoe )

Refleksi : Apa makna puisi ini bagi dirimu sendiri ?









YUSUF
Senin, 12 Mei 2008
Bible Background

Yusuf adalah putra ke-11 dari Yakub, atau anak pertamanya dari Rahel, dan anak yang paling dikasihi oleh Yakub. Tarikh yang paling mungkin untuk Yusuf adalah zaman para Firaun Hyksos. Para Firaun ini adalah penguasa bangsa Sem yang masuk ke dan menguasai Mesir dari tanah Kanaan. Tapi mereka dengan cermat mengikuti adat istiadat orang Mesir. Mula-mula mereka mengambil alih pemerintahan Mesir yang birokratis, lalu secara bertahap menempatkan orang-orang Sem yang sudah menjadi warga negara Mesir untuk menduduki jabatan-jabatan yang tinggi di pemerintahan. Alkitab menuturkan bahwa karena iri hati saudara-saudara Yusuf sendiri yang menjual ia ke para pedagang Midian yang kemudian menjualnya lagi ke Potifar.
Yusuf hanyalah seorang dari sekian banyak pemuda orang Sem yang menjadi pelayan-pelayan di keluarga-keluarga Mesir. Karena ia bekerja dengan baik sehingga mendapatkan kepercayaan dari Potifar atas seluruh rumahnya. Tetapi, lagi-lagi ia mendapat masalah dengan istri Potifar sampai ia kemudian dimasukkan ke dalam penjara. Penjara Mesir mempunyai tiga peranan : 1. Sebagai rumah tanahan setempat seperti penjara modern. 2. Sebagai pemasok tenaga kerja paksa untuk kepentingan negara. 3. Sebagai tempat tahanan sementara yang menunggu peradilan.
Karena pertemuannya dengan juru minuman dan juru roti raja, maka terbukalah kesempatannya untuk bertemu dengan Firaun. Juru minuman raja merekomendasikan Yusuf sebagai seorang Ibrani yang mempunyai karunia untuk menafsirkan mimpi. Setelah ia menterjemahkan mimpi Firaun maka oleh Firaun ia diangkat menduduki jabatan tertinggi pemerintahan Mesir sesuai dengan tradisi Mesir maka ia dikenakan pakaian lenan halus, kalung emas serta cincin materai raja.
Kebijakan ekonomi Yusuf yang diceritakan dalam Kejadian 47:16-19 menyingkapkan Mesir yang sebenarnya sesuai dengan teori, yakni negeri itu menjadi milik Firaun dan penduduknya menjadi penyewa. Ia kemudian mengundang sanak saudaranya supaya tinggal di Mesir. Ketika seluruh keluarganya pindah ke Mesir maka meninggallah Yakub pada usia yang ke-130 tahun. Pada Kejadian 50 dikisahkan tentang kematian Yusuf, bagaimana mayatnya dirempah-remah dan ditaruh dalam peti mati di Mesir. Peti mati pada zaman itu berbentuk antropoid – menyerupai manusia, dari kayu, dihiasi gambar wajah pada bagian ujung kepala. Yusuf meninggal pada usia 110 tahun. Ini punya makna, karena umur 110 tahun adalah yang paling ideal bagi orang Mesir, dan mereka menganggapnya sebagai berkat Ilahi.
Suku Efraim dan Manasye adalah keturuna dari kedua anak Yusuf, kadang-kadang disebut suku Yusuf. Yusuf memang diberkati oleh Tuhan sepanjang hidupnya sampai-sampai keturunannya mendapatkan berkat langsung dari Yakub. ( zoe )





















LEMAH LEMBUT
Selasa, 13 Mei 2008
Efesus 4:2
Hendaklah kamu selalu lemah lembut...

Satu kata dalam kamus bahasa Inggris, yang berasal dari kebudayaan Asia Tenggara adalah kata “amok.” Asal kata ‘amok” ini kemungkinan besar dari bangsa Indonesia. Sebab itu ada yang melontarkan pernyataan, bukankah ini “mencerminkan salah satu ciri khas bangsa Indonesia sendiri?” Inilah konteks di mana gereja di Indonesia berada.
Dalam sejarah bangsa Indonesia memang banyak hal “amuk” yang terjadi. Perang antar kerajaan banyak tercatat dalam sejarah. Begitu pula dengan amuk massa yang terjadi semasa kaum kolonial menguasai dan memerintah negeri ini. Namun setelah masa Reformasi 1998, kebiasaan “amok” ini semakin menjadi-jadi. Tawuran antar suporter pertandingan sepak bola lazim terjadi, bahkan antar pemain sepak bola pun tak terelakkan. Di dunia politik, kebiasaan “amuk” juga terjadi di banyak daerah selama pilkada. Bukan hanya kendaraan, gedung, peralatan kantor, dan barang lain yang hancur, tetapi juga terjadi perpecahan antar elit dan kelompok politik, sehingga mereka saling bermusuhan secara destruktif.
Nas ini mengajarkan kita bahwa sebagai Tubuh Kristus, setiap warga gereja haruslah memelihara kesatuan dengan sikap lemah lembut. Ini tidak berarti sekadar sikap lahiriah yang pemalu, pendiam, lembek, halus, atau tidak menunjukkan gairah; melainkan sikap dijinakkan seperti seekor kuda liar yang telah dapat dikendalikan. Jadi, kuasa, kekuatan, semangat, dan keperkasaannya tetap ada, namun terkendali dalam hidup kita. Yesus adalah teladan kelemahlembutan utama bagi kita, “...karena Aku lemah lembut...” (Mat. 11:29).
Saat menghadapi problema hidup, apakah kita lebih mengandalkan otot dan kekuatan diri, atau mengandalkan Tuhan dan hikmat-Nya? Persekutuan orang beriman yang penuh kelembutan akan menjadi kesaksian jitu di tengah bangsa kita. ( zoe )

Refleksi : Kita memiliki hidup lemah lembut seperti Tuhan kita, kita juga mau dibentuk lebih indah dalam kelemahlembutan sehingga kita tidak langsung berbicara atau pun berbuat sesuatu yang tidak dapat menjadi berkat bagi orang lain.





























MARAH ITU MAHAL
Rabu, 14 Mei 2008
Amsal 14:17, 29
Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.

Baru-baru ini, dalam pertandingan bola basket NBA Amerika antara group Indiana Pacers dengan Detroit Pistons terjadi insiden tawuran beberapa pemain Indiana Pacers dengan pendukung Detroit Pistons di The Palace of Auburn Hills. Akibat perkelahian ini, komisi disiplin NBA menjatuhkan skorsing tidak boleh bermain selama semusim untuk Artest, 30 laga untuk Jackson, dan 25 laga untuk O'Neal. Selain itu, Artest juga kehilangan gaji sebanyak 5 juta dollar Amerika.
Perkelahian yang melibatkan beberapa pemain pilar Indiana Pacers dengan fans Detroit Pistons itu berawal dari pelemparan sebuah gelas bir kepada Ros Artest, pemain forward Pacers. Lalu meletuslah adegan perkelahian yang disebut paling brutal dalam sejarah di NBA. Terlepas dari siapa benar atau salah dalam insiden ini, satu hal yang dapat kita pelajari adalah bahwa kemarahan itu mahal harganya. Oleh sebab itu, Salomo berkata, “Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar” (Ams. 14:17).
Mengapa orang marah? Penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah kurangnya pengertian. Salomo mengatakan, “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan” (Ams. 14:29). Maksud “pengertian” di sini adalah suatu kemampuan untuk memahami sebab-sebab mengapa orang lain mengucapkan hal yang tak menyenangkan atau melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Ketika suatu ucapan atau perbuatan yang merugikan menimpa seorang yang besar pengertiannya, dia tidak akan segera membalas, tapi dia mencoba memahami orang itu dan meredam emosinya, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kiranya Tuhan memperbesar pengertian kita sehingga kita menjadi orang yang sabar. Mari kita melatih diri untuk bersabar, karena ada banyak hal-hal positif yang akan muncul jika kita memilih untuk bersikap sabar. Karena kesabaran adalah salah satu bukti bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan memiliki hati yang lembut. Setiap orang yang memiliki hati yang lemah lembut akan dapat mengendalikan dirinya untuk tidak terbawa emosi, apalagi sampai marah dan membalas dendam kepada orang lain. ( zoe )

Refleksi : Mari berdoa bagi proses pembentukan Tuhan atas karakter-karakter diri kita yang tidak sesuai firman Tuhan, agar dalam proses itu kita dapat taat dan disiplin mengubah diri menjadi semakin serupa dengan-Nya.
























UJI PANTULAN
Father’s Heart
Kamis, 15 Mei 2008
Lukas 22:31-34
Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur

Sebuah _cranberry_ (salah satu jenis buah berry) yang baik dinilai dari daya pantulnya. Sementara buah-buah yang lain ditentukan kualitasnya berdasarkan kemasakan dan warnanya, buah cranberry yang baik justru dikenal berdasarkan kemampuannya dalam "memantul seperti bola golf."
Majalah _Science Digest_ memberitakan bahwa buah berry yang baru dipetik, diproses melalui serangkaian papan penguji. Pada setiap papan, hanya buah berry yang dapat memantul lebih dari 20-25 cm yang dinyatakan lulus uji kualitas ini.
Orang Kristen juga menghadapi "uji pantulan." Keteguhan iman mereka dapat diukur berdasarkan kemampuan mereka untuk memantul kembali setelah mengalami kejatuhan. Meskipun menyakitkan, kegagalan menawarkan kesempatan kepada kita untuk meyakinkan kembali kesetiaan kita kepada Kristus.
Yesus tahu bahwa Rasul Petrus tersandung karena kepercayaan dirinya yang berlebihan dan penyangkalannya pada Yesus. Namun Allah melihat bahwa di luar kejatuhan yang meremukkan ini ada penyesalan dan pemulihan kembali. Ketika Dia meyakinkan Petrus bahwa Dia telah berdoa untuknya agar imannya jangan gugur, Dia juga berkata, dalam bahasa lain, "Petrus, engkau akan memantul kembali setelah engkau jatuh."
Jika Anda mengalami kemerosotan iman, janganlah menyerah. Kristus mampu memulihkan Anda kembali. Anda dapat bangkit lagi bagiNya, bahkan sesudah kejatuhan terbesar sekalipun. "Pantulan" iman Anda dan pengampunan dari Allah akan memampukan Anda untuk terus maju ( MRD )

Refleksi : Allah mengizinkan kita jatuh supaya kita belajar untuk menjadi lebih baik lagi.

































Inside Out
Friday, May 16, 2008
Mark 7:9-23
Out of the heart of men proceed evil thoughts, adulteries, fornications, murders, thefts, covetousness, wickedness, deceit, . . . blasphemy, pride, foolishness
Shopping for a melon is a tough assignment. No matter how good it looks, it’s hard to tell! So I tap it, thump it, and, if no one is looking, squeeze it—and then take it home, only to discover that it’s bad on the inside.
When the Pharisees were irritated that Jesus’ disciples did not wash their hands before eating—a violation of one of their traditions—Jesus immediately challenged them. “All too well you reject the commandment of God, that you may keep your tradition” (Mark 7:9). He even called them “hypocrites” and explained that what comes from the inside of a person is what “defiles” him, not the other way around.
If we’re not careful, we can become absorbed with looking good on the outside and forget what really counts. In fact, when we get to the place where we are keeping all the “right” rules, we may become proud of ourselves and judgmental toward others. But harboring bitterness, clinging to critical attitudes, and thinking too highly of ourselves are the kind of defiling stuff that make us guilty of Jesus’ charge of “hypocrite.”
So don’t miss the point. Remember, it’s the things on the inside—your heart, your thoughts, your attitudes—that really matter. — Joe Stowell



































KELEMAHLEMBUTAN DALAM UJIAN BERAT
Sabtu, 17 Mei 2008
Matius 5:5
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi

Sampai seberapa jauh kita harus bertahan dalam penderitaan? Bisakah kita merasa yakin bahwa apa yang kita derita adalah demi kebaikan kita? Sebuah keluarga India yang telah bertobat, kemudian membesarkan anak-anak mereka dalam iman Kristen, menghadapi satu krisis. Bagaimana mereka memahami Tuhan mereka melalui ujian yang mereka alami?
Anak perempuan mereka menikah dengan seorang Hindu dan telah meninggalkan iman Kristennya. Sekarang dia mengikuti kepercayaan suaminya menurut kebiasaan kebiasaannya. Beberapa waktu kemudian, dia melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan; tetapi, pada saat pulang dari rumah sakit mereka mendapati bahwa si bayi itu memiliki warna biru yang tidak biasa. Ketika beberapa pemeriksaan menunjukkan bahwa sambungan arteri ke jantungnya memiliki cacat yang serius, satu tim ahli bedah melakukan operasi terhadapnya. Banyak doa dilayangkan oleh keluarga-keluarga Kristen, dan seluruh keluarga dengan cemas menantikan untuk melihat apakah operasi itu berhasil.
Sementara kakek dan neneknya mengunjungi cucu mereka di rumah sakit, mereka menerima kabar bahwa anak laki-laki mereka -- yang baru tahun sebelumnya menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan dibaptis telah tewas dalam satu kecelakaan mobil. Tersentak oleh kabar itu, sang ayah jatuh pingsan. Pada siang yang sama, cucu mereka dikalahkan dalam perjuangannya untuk hidup. Keluarga ini ditinggalkan dengan banyak pertanyaan. Apakah Tuhan tidak merasa senang ketika putra mereka telah memilih cara hidup yang lebih baik? Apakah Tuhan tidak ingin membuktikan kepada satu keluarga Hindu apa yang bisa dilakukan oleh iman kepada Allah yang hidup?
Di antara banyak pertanyaan yang menghadapi keluarga ini, satu yang mungkin paling menonjol adalah: Bagaimana kami menerima hal ini? Ini lebih dari sekedar suatu pertanyaan ini adalah satu keadaan pikiran. Dia menuntut untuk meneliti kembali hubungan seseorang dengan Tuhan dan satu pengertian yang dalam mengenai tema pertentangan besar. Tentulah pertanyaan yang sama telah menghantui Ayub, Yohanes Pembaptis, dan orang-orang percaya yang lain. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah (Ibr. 12:2). ( zoe )

Refleksi : Kelemahlembutan memberikan kekuatan kepada orang-orang percaya ketika menghadapi penderitaan maupun masalah dan tantangan. Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka yang mengandalkan Allah dengan sepenuh hati.






















LEMAH LEMBUT ADALAH BAIK
Minggu, 18 Mei 2008
Matius 5:5
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi

Beberapa tahun yang lalu, satu produsen alat-alat olah raga menjual sebuah T-shirt dengan tulisan, ” Orang yang lemah lembut boleh mewarisi bumi, tetapi mereka tidak akan mendapat bola. ” Konsep kelemahlembutan tampaknya begitu tidak biasa di dalam masyarakat kita yang kompetitif, dan menggambarkan seseorang sebagai lemah lembut jarang akan dianggap sebagai satu pujian. Tetapi Yesus secara terus menerus mengabarkan dan mendemonstrasikan satu cara yang berbeda untuk mengukur kehidupan dan menilai sukses. Dalam Kerajaan Allah, mungkin ” mendapat bola ” tidaklah begitu penting. Yesus sedang berbicara tentang satu jenis kekuatan yang berbeda satu kekuatan yang terkandung dalam kerendahan hati.
Mari kita menjadi orang yang lemah lembut, mungkin bisa kita tularkan kepada banyak orang melalui kegiatan-kegiatan yang ada :
- Membuat satu karya seni lukisan, gambar, kolase, patung untuk mengekspresikan atau menggambarkan kelemahlembutan.
- Menonton sebagian atau seluruh film Forrest Gump. Diskusikan bagaimana baiknya film ini bisa menggambarkan kelemahlembutan.
- Membaca novel Rusia The Idiot oleh Fyodor Dostoyevsky. Libatkan diri dalam satu diskusi, seperti dalam satu kelompok pembaca buku, dengan tema mengenai penggambaran kelemahlembutan ini.
- Berpartisipasi dalam atau mengorganisasi satu upacara mencuci kaki dalam konteks satu perjamuan kudus, dengan fokus secara khusus pada Yohanes 13:1-17.
- Mengorganisasi satu pertandingan olah raga olah raga apapun yang populer di daerahmu di mana tujuannya adalah untuk menolong tim lawan untuk menang. Selidiki sebagai satu kelompok apakah ada satu cara sehingga olah raga ini bisa berhasil, atau peraturannya bisa diganti, supaya menjadi masuk akal.
- Menulis surat kepada seseorang, memberitahukan bahwa engkau mengagumi kelemahlembutan mereka. Jelaskan dalam suratmu itu bahwa memiliki maksud yang terbaik, dan ingatkan mereka mengenai ucapan berkat dalam Matius 5:5.
Masih banyak lagi kegiatan yang bisa kita wujudkan untuk melatih kelemahlembutan, menarik orang lain juga untuk mewujudkan kelemahlembutan dalam kehidupan nyata. ( zoe )

Refleksi : Buatlah kegiatan-kegiatan dan acara yang berhubungan dengan pengembangan tema kelemahlembutan untuk selama satu bulan.






















MUSA
Senin, 19 Mei 2008
Bible Background

Untuk menyelamatkan putranya yang baru lahir dari maklumat Firaun – yang memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki Ibrani – sang ibu memasukkan bayinya – Musa – kedalam suatu peti pandan, yang dipakalnya dengan gala-gala dan ter. Peti itu disembunyikan di tengah-tengah teberau di tepian sungai, dan disuruh dijagai oleh putrinya yaitu Miryam. Tidak lama kemudian datang putri Firaun dan dayang-dayangnya hendak mandi di sungai. Putri Firaun melihat anak itu, kasihan dan mengambilnya. Dengan hati-hati Miryam muncul dan mengusulkan untuk mencari inang penyusu bayi itu (yang sebenarnya adalah ibu bayi itu), dan dengan demikian selamatlah jiwa bayi Musa. Sesudah disapih, Musa diserahkan kepada ' ibu ' angkatnya, yaitu putri Mesir itu (Keluaran 2:1-10). Mengenai pertumbuhan Musa menjelang dewasa di Istana Mesir, tidak disajikan dengan keterangan terperinci. Tapi seorang anak seperti Musa di lingkungan istana pada zaman kerajaan Mesir Baru, pasti mendapat didikan dasar yang hakiki dalam 'segala hikmat orang Mesir', Demikian Stefanus (Kisah 7:22).
Pada zaman itu dan sebelumnya, anak-anak dari selir-selir penghuni harim dididik oleh pengawas harim (guru dari anak-anak raja). Bila tiba waktunya, bagi anak-anak raja, ditugaskan seorang pengajar, biasanya petinggi istana atau pensiunan perwira militer, yang dekat dengan raja. Dan pasti Musa diperlakukan demikian. Kurikulum pendidikan Mesir meliputi membaca dan menulis tulisan hieroglif dan tulisan kudus, manyalin naskah-naskah (khususnya sastra kuno), kaidah menulis surat dan tata administrasi. Anak-anak Firaun juga dilatih memanah dan keterampilan jasmani lainnya. Anak-anak Firaun mendapat bermacam-macam pekerjaan; diangkatan bersenjata, mengawasi proyek-proyek raksasa, melaksanakan jabatan imam besar di kuil-kuil utama propinsi, atau bahkan pengurus tanah milik istana atau milik kuil. Lagipula, sebagai keturunan Sem yang tinggal di Mesir, tak mungkin Musa mendapat kesukaran dalam mempelajari dan menggunakan ke-20 huruf atau lebih. Abjad linear Kanaan (bukan berupa gambar seperti hieoglif), mengingat ia tentu saja lebih dahulu menjalani pendidikan dalam jurusan yang lebih ketat, yaitu mempelajari tumpukan huruf dan kelumpok tanda-tanda dari tulisan Mesir (walaupun ini hanya menuntut latihan, bukan kejeniusan untuk mempelajarinya). Kenyataan bahwa tempat tinggal Musa adalah di Mesir, bukan palestina, tidak menjadi penghalang baginya untuk menguasai tulisan linear yang begitu sederhana. Gambaran di ataslah yang melatarbelakangi awal kehidupan Musa. Gambaran ini menjadi bukti bahwa Musa mendapat pendidikan, sastra dan administrasi Mesir.
Musa sangat prihatin dengan nasib saudara-saudaranya sebangsa yang kerja paksa. Ia membunuh seorang mandor Mesir yang dia lihat memukuli seorang Ibrani. Tindakan ini sampai kepda Firaun. Karena itu Musa lari ke arah timur menyeberangi perbatasan menuju Midian demi keselamatannya. Di sana Musa menolong gadis-gadis gembala putri dari seorang Midian, imam, bernama Rehuel atau Yitro. Kemudian Musa menikah dengan Zipora dan memberikannya dua anak yaitu Gersom dan Eliezer. Allah telah mempersiapkan Musa dengan segala kemampuan orang Mesir dan ditempa bertahun-tahun sekaranglah waktunya Tuhan memanggil Musa untuk melakukan tugas yang telah dipersiapkan oleh Allah baginya. Setelah perjumpaannya dengan kakaknya Harun dan dengan tua-tua Israel maka mulailah misi Musa dilakukan. Ia membuat orang Mesir begitu menderita karena kekerasan hati Firaun. Sampai akhirnya Firaun melepaskan kepergian orang Israel ke tanah perjanjian.
Kitab Ulangan menceritakan kisah kematian Musa yang sangat mengagumkan. Dimana ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepada Musa untuk melihat tanah perjanjian dari atas gunung Nebo. Di sanalah Musa mengakhiri hidupnya sebagai salah satu orang yang disebut ” Hamba Tuhan ” pada umur yang ke-120 tahun. ( zoe )








SIKAP ORANG SUKSES
Selasa, 20 Mei 2008
Efesus 4:2
Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar ...

Pernah melihat seseorang dengan sikap yang sangat berpengaruh ? Saat mereka masuk ruangan, suasana berubah. Dengarkanlah orang-orang ini berbicara di telepon. Perhatikanlah keanggunan mereka saat berhadapan dengan orang-orang bermasalah. Amati cara mereka berdiri, duduk, dan sedikit membungkuk ke depan saat mereka mendengarkan Anda, sambil mengangguk setuju. Mereka duduk lebih tegak, dan senyuman mereka lebih tulus. Perhatikanlah, ada sesuatu yang berbeda dengan bahasa tubuh mereka.
Sikap kita dalah hasil pekerjaan Yesus Kristus dalam kehidupan kita, dari waktu ke waktu, dan kepatuhan kita pada petunjuk-Nya. Masa depan kita cerah jika sikap kita benar, dan sikap tersebut membuat masa sekarang lebih menyenangkan. Sikap bukan perasaan, bukan juga hasil dari suatu kejadian, baik atau buruk. Namun sikap kita adalah keputusan. Sikap baru tidak terbentuk dengan sendirinya, tapi harus dibangun. Buatlah keputusan hari ini untuk berubah jika Anda merasa belum memiliki sikap yang baik. Dunia membenci perubahan, tapi itu yang menyebabkan kemajuan.
Sikap yang baik menyebabkan Tuhan leluasa untuk melakukan kehendak-Nya, adalah permulaan dari prestasi yang luar biasa. Bentuklah sikap yang lemah lembut dan lihatlah pintu menuju ke tempat orang-orang sukses berada terbuka lebar di hadapan Anda. Ingatlah bahwa orang dengan hati lembutlah yang mudah untuk dibentuk, diarahkan dan dipakai oleh Allah dan disukai oleh manusia. ( zoe )

Refleksi : Raihlah masa depan yang cerah dengan sikap hati yang benar, miliki hati yang lembut, rendah hati serta sabar. Karena akan banyak pintu yang terbuka untuk Anda.




































APA ITU KELEMAHLEMBUTAN ?
Rabu, 21 Mei 2008
Yakobus 1: 19-21
Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Ucapan yang disampaikan oleh rasul Yakobus ini bukan ditujukan kepada orang non-Kristen. Yakobus memperingatkan orang Kristen mengenai hal bagaimana untuk bisa diselamatkan di dalam ayat 21. Harap Anda perhatikan ayat 21 itu. Rasul Yakobus sampai harus mengingatkan jemaat untuk selalu menerima firman yang ditanamkan, karena firman ini menyelamatkan kita. Firman dari Tuhan bisa menyelamatkan kita - inilah hal yang telah kita ketahui. Akan tetapi, yang menjadi persoalan bukan apakah kita mengetahuinya, melainkan apakah kita menerima Firman Allah itu atau tidak. Karena sekadar mengetahui saja tidaklah cukup, pokok yang penting adalah bahwa kita harus menerima firman yang Tuhan tanamkan di dalam hati kita, dan dengan demikian kita diselamatkan. Perhatikan bahwa Yakobus tidak sekadar berkata, "Terimalah Firman Allah," tetapi dia berkata, "Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu." Apa itu lemah lembut?
Mungkin sebagian orang Kristen tidak mengerti apa itu lemah lembut. Mereka mengira bahwa lemah lembut itu berarti sopan santun. Sebenarnya, kelemah-lembutan dan sopan santun (atau keramahan) di dalam Alkitab itu berbeda. Kelemah-lembutan di dalam Alkitab tidak berkaitan dengan kesopanan. Saat rasul Yakobus berkata, "Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu," janganlah mengira bahwa bahwa dia sedang menyuruh kita untuk bersikap sopan kepada pendeta di gereja dan berusaha untuk tidak menyinggung hati mereka. Bukan itu maksud Yakobus. Lalu apakah arti dari kalimat, "Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu." itu?
Saya teringat dulu ketika saya mendengarkan khotbah seorang pendeta. Setelah kebaktian, seseorang menanyakan pendapat saya tentang khotbah tersebut. Pada saat itu, saya menjawab, "Sangat bagus," karena yang saya pikirkan adalah bahwa pendeta itu telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, entah dalam hal isi khotbahnya, cara penyampaiannya, ataupun dalam hal susunan pokok-pokok isi khotbahnya. Dia menyampaikan khotbahnya dengan sangat jelas sehingga semua yang mendengarkan bisa memahami [apa yang dia sampaikan itu]. Sejujurnya, saya menilai pendeta tersebut telah berkhotbah dengan sangat baik. Ketika saya pulang, saya merasa bahwa Tuhan sedang menanyakan saya, "Mengapa kamu katakan bahwa khotbah tersebut sangat bagus?" Pada saat itu, saya memang benar-benar menganggap bahwa khotbah tersebut memang sangat bagus. Satu pertanyaan muncul di dalam hati saya, "Mengapa saya menganggap bahwa khotbah tersebut sangat bagus?" Saat itu, saya tidak sedang menyanjung pendeta yang berkhotbah; penilaian saya memang tulus. Namun, perlahan-lahan, saya mulai menyadari mengapa Tuhan mengajukan pertanyaan itu kepada saya. Saya menilai bagus khotbah tersebut karena saya menerima khotbah tersebut di permukaannya saja. Saya tidak memasukkan khotbah tersebut ke dalam hati saya dan tidak mengijinkan Allah untuk mengubah hidup saya melalui isi khotbah tersebut.
Sejak saat itu, saya menyadari bahwa menerima Firman Tuhan dengan lemah lembut itu sangatlah penting. Hanya jika kita menerima Firman Tuhan dengan lemah lembut barulah firman-Nya bisa memberi dampak perubahan di dalam hati kita. Di sisi lain, tidak akan ada manfaatnya jika kita sekadar menerima Firman Allah dengan akal pikiran kita saja. Alasannya adalah jika Firman Allah itu tidak masuk ke dalam batin kita, maka firman tersebut tidak akan memberi dampak keselamatan. Itulah sebabnya mengapa di dalam ayat 21, Yakobus mengingatkan kita untuk menerima Firman Allah yang telah ditanamkan itu dengan lemah lembut. Jika Anda tidak menerima benih (yaitu Firman-Nya) yang telah ditabur oleh Allah di dalam hati Anda dengan lemah lembut, maka Anda akan kehilangan firman yang mampu menyelamatkan jiwa Anda. ( zoe )

Refleksi : Menerima firman Tuhan dengan lemah lembut seperti sebuah tanah gembur yang siap ditaburi oleh benih. Setiap benih yang jatuh itu tumbuh, menghasilkan buah yang berlipat kali ganda.



"SAYA DIBENARKAN!"
Father’s Heart
Kamis, 22 Mei 2008
Kisah para rasul 13:39
Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa

Pada suatu hari seorang guru agama dan penginjil yang bernama R.A Torrey berbicara kepada seorang wanita yang tidak yakin bahwa dosa-dosanya telah diampuni. Ia meminta wanita itu untuk membaca dengan keras Kisah 13:39, "Di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa."
Kemudian Torrey bertanya, "Siapakah yang sudah dibenarkan
oleh Allah?"
"Setiap orang yang percaya," jawab wanita itu.
"Percaya kepada siapa," tanya Torrey.
"Percaya kepada Kristus," jawabnya.
"Apakah Anda telah menerima Dia sebagai Juruselamat dan
Tuhan?" tanya Torrey
"Ya," jawab wanita itu.
"Lalu, apa yang dijanjikan oleh ayat ini?" tanya Torrey.
Wanita yang ragu-ragu ini tidak dapat berkata, "Saya dibenarkan dari segala dosa." Torrey membaca ayat ini berkali-kali. Akhirnya ayat ini menjadi jelas baginya. "Puji Tuhan!" teriak wanita itu. "Saya memperoleh pembenaran dari dosa-dosa saya!" Akhirnya ia mengalami damai yang disebabkan oleh pengampunan yang sempurna.
Usaha sendiri, upacara-upacara keagamaan atau doa tidak dapat menghilangkan dosa. Namun ketika kita percaya kepada Kristus atas keselamatan kita, kita dibenarkan oleh Allah. Dan ketika kita bebas dari beban rasa bersalah dan mengalami pembenaran yang total, kita akan mengalami damai yang sesungguhnya ( HGB ).

Refleksi : Pembenaran : kesalahan kita hilang, kebaikan Kristus diberikan.































So Others May Live
Friday, May 23, 2008
Romans 9:1-5
I could wish that I myself were accursed from Christ for my brethren, my countrymen according to the flesh.
In the film The Guardian, the viewer is taken into the world of United States Coast Guard rescue swimmers. Eighteen weeks of intense training prepares these courageous men and women for the task of jumping from helicopters to rescue those in danger at sea. The challenges they face include hypothermia and death by drowning. Why would people risk so much for strangers? The answer is found in the rescue swimmer’s motto, “So Others May Live.”
In Foxe’s Book of Martyrs, we read of a different kind of rescue that demanded extreme commitment and sacrifice. John Foxe records the stories of believers who suffered and died be-cause they proclaimed the love of Jesus. Knowing it could cost them their lives, these believers made the Savior known to a world in desperate need of Him.
The apostle Paul, himself a martyr for Christ, expressed his passion for the hearts of people this way, “I could wish that I myself were accursed from Christ for my brethren, my countrymen according to the flesh” (Rom. 9:3). Paul so longed for his fellow Jews to come to Christ that he was willing to sacrifice all, “so others may live.”
May we likewise embrace this passion for the eternal souls of men and women. — Bill Crowder
Rescue the perishing, duty demands it—
Strength for thy labor the Lord will provide;
Back to the narrow way patiently win them,
Tell the poor wanderer a Savior has died. —Crosby





























TERJEBAK !
Sabtu, 24 Mei 2008
Matius 11:25-30
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati

Seorang pria New York penjual buku dan majalah di jalanan dikeluarkan dari bawah tumpukan kertas di apartemennya setelah dua hari terjebak di sana. Koleksi surat kabar tua milik pria itu, yang ditumpuk di sepanjang dinding dan dari lantai hingga langit-langit, ambruk serta menguburnya hidup-hidup. Para petugas gawat darurat mengisi tumpukan kertas itu ke dalam 50 kantung plastik saat mereka menggali reruntuhan itu untuk menggapainya.
Kita tak memerlukan tumpukan surat kabar tua setinggi Gunung Everest untuk mengetahui bagaimana rasanya terjebak di bawah desakan pekerjaan kita dan tuntutan kerohanian. Namun, pandangan sekilas pada Juruselamat kita akan mengungkapkan ketenangan yang dalam pada diri-Nya. Dalam buku Tyranny of the Urgent, Charles E. Hummel menulis: "Penantian dalam doa yang dilakukan Yesus untuk menantikan petunjuk dari Allah ... memberi-Nya pengertian akan arah, mempersiapkan langkah yang mantap, dan membuat Dia sanggup melakukan setiap tugas yang diberikan Allah."
Yesus mengundang orang yang letih lesu untuk datang kepada-Nya. "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Matius 11:29). Ketenangan yang datang bersama dengan keselamatan tidak dapat dicapai dengan usaha, namun harus diterima dengan iman. Di dalam Kristus kita juga dapat terlepas dari tirani urgensi yang membelenggu dan menyelesaikan semua tugas yang diberikan-Nya untuk dikerjakan ( DCM ).

Refleksi : Mengikut Yesus akan menghilangkan kesibukan dari kehidupan.


































HATI SEORANG HAMBA
Minggu, 25 Mei 2008
2 Timotius 2:19-26
.... dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran ....

George Washington Carver adalah seorang ilmuwan Afrika-Amerika yang mengembangkan sejumlah produk dari kacang tanah. Dr. Carver juga adalah seorang hamba Allah yang rendah hati, yang memakai setiap kesempatan untuk berbicara kepada orang lain tentang Juru Selamat yang ia kasihi dan layani.
Pada tahun 1920-an, para anggota YMCA dan Komisi Kerjasama Antarras meminta Carver untuk berbicara secara resmi di hadapan para mahasiswa kulit putih di perguruan tinggi dan universitas di daerah Selatan. Carver berbicara tentang keajaiban-keajaiban dunia yang natural dan Allah Maha Pengasih yang menciptakan bumi serta semua orang.
Carver menyatakan bahwa tujuan dari pertemuan-pertemuan ini adalah ia ingin para mahasiswa itu menemukan Yesus dan menjadikan-Nya bagian dari hidup mereka setiap hari, setiap jam, dan waktu demi waktu. "Saya ingin mereka melihat Sang Pencipta melalui benda-benda yang paling kecil dan tampak paling tidak berarti di sekitar mereka."
Dr. Carver berusaha mengikuti perkataan Paulus kepada seorang pendeta muda: "... sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus pandai mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran" (2 Timotius 2:24,25). Pendekatan itu menekankan kuasa Injil dan daya tarik yang memenangkan orang dari hati seorang hamba. Marilah kita mengikuti teladan Carver ( DCM ).

Refleksi : Bersaksi bukan sekadar pekerjaan yang harus dilakukan melainkan suatu kehidupan yang harus dijalani oleh orang percaya.
































YOSUA BIN NUN
Bible Background
Senin, 26 Mei 2008

Yosua bin Nun, demikian nama lengkapnya, dilahirkan di Mesir dari keturunan Yusuf, keluarga Efraim. Ayah dan Ibu Yosua adalah salah satu budak di antara budak-budak bangsa Israel, yang menjadi korban dari pemerintahan baru raja Firaun yang tidak mengenal Yusuf (Kej.1:8). Artinya sudah sejak kecil Yosua menyaksikan ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya bahkan seluruh bangsanya sebagai budak bangsa Mesir. Sudah dapat dipastikan, semua ingatan masa kecil Yosua bukanlah kenangan yang menyenangkan. Sebagai seorang Ibrani muda, sering kali hidupnya terancam bahaya. Yosua pasti selalu mengingat suatu peristiwa yang hampir merengut hidupnya. Peristiwa itu adalah ketika Allah mengirimkan sepuluh tulah, dimana tulah yang terakhir adalah kematian seluruh anak sulung di wilayah bangsa Mesir, termasuk anak sulung bangsa Mesir, bangsa Israel dan anak sulung hewan. Yosua adalah anak sulung dalam keluarga-nya (1Taw.7:27). Tidak seorang anak sulung pun dari bangsa Israel, termasuk Yosua dapat melupakan malam bersejarah tersebut. Rintihan, tangisan dan jeritan menyayat dari bangsa Mesir memenuhi udara malam itu karena anak sulung telah menjadi korban.
Nama asli dari Yosua sejak lahir adalah Hosea (atau Osea, baca Bilangan 13:8) tetapi kemudian Musa mengganti namanya menjadi Yosua (Bilangan 13:16). Mengapa harus diubah ? Alasannya adalah karena nama itu sesuai dengan persiapan yang harus dia alami yang telah diberikan oleh Tuhan. Hosea berarti : “keselamatan”, namun Yosua berarti ”Tuhan adalah keselamatan”. Allah mengubah nama Yosua untuk menunjukkan bahwa hanya dari Allah sajalah keselamatan itu datang. Memang benar bahwa Yosua adalah alat yang digunakan Tuhan untuk membawa bangsa Israel ke Tanah Perjanjian, karena itu ia juga menjadi alat Allah untuk membawa keselamatan bagi umat-Nya. Namun satu hal, Yosua harus diubahkan dalam pola pikir sebagai “budak”, mentalitas sebagai “budak” yang telah terbentuk selama bertahun-tahun di Mesir. Mengapa pola pikir (= mind set) yang harus diubah ? Karena pola pikir seorang budak akan menentukan masa depannya. Bila pola pikir Yosua tetap dengan pola pikir seorang budak, maka ia akan bertumbuh menjadi orang yang merasa dirinya tidak berharga, tidak bernilai dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Hal ini lah yang harus kita ingat. Di dalam Galatia 4:7, berkata “Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” Setelah kematian Musa, Yosua menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Ia harus menjadi pengganti Musa (Yos.1:1-6). Bisa kita rasakan, bagaimana perasaan Yosua saat itu. Pasti ia diselimuti oleh rasa kuatir dan takut. Bagaimana kalau bangsa Israel tidak menerima-nya sebagai pengganti Musa ? Bagaimana bila ia gagal sebagai pemimpin ? Bagaimana bila ia gagal berperan sebagai pengganti Musa ?
Musa berhasil menumbuhkan perasaan percaya diri yang kuat dalam diri Yosua sebagai pembantu mudanya ini. Hal ini dapat kita lihat dari setiap rangkaian pengalaman yang Yosua alami selama perjalanannya di padang gurun bersama Musa, yaitu :
a. Perang melawan suku Amalek
Ketika suku Amalek menyerang bangsa Israel di Rafirim, tempat di mana Musa mengeluarkan air dari batu (Kel.17:8-16).
b. Pengalaman di puncak gunung Sinai
Saat pertama Allah berbicara kepada bangsa Israel adalah saat mereka sedang berkemah di depan gunung Sinai (Kel.24;13-18). Tempat di mana Allah menuliskan Hukum Taurat dan memberikannya kepada bangsa Israel melalui Musa. Hal yang menarik di sini adalah Musa mengajak Yosua ikut serta dengannya (Kel.24:12,13), sedangkan para tua-tua bangsa Israel tidak diperbolehkan ikut serta
c. Pengalaman sebagai mata-mata
Ujian terbesar bagi Yosua dalam mempersiapkan diri sebagai pemimpin bangsa Israel adalah ketika ia diutus sebagai mata-mata ke tanah Kanaan (Bil.13:1-14:10). Pada waktu ke dua belas mata-mata itu kembali dari pengintaian mereka, hanya Yosua dan Kaleb yang memiliki pandangan positif tentang tanah Kanaan seperti yang telah dijanjikan Tuhan. (zoe)





OLAHRAGA DAN BUAH ROH
Selasa, 27 Mei 2008
Efesus 4:2
Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah
kasihmu dengan saling membantu.

Pada 2 Mei 2003, sekolah putri saya, Melissa, memberikan penghargaan yang besar dengan mempersembahkan lapangan atletik baru di sekolah itu untuk mengenang Melissa. Pada upacara untuk menandai pembukaan Melissa Branon Memorial Softball Field, sekolah itu membuka selubung batu peresmian untuk mengingatkan generasi selanjutnya akan seorang gadis yang mengenakan kaus bernomor 11. Pada batu peresmian itu tertulis: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu" (Efesus 4:2) sebuah ayat yang telah Melissa tandai di Alkitabnya.
Betapa seringnya dalam hidup ini kerendahan hati dan kelemahlembutan tidak lagi dimiliki. Sebaliknya, kesombongan dan kekasaran menandai ukuran kesuksesan. Namun, Melissa dan teman-temannya dapat bertanding dengan sukses dalam olahraga atletik tingkat sekolah menengah tanpa menunjukkan sifat-sifat tadi. Salah seorang teman satu tim Melissa menulis tentang Melissa: "Sikapmu yang pantang mundur, maju terus, dan pantang menyerah benar-benar membangkitkan semangatku." Itulah cara Melissa dan teman satu timnya bertanding demi kemuliaan Allah, yaitu tanpa kesombongan.
Persaingan yang dikendalikan dengan benar dapat berlangsung dengan baik dalam kehidupan kita. Akan tetapi, kita harus senantiasa ingat untuk tetap rendah hati dan lemah lembut dalam segala hal yang kita lakukan. Kita harus mencerminkan karakteristik kehidupan yang serupa dengan Kristus -JDB

Refleksi : Milikilah hati yang penuh dengan karunia roh, baik kelemahlembutan, kerendahan hati, kesabaran maka kita akan memuliakan Allah.




































KECIL TAPI BERARTI BESAR
Rabu, 28 Mei 2008
Yakobus 3:13-18
Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut … tidak memihak dan tidak munafik

Para ilmuwan telah sepakat bahwa keling yang cacat merupakan penyebab tenggelamnya kapal Titanic yang “tak dapat tenggelam” itu. Menurut para peneliti yang baru-baru ini menyelidiki bagian-bagian kapal yang berhasil dikumpulkan dari puing-puing Titanic, keling kapal yang terbuat dari besi tempa, bukannya baja, menyebabkan badan kapal terbuka seperti resleting. Nasib Titanic membuktikan bahwa menghabiskan uang untuk peralatan mewah dan promosi publik, tetapi mengabaikan bagian-bagian yang “kecil” adalah tindakan bodoh.
Dalam beberapa hal, kita hampir sama seperti kapal, dan banyak orang di antara kita bertindak sebagai keling kapal. Meskipun keling sepertinya tidak penting, merekalah yang menyatukan bagian-bagian kapal dan menjaganya agar tetap mengapung. Banyak orang mengabaikan hal-hal yang kelihatan kecil, bahkan perasaan itu juga menyerang orang-orang kristiani. Yakobus berkata, “Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (3:16). Orang-orang yang terkorupsi oleh keinginan duniawi akan kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan dapat meruntuhkan persekutuan antar orang percaya, tetapi orang-orang yang murni dan tak bercacat (1:27) yang menyatukan setiap orang percaya.
Sebagai anggota tubuh Kristus, kita harus menjadi “keling-keling” yang tak bercacat. Jika kita murni, suka damai, lemah lembut, kita akan dipakai Tuhan untuk menjaga kapal-Nya agar tetap mengapung di tengah krisis. ( JAL )

Refleksi : Marilah kita menjadi perekat diantara orang beriman. Kemurnian hati serta kelemahlembutan akan menjadi pereka yang baik.



































MENUJU KESEMPURNAAN
Father’s Heart
Kamis, 29 Mei 2008
1Petrus 1:13-19
Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti
Dia yang kudus

Setiap kali kami pergi ke tempat rekreasi kesukaan kami sekeluarga, kami selalu melewati sebuah rumah di sisi jalan yang selalu menarik perhatian kami. Setiap kali kami melewati rumah itu, kami berkata, "Alangkah sempurnanya rumah itu".
Kami menyebut rumah itu rumah yang sempurna karena menurut pendapat kami, rumah itu terlihat tidak bercacat. Rerumputan terlihat bagaikan permadani. Pagar tanaman dipangkas rapi. Jendela-jendela terlihat mengkilap. Tidak ada satu bagian pun yang terlihat kotor atau tidak pada tempatnya.
Ketika kami melewati rumah itu, kami biasanya mendapatkan jawaban mengapa rumah itu kelihatan rapi. Pemilik rumah selalu berada di luar, sedang bekerja merapikan rumah mereka. Dengan membawa ember dan penggaruk di tangan, mereka tampaknya bertekad memerangi kotoran, kebusukan, dan tumbuhan yang tidak diinginkan agar rumah mereka tampak indah.
Sebagai pemilik rumah yang mengetahui betapa sukarnya membuat segalanya teratur dan baik, saya menghargai usaha pasangan ini. Namun bagi saya, mereka juga menjadi lambang sesuatu yang lain. Dalam Injil, Allah berkata, "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (1Petrus 1:16). Ini berarti kita harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Seperti pemilik rumah di atas, kita tidak akan dapat mencapai kesempurnaan. Meskipun demikian, kita harus tetap bertahan -- membersihkan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, "memangkas" pikiran-pikiran yang mengganggu. Hal ini membutuhkan usaha yang terus menerus, tetapi dengan pertolongan Roh Kudus, kita harus terus melanjutkan perjalanan menuju ke kesempurnaan ( JDB ).

Refleksi : Anak-anak Allah harus bertumbuh menjadi serupa dengan anak Allah.

































A Fragile Lamb
Friday, May 30, 2008
Isaiah 53:3
He was wounded for our transgressions, He was bruised for our iniquities.
After the Easter eggs were located and the Easter baskets had been opened, Uncle Jay felt compelled to find out whether the white chocolate lamb was hollow or solid. Without thinking of the potential consequences, he squeezed the lamb. Suddenly Jay’s whole body stiffened, as if he’d ingested some paralyzing poison. Finally his eyes moved to see if anyone had witnessed the deed. His thumb, however, remained stuck in the side of the lamb.
We waited for the reaction. A wail. A howl. A cry of anguish over the crushed chocolate candy. As the adults in the room scrambled for words that would soothe the sorrow of 3-year-old Jenna, she calmly spoke words that soothed us. “That’s okay, Uncle Jay. The lamb would have been broken when I ate him anyway.”
While we adults tried to make sacred memories out of Easter traditions, a 3-year-old made a sacred moment for us. She reminded us that Easter is about the perfect Lamb of God, broken so that we can be whole. Her youthful wisdom reminds me of the words we recall at communion: “This is My body which is broken for you.” May we taste and see that the life He offers is sweeter than anything we concoct for ourselves. — Julie Ackerman Link
See, from His head, His hands, His feet,
Sorrow and love flow mingled down;
Did e’er such love and sorrow meet
Or thorns compose so rich a crown? —Watts



































KATA-KATA PEDAS
Sabtu, 31 Mei 2008
Amsal 16:27
Orang yang tidak berguna menggali lobang kejahatan, dan pada bibirnya seolah-olah ada api yang menghanguskan

Beberapa tindak kriminal terjadi karena perbuatan bodoh, misalnya dengan sengaja membakar rumah sendiri. Pada akhir tahun 1993, sebagian wilayah California Selatan diselimuti asap hitam karena terjadi kebakaran besar yang disebabkan oleh orang yang membakar rumahnya sendiri. Tanah berhutan musnah, puluhan rumah hangus terbakar, binatang dan manusia kehilangan tempat tinggal.
Fitnah juga merupakan tindakan yang menghanguskan. Bersaksi dusta tentang sifat atau perbuatan seseorang merupakan perbuatan yang sangat tidak terpuji. Fitnah menghancurkan reputasi dan merusak suatu hubungan. Dalam dramanya yang berjudul, Othello, Shakespeare menggambarkan betapa berbahayanya fitnah melalui tokoh Iago, yakni: _Barangsiapa mencuri dompet saya berarti mencuri sampah; itu adalah sesuatu yang tidak berarti. Dulu milikku, tetapi sekarang jadi miliknya dan telah memperbudak ia. Namun, barangsiapa mencuri nama baik saya berarti merampok saya. Perbuatan ini tidak bisa membuat ia kaya, malahan membuat saya miskin._
Raja Salomo mengingatkan bahwa bibir seorang penghasut mengandung bisa "seolah-olah ada api yang menghanguskan" Amsal 16:27. Sebaliknya, secara mencolok ia mengatakan bahwa perkataan yang menyenangkan adalah perkataan yang berhikmat, menyejukkan dan membangun kehidupan rohani yang sehat ( Amsal 16:21-24).
Saat Anda tergoda untuk menjatuhkan reputasi sesama dengan kata-kata yang pedas, segeralah berdiam diri! Mintalah kepada Allah agar Dia menolong dan memberi Anda kemampuan untuk berbicara dengan kata-kata yang membangun, bukannya malah menghancurkan. Janganlah menjadi seorang penghasut ( HWR ).

Refleksi : Orang yang penuh dengan kelemahlembutan tidak akan mengeluarkan kata-kata yang kasar ataupun menyinggung perasaan orang lain. Jadilah penghibur di dalam kesesakan bukan perusuh, jadilah penyambung lidah yang benar bukan pemfitnah.